Lihat ke Halaman Asli

Kiki Sosali

Humanity Enthusiast

Anda Bertanya, Donald Trump Menjawab: Audrey dan Para Pembully

Diperbarui: 21 April 2019   11:42

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Betapa sulitnya mewawancarai Donald Trump. Sumber: CNN

Donald Trump. Ayah dari 5 anak. Pengusaha real estate yang (secara kasat mata nampak) sukses. Pemilik kekayaan yang kita sebagai rakyat biasa hanya bisa membayangkannya. Presiden televisi dari sebuah channel bernama Amerika Serikat. Dan diantara semua itu, pem-bully profesional.

Label identitas konvensional sepertinya sangat tidak relevan disematkan buat tokoh kontroversial satu ini. Kita tidak bisa menyebut Trump sebagai seorang ayah, tanpa menceritakan aneka perselingkuhan yang nampaknya dinikmatinya saat memperoleh anak-anak itu (PS: 2 dari anak terakhir Trump berasal dari istri yang dulunya adalah selingkuhannya). Kita tak bisa melihat Trump sebagai miliarder sukses tanpa menafikan berbagai kebangkrutan yang didapatnya dari usaha real estate-nya. Dan yang paling anyar, kita tak bisa melihat fakta Trump adalah presiden sebuah negara adidaya tanpa melihat fakta bagaimana dia mem-bully dan mengejek setiap kandidat yang dilawannya.

Essentially, Trump tak ubahnya seperti Voldemort, seandainya Voldermort adalah pria seberat 200 kilo yg suka makan McDonald

Trump dan makanan favoritnya. Sumber: Know your meme

Menyebut Omarosa, satu mantan pendukung yang kemudian jadi pengritiknya, sebagai 'aneh dan gila'. Atau Stormy Daniels, bintang porno yang pernah menjalin perselingkuhan dengannya, sebagai 'Si Wajah Kuda'. Atau menyebut anggota DPR dengan label nama rasis Asia 'Da Nang' hanya karena si anggota DPR ketahuan berpura-pura mengaku pernah jadi tentara saat perang Vietnam. Itu hanya 3 dari sebutan mengejek paling hits-nya selama tahun lalu. Bayangkan, tiap tahun Trump selalu menciptakan label merendahkan seperti itu untuk orang yang tak disukainya.

Terdengar seperti ejekan yang dibikin teman kelas kalian yang paling nakal saat SD, bukan? 

Melihat fenomena gila seperti ini, insting gila saya terangsang. Seperti polisi behavioral khas Clarice Sterling di 'Silence of the Lambs' yang menginterview penjahat kanibal dalam usahanya menggali bagaimana cara kerja orang jahat, saya juga tertarik untuk mengetahui bagaimana otak seorang bully bekerja. Terutama di tengah kasus yang marak merebak di Indonesia saat ini, yakni kasus Audrey dan pem-bully nya serta berbagai kontroversi yang mereka ciptakan.

PS: Bagi Anda yang tak tahu cerita tentang Audrey (btw, Anda dimana saja sampai tak dengar kasus heboh ini) artikel ini bisa jadi gambaran kronologi apa yang terjadi. Singkatnya, bagi Anda para hamba yang malas membaca, Audrey adalah siswa SMA yabg berkelahi dan babak belur setelah terjadi cekcok saling mem-bully di medsos.

Menginterview Trump jauh lebih mudah dilakukan dibanding pengalaman sebelumnya mewawancara George Orwell. Kenapa? Pertama, tentu saja karena Trump masih hidup, more or less (kalau Anda bisa menyebut jantung yang berdetak diantara lemak tinggi kolesterol dalam tubuhnya itu sebagai 'hidup'). Kedua, Trump sangat suka dengan perhatian, sangat suka dengan seseorang yang menganggapnya 'ahli' dalam sesuatu, bahkan meskipun keahlian itu sebenarnya negatif. Hanya perlu satu e-mail dari saya dan presiden dari negara adidaya itu pun menyetujui.

Tak perlu berlama lagi, saya sajikan 'excerpt' dari interview kami via sambungan jarak jauh. Silakan dinikmati 'kegilaan' yang terjadi.

Penanya (P): Halo, Mister. Terima kasih buat kesempatan interview ini. Jujur saja, saya tak menyangka orang sibuk seperti Anda mau menyempatkan untuk wawancara ini.

Trump (T): Ya, ya, saya orang sibuk. Presiden Amerika, perealisasi perdamaian dunia. Saya baru saja bertemu pemimpin tentara yang mengalahkan Isis? Ya, betul, saya yang mengalahkan Isis. Sesuatu yabg tak bisa dilakukan Obama. Semua orang berkata 'Kau tak akan bisa mengalahkan Isis' saat aku mencalonkan jadi presiden. Tapi aku bisa mengalahkannya. Bukan prestasi buruk kan? 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline