Lihat ke Halaman Asli

Cerpen | Dimorfik

Diperbarui: 20 Desember 2018   21:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: Pixabay

Di usia 8 tahun, aku tidak benar-benar paham alasan Ayah pergi dan tidak kembali hingga lama sekali.

Sempat kukira, Ayah kesal karena aku kedapatan mengerjai guru di sekolah. Tapi, di usia 21 tahun, aku telah tuntas membaca kisah keluarga kami pada tangisan Ibu yang sering kali lupa berhenti.

Biarlah, oang-orang mencap aku sebagai generasi tanpa ayah. Kata Ibu, kami ikhlas saja. Ayah direbut oleh gelandangan yang mencari laki-laki mapan untuk membiayai kuliahnya.

"Sudah, tidak apa-apa. Anggap saja kita menyedekahkan Ayah untuk kaum duafa," Ibu berkata hambar sembari mengiris bawang merah. Aku tidak yakin air matanya berasal dari mana.

Rasanya, kami sama-sama masih gamang. Tidak pernah paham mana rindu, cemburu, kecewa, atau cinta.

Karena hubungan bagiku, tidak lebih dari permainan orang-orang yang menyangka bahwa mereka sudah dewasa. Mengusir kesepian, mengisi waktu luang, dan bertaruh dengan rayuan.

Sungguh suram, setiap kali berpacaran, aku hanya punya satu pertanyaan: Bagaimana cara kami berpisah di ujung kisah yang sudah lelah?

Tring!

Terdengar notifikasi dari aplikasi kencan buta yang aku instal bulan lalu. Pesan dari Randi. Seorang laki-laki asal Bogor yang dua minggu lalu mengaku jatuh cinta pada profilku.

Ah, naif, tentu saja. Kejujuran macam apa yang bisa diharapkan dari sebuah wadah kencan buta? Nama palsu, profil palsu, foto palsu.

Kamu tidak akan menemukan apa-apa selain yang kamu cari. Seperti lolongan serigala yang bersahutan, juga suara infrasonik yang tidak terdengar oleh telinga manusia. Pada akhirnya, hiu memanggil hiu, kelelawar memanggil kelelawar.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline