Lihat ke Halaman Asli

Mohd. Yunus

Peminat kajian ekologi, politik, dan sejarah

Ketika Budaya Perairan "Terkikis Gelombang"

Diperbarui: 6 Februari 2018   17:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sumber: TEMPO

Budaya merupakan penerapan dari berbagai nilai luhur oleh generasi penerus secara turun temurun. Budaya sangat berkaitan erat dengan kehidupan umat manusia, karena mampu mengatur kehidupan manusia.

Indonesia merupakan negara yang luas, bermacam ragam budaya hidup dan berkembang di tengah masyarakat. Salah satu budaya yang ada di masyarakat melayu adalah budaya perairan, dimana masyarakat ini sangat suka mendiami daerah aliran sungai dan daerah pantai karena daerah ini menjadi pusat perdagangan dan gerbang masuk bagi perantau -- perantau dari luar. Hal ini secara terus -- menerus akan menyebabkan daerah ini berkembang menjadi Bandar atau kota -- kota besar. Hal ini dapat kita lihat seperti Kota Pekanbaru yang berada di tepi Sungai Siak, Kota Tembilahan, dan Rengat yang berhubungan dengan Sungai Indragiri. Kota Palembang yang berada di pinggiran Sungai Musi dan kota -- kota lain yang langsung berhubungan dengan daerah aliran sungai atau pantai.  

Masyarakat melayu pada masa lalu sangat menghargai budaya. Khusus budaya perairan ini, masyarakat melayu memiliki perumpamaan "bagaikan aur  dan tebing". Artinya aur memerlukan tebing sebagai habitatnya, dan tebing akan terjaga dari erosi dan longsor karena ada aur. Dari perumpamaan ini dapat diketahui bahwa masyarakat melayu sangat menjaga tebing sungai, mereka memahami betapa bahayanya jika tebing sungai itu runtuh. Oleh karena itu, dengan menanam aur maka akar-akar serabut aur akan mampu menahan tebing sehingga terhindar dari keruntuhan.

Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, maka masyarakat memanfaatkan sumber daya yang terdapat di sungai dan pantai, seperti menjadi nelayan. Di dalam usahanya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, masyarakat tetap berpegang teguh pada budaya dan memandang alam dan lingkungan hidup sebagai bagian dari warisan yang tak ternilai harganya. Sehingga alat -- alat yang mereka gunakan pun tidak bersifat merusak. Seperti tombak, kail, lukah, jala, rawai, ambai, belat, tempuling, sondong maupun togok.

Kearifan yang luhur demikian, ikut membentuk sudut pandang ekonomi masyarakat melayu. Mereka memiliki prinsip sederhana yaitu "pakailah sekadarnya, agar tahan lama sehingga bisa diwariskan". Selain itu, mereka juga menjunjung tinggi nilai persaudaraan dan tolong -- menolong sehingga selisih paham dan silang sengketa dapat dihindari. Budaya perairan ini, selain member kemakmuran kepada masyarakat. Juga mampu memelihara warisan berharga bagi anak cucu berupa kekayaan flora dan fauna yang tumbuh dan hidup di daerah aliran sungai dan pantai.

Namun sekarang, budaya perairan ini mengalami kemerosotan. Banyak masyarakat melayu yang tidak mengenal budaya sendiri. Mereka beranggapan, budaya yang dimiliki sudah kuno, lama dan usang. Modernisasi diyakini lebih maju dan baru. Kebijakan pembangunan juga tidak memperhatikan aspek budaya. Sehingga banyak terjadi kegiatan yang sangat merugikan dan mengganggu keseimbangan alam kebudayaan. 

Pada wilayah daerah aliran sungai dan pantai, sekarang ini banyak  yang telah berubah dengan berdirinya pemukiman -- pemukiman megah serta pabrik -- pabrik besar melalui campur tangan pemerintah dengan tujuan meraup "keuntungan sebatas kerongkongan" dan tidak memberdayakan masyarakat tempatan. Sehingga masyarakat akan semakin tenggelam dan berkubang dengan kemerosotannya.

Kampung atau Dusun pada masanya dianggap sebagai "pusat kehidupan" dan "pusat kewibawaan". Orang -- orang belajar justru dari kampung. Budaya perairan termasuk di sini, budaya ini mampu mengatur harmonisasi masyarakat dengan alam lingkungan berupa daerah aliran sungai dan pantai. Namun sekarang dengan kemajuan teknologi dan masuknya budaya luar membuat peranan kampung dengan berbagai budaya luhur di dalamnya menjadi luntur. 

Penemuan berbagai inovasi teknologi telah mendorong manusia untuk memanfaatkan alam secara semena -- semena. Tujuan awal teknologi untuk kesejahteraan umat manusia, namun apabila jatuh di tangan yang serakah maka bencana akan siap menerjang kehidupan manusia itu sendiri.

Filosofi masyarakat melayu yang sederhana dan tidak serakah rupanya telah menjadi celah bagi pihak luar untuk memanfaatkan kekayaan alam dan budayanya. Pembukaan hutan untuk perkebunan telah mendorong masyarakat yang awalnya tinggal di daerah aliran sungai dan pantai berpindah ke daerah yang lebih tinggi. Mereka hanya dijadikan buruh dan kuli perusahaan, padahal kekayaan alam yang dimanfaatkan pihak luar sebenarnya merupakan warisan nenek moyang masyarakat melayu.

Kekayaan alam dan sifat masyarakat melayu yang terbuka rupanya juga telah mengundang masyarakat dari daerah luar untuk bermukim dan membaur di tanah melayu. Seperti kata pepatah "ada gula, ada semut", hal ini persis terjadi di masyarakat kini. Masyarakat melayu mulai akrab dengan pesta, minuman dan seks yang mana semuanya ini merupakan penanda budaya yang semakin hari semakin hilang dan berganti dengan budaya luar yang berorientasi pada kesenangan dunia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline