Lihat ke Halaman Asli

Ludiro Madu

TERVERIFIKASI

Dosen

Ujian Tengah Semester dan ChatGPT di Bulan Puasa

Diperbarui: 25 Maret 2023   21:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi penggunaan chatgpt (Sumber: Candid.Technology via nextren.grid.id)

Pada puasa kedua di 2023 yang jatuh di hari Jumat, kampus ternyata ramai. Di kampus saya, eh, bukan....di kampus tempat saya bekerja, hari Jumat kemarin kebetulan termasuk minggu terakhir kuliah sebelum ujian tengah semester (UTS) begitu kata kata yang dilansir dari fokusmedia.id

Walau suasana puasa terasa, namun kelas-kelas tetap dipenuhi mahasiswa. Beberapa mahasiswa yang tidak kuliah tetap ke kampus untuk mengurus syarat mengikuti ujian tengah semester (UTS). Selama dua minggu UTS berlangsung mulai Senin minggu depan.

UTS menjadi salah satu tonggak penting bagi kampus. Apalagi UTS diadakan pada saat chatGPT dan berbagai aplikasi berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) merajalela. Yang lebih penting lagi adalah UTS juga diadakan pada masa puasa.

Tulisan ini semacam refleksi mengenai bagaimana mahasiswa dan dosen menyikapi manfaat chatGPT di bulan puasa ini. Pemakaian chatGPT memang tidak hanya untuk ujian, seperti UTS, tapi untuk berbagai keperluan hidup kita. Begitu juga, chatGPT tidak hanya dipakai melulu di bulan puasa.

Namun demikian, bulan puasa dengan suasana khidmat mendekatkan diri pada sang Khaliq dapat memberikan kita semacam batasan-batasan dalam memakai chatGPT. Istilah kerennya adalah penggunaan chatGPT secara bertanggung jawab atau responsible use of chatGPT.

Etika umum ini diperlukan agar proses belajar-mengajar tidak berjalan secara instan atau sekedar copy-paste. Proses belajar-mengajar juga bersifat umum yang melingkupi banyak sektor.

Pada konteks tertentu, keberadaan chatGPT bahkan menimbulkan pemikiran bahwa kuliah tidak perlu atau, bahkan, tidak perlu lagi orang berposisi sebagai dosen dan mahasiswa. Oleh karena itu, batasan penggunaan chatGPT perlu agar pengguna tetap bertanggung jawab.

Pertama, chatGPT hanya dipakai untuk mencari ide atau pintu memasuki lautan pengetahuan. Dengan posisi itu, pemakai harus mawas diri dengan jawaban-jawaban chatGPT.

Kehati-hatian ini dimaksudkan agar tidak percaya begitu saja dengan jawaban chatGPT. Cek dan ricek sangat diperlukan untuk menghindari jawaban yang sifatnya spekulatif.

Ujian yang bersifat take-home atau dosen memberikan ujian yang dijawab mahasiswa di rumah (di luar kampus) membuka potensi besar memakai chatGPT. Mahasiswa bisa minta tolong chatGPT untuk menjawab pertanyaan ujian.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline