Lihat ke Halaman Asli

Antara Je dan Jeh

Diperbarui: 23 Juni 2015   22:56

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Bagikan ide kreativitasmu dalam bentuk konten di Kompasiana | Sumber gambar: Freepik

Membaca tulisan Mas Ikrom Zain tentang “Je” yang menarik, membuat saya benar – benar tergelitik sampai melakukan 2 aksi berbahaya yaitu PERTAMA : mengcopy paste tulisan Mas Ikrom Zain berikut link nya dan mengirimnya kepada 10 orang terdekat saya, di antaranya suami, bapak mertua, kakak ipar, adik ipar dan teman – teman saya yang orang Jogja yang kesemuanya memberikan respon terbelalak dan menggumamkan, "walah iyo yo," mereka dan yang KEDUA, menulis tulisan sepele ini untuk ikut menceritakan tentang “je” termasuk menuliskan bagaimana “Je” dan  “Jeh” bisa berjodoh.

Sebelum sampai kepada bagaimana sejoli “Je” dan “Jeh” berjodoh, saya akan cerita dulu tentang “Je” yang menduduki peran yang sangat penting dalam percakapan sehari – hari orang Jogja dan sekitarnya yang berbahasa Jawa Jogja.

Seperti dalam dialog ini :
”Kowe kuwi sarjana pendidikan, guru SMP, duwe sertifikasi, ning kok omahmu isih gedhek tho, Ngger ?” bertanya sang ayah kepada anak lelakinya dengan penuh prihatin.
Yang artinya, “Kamu ini sarjana, guru SMP, punya sertifikasi, tapi kok rumahmu masih gedhek sih, Nak ?”

“Lho Pak, aku kan sertifikasine lagi nembe wae minggu wingi je. Njuk aku kudu mbayar cicilan sepeda montorku, mbayar cicilan bank sing dinggo tuku lemah kae, terus mbayar silihan koprasi sing tak nggo ngragati sarjanaku wingi kae. Dadi omahku isih ngene je Pak,” jawab sang anak.
Yang artinya, “Lho Pak, aku kan sertifikasi ( profesi gurunya ) baru minggu kemarin “je”. Kemudian aku harus membayar cicilan sepeda motorku, bayar cicilan bank untuk membeli tanah itu, terus bayar pinjaman ke koperasi untuk biaya ( menempuh ) pendidikan sarjanaku kemarin itu. Jadi rumahku masih begini “je” Pak,”

Nah, untuk menjelaskan apa arti dari “je” ini, PERTAMA, mari lihat makna leksikalnya. Di mana leksikal artinya satuan bentuk bahasa yang bermaknasebagai bentuk adjektif dari leksikon ( sama dengan perbendaharaan kata atau kosakata ) yang satuannya disebut leksem ( kata ). Dengan demikian, makna leksikal dapat diartikan sebagai makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata yang bisa juga disebut makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indera, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita sebagaimana yang disebutkan oleh Chaer.
Contoh sederhana, saya ambil kata tomat dalam kalimat “Salah satu buah yang kaya vitamin C adalah tomat”. Di mana makna leksikal dari tomat adalah sejenis buah yang termasuk keluarga terong – terongan ( Solanaceae ) yang kalau muda berwarna hijau, setelah tua menjadi kuning kemerahan yang memiliki rasa asam manis segar, kaya air dan di dalam buahnya banyak terkandung biji berbentuk cakram ukuran mini yang berselimut lendir.


Nah, dari “je” apanya yang bisa kita tafsirkan sebagai makna leksikal ? Atau kalimat pertanyaannya dibalik. “Apa makna leksikal yang terkandung dalam “je” ? Bingung kan ? Hehehe ! Sama !

Yang KEDUA,suatu kata dapat ditafsirkan berdasarkan makna referensial dan non referensial yang dimilikinya. Di mana suatu kata dapat disebut memiliki makna referensial jika dia memiliki referen dari kata – kata tersebut, yakni sesuatu di luar penjelasan yang diacu oleh kata tersebut, maka kata itu dapat disebut sebagai suatu kata yang memiliki makna referensial. Demikian pula sebaliknya, jika suatu kata tidak memiliki referen, maka ia disebut kata nonreferensial.

Sebagai contoh, kata lemari. Kata lemari memiliki referen berupa peralatan rumah tangga untuk menyimpan sesuatu seperti pakaian, buku, perlengkapan makan, dll. Jadi kata lemari disebut kata yang memiliki makna referensial. Sekarang, mari kita fikirkan kata karena. Kemanakah referen kata karena mengacu dan menuju ? Tidak ada ! Jadi, kata karena tidak memiliki makna referen. Oleh karenanya, kata karena disebut sebagai kata yang bermakna nonreferensial.
Nah, “je” kesayangan kita tadi, menempati posisi mana ? Kata bermakna referensial kah atau nonreferensial ? Mungkin lebih tepatnya kata bermakna nonreferensial. Tapi, kembali lagi kepada struktur “je” itu sendiri. Apakah dia sebagai suatu kata ? Hehehe !

Yang KETIGA adalah makna denotatif dan konotatif. Suatu kata dapat disebut memiliki makna denotatif apabila suatu kata yang dapat diberi penjelasan yang sesuai dengan hasil observasi menurut aktifitas panca indera kita yakni penglihatan, penciuman, pendengaran, perasaan dan juga pengalaman yang meliputi rasa lainnya yang menghadirkan informasi faktual yang objektif.Maka, Chaer menyebutkan bahwa makna denotasi sering disebut sebagai “makna yang sebenarnya”. Contohnya kata wanita, pria, perempuan, laki – laki. Makna denotatif pada dasarnya sama dengan makna referensial. Kebalikan dari makna denotatif tadi adalah makna konotatif. Sebuah kata disebut memiliki makna konotatif jika kata itu memiliki “nilai rasa” baik positif maupun negatif. Sifat dari suatu makna konotatif adalah tidak tetap, yakni bisa berubah dari waktu – waktu. Contohnya, kata khotbah. Kata khotbah memiliki konotasi negatif yang diartikan cerewet dan bisa berubah menjadi berkonotasi positif yang artinya nasihat/ceramah agama.

Nah, apa makna denotasi dan konotasinya “je” ? Sedangkan diobservasi melalui pancaindra pun, “je” itu tidak terobservasi sama sekali. Demikian juga ketika ditanya, memiliki konotasi apakah “je” itu ? Negatifkah atau positif ? Saya tidak bisa menjawab, karena tidak menemukan jawabannya. Karena “je” tidak teraba, tercium, terlihat, terdengar dan terasa “keberadaannya” yang menunjukkan hasil yang menginformasikan kepada saya, apakah “je” itu. Halah biyuuung ! Mumet kan ? Sama !
Makin mumet ketika memikirkan konotasi dari “je”. Mau digolongkan ke negatif atau positif, tetap tidak bisa. Karena “je” semisteri keberadaannya itu sendiri. Hihihi.

Yang KEEMPAT, jika ditafsirkan berdasarkan makna konseptual dan makna asosiatifnya, “je” tetap tidak tertafsirkan sebagai apakah dia itu. Karena, makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apa pun. Misalnya kata ikan yang secara konseptual adalah sejenis binatang yang hidup di air, memiliki ekor, sirip, bernafas dengan insang atau paru, ada yang bersisik dan ada yang tidak dan seterusnya. Kemudian kata putih sering diasosiasikan dengan kesucian, kebeningan dan kemurnian, walau secara konseptual putih memiliki makna sendiri. Demikian juga dengan kata kanan dan kiri. Secara konseptual berarti arah/posisi dan kanan sering diasosiasikan dengan bagus, benar, lurus, bersih dan elok, sementara kiri diasosiasikan sebaliknya.
Lantas “je” masuk kemana ? Konsepnya sebagai apa dan berasosiasi kemana ? Bisa jawab atau malah puyeng ? Hehehe.

KELIMA, “je” pun tidak bisa ditafsirkan seperti apa makna idiomatikal dan makna peribahasanya. Kok bisa begitu ? Ya, karena, sebagaimana kita ketahui bahwa idiom adalah suatu ujaran yang maknanya tidak dapat ”diramalkan” dari makna unsur-unsurnya, baik secara leksikal maupun secara gramatikal, maka “je” tidak dapat ditafsirkan atau dipakai menjadi bentuk idiom manapun juga sebagaimana kata mengencangkan ikat pinggang dengan berhemat, hotel prodeo dengan penjara, dll.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline