Lihat ke Halaman Asli

Mutia AH

Penikmat Fiksi

Segala Kenangan tentang Perpustakaan Sekolah

Diperbarui: 28 Mei 2022   13:31

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

pixabay.com

Sebuah keberuntungan besar jika bersekolah di sekolahan yang mempunyai perpustakaan. Hal itu yang saya rasakan semasa sekolah SD, SMP dan SMA.

Meskipun saya bersekolah di sebuah SDN terpencil di desa. Bahkan sekarang  sekolahan itu sudah tidak ada karena bangkrut dan tidak memiliki murid. Namun rasa beruntung itu masih tetap ada. Sebab dari sana banyak hal yang didapatkan selain ilmu, salah satunya adalah kenangan tentang perpustakaan.

Menghabiskan waktu di perpustakaan selama istirahat telah menjadi rutinitas setiap hari sejak kelas lima. Karena perpustakaan baru ada ketika saya kelas lima. Meskipun senang dengan kebebasan meminjam buku di sana tetapi ada hal yang disesalkan hingga sekarang.

Yaitu tidak adanya penjaga perpustakaan sehingga pada akhir kelulusan buku-buku di sana banyak yang rusak dan hilang. Ketika adik saya yang terpaut lima tahun lebih muda sekolah di sana, perpustakaan itu sudah tidak ada lagi. Saya yakin hal ini karena kurangnya penjagaan dan perawatan. Sangat disayangkan sekali bukan?

Ketika masuk sekolah lanjutan pertama, saya sekolah di Madrasah Tsanawiyah Negeri yang membuat keberuntungan kembali dirasakan. Karena di sana juga terdapat fasilitas perpustakaan. Meskipun tidak sebesar waktu di SD bahkan kami (siswa-siswi) tidak melihat langsung seberapa banyak buku dan ragam buku yang dimiliki. 

Setidaknya kami bisa meminjam buku-buku pelajaran tanpa harus membeli. Karena sistim pinjam buku, cukup dengan menyebutkan buku  yang hendak dipinjam dari depan pintu ruang guru. Kemudian guru piket/penjaga perpus, akan mengambilkan. Entah waktu itu ada atau tidaknya buku cerita, saya tidak pernah mengetahuinya sama sekali.

Berbeda dengan SD dan MTs, perpustakaan di MAN tempat saya menempuh pendidikan lanjutan lebih besar dan teratur. Jumlah buku yang dimiliki lebih banyak dan variatif. Bukan hanya buku-buku pelajaran, buku-buku fiksi, ilmu pengetahuan lain pun dimiliki. Seingat saya ada lima lebih rak buku bertingkat dalam perpustakaan terisi penuh. 

Ruang buku dan ruang baca terletak di dalam dua ruangan berbeda yang di sekat dengan dinding kaca. Terdapat pintu seperti halnya loket sebagai tempat pendataan pinjam meminjam buku. Di mana di dinding kaca terdapat daftar buku yang tersedia, sehingga siswa tinggal menyebutkan judul buku ketika akan meminjam. 

Untuk kemudian petugas/penjaga perpustakaan akan mengambilkan buku yang dimaksud. Meskipun siswa-siswi tidak leluasa memilih buku mana yang hendak dibaca, setidaknya hal ini bisa alternatif untuk mengatasi akan hilangnya buku. Perlu diketahui juga, ada sebagian buku-buku yang bebas dibaca tanpa harus melalui loket pinjaman. 

Buku tersebut mungkin dinilai kurang menarik atau apa. Saya rasa buku-buku tersebut memang jarang dipinjam siswa-siswi karena bukan pelajaran. Bila diperhatikan, memang biasanya teman-teman minjam buku karena ada tugas pelajaran tertentu atau malas membuat catatan di buku tulis. Hal ini tentu berbeda dengan jaman sekarang yang dimana anak-anak sudah memiliki buku cetak sendiri-sendiri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline