Lihat ke Halaman Asli

Linda Puspita

Pekerja Migran

Restu Ibu

Diperbarui: 5 Maret 2021   09:47

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Dok. pribadi


Bagi sebagian orang di kampung, di usia yang tak lagi muda (25), melanjutkan sekolah adalah hal yang sia-sia, buang-buang waktu, pikiran, dan yang pasti menghabiskan uang, apalagi kondisi saya yang sedang bekerja di luar negeri. 

Awalnya, ibu melarang saya untuk lanjut kuliah, dengan berbagai alasan yang saya sebut tadi.

"Selesai kuliah, bisa jadi apa?"

Pertanyaan itu terlontar. Jujur, saya sendiri bingung mau jawab apa. Yang jelas, keinginan saya sejak dulu adalah bisa melanjutkan pendidikan dan dapat berbagi pengalaman pada siapapun.

Saya terdiam, tapi tanpa sepengetahuannya, saya menghubungi kantor pendaftaran Universitas Terbuka Pokjar Hong Kong. Ngobrol dan sharing tentang keadaan kerjaan dan keinginan saya. Alhasil, ucapan ibu ijabah. Saya tidak bisa kuliah karena waktu libur yang tidak pasti dan bukan di hari Minggu. Saat itu tahun 2013 akhir.

Ok. Saya terima, karena mungkin memang begitu jalannya. Namun, tidak bisa dipungkiri keinginan itu tetap tumbuh bergejolak.

Satu tahun kemudian, masa kontrak saya habis. Dikarenakan majikan kurang baik, akhirnya saya mencari bos baru. Saya berpikir, inilah kesempatan untuk saya dapat libur di hari Minggu, seperti teman yang lainnya. Saat interview dengan calon majikan, saya mengajukan beberapa permintaan.

"Saya enggak makan babi dan minta izin buat melakukan ibadah."

"Ok, tapi kamu tidak boleh ibadah di kamar atau di ruang tamu, tapi di dapur," sahutnya.

Saya mengangguk tersenyum dan mengiyakan. 

"Saya minta libur setiap hari Minggu, karena saya ada kegiatan dan ikut les," pinta saya selanjutnya.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline