Lihat ke Halaman Asli

Iswan Heri

Dreamer, writer, and an uncle

Menikmati Bunyi dalam Sunyi

Diperbarui: 17 Mei 2021   00:04

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

Menikmati Bunyi dalam Sunyi

Puluhan orang berduyun-duyun memasuki bangunan besar itu. Tiap orang berjalan perlahan menuju tempat duduk paling nyaman untuk menyaksikan pertunjukan sore itu. Saya memilih duduk di lajur ketiga dari depan. Tempat yang paling pas untuk menyaksikan penampil di atas panggung. Beberapa anak muda berkulit putih dan berpakaian batik mulai berbaris diatas panggung membawa kenong berbagai ukuran serta gong. Mereka membawanya dalam posisi horizontal tanpa alat pemukulnya. Di area tengah pangung, beberapa instrumen gamelan yang lain, yaitu gender diatur secara rapi. Para penabuh duduk bersila secara tenang dan hikmat.

Seketika lampu-lampu di ruangan dipadamkan. Hanya di bagian panggung, lampu dibiarkan menyala. Para penonton pun paham. Masing-masing duduk tenang di kursinya sambil menunggu pementasan di mulai. Penabuh di depan gender mulai memainkan instrumennya dengan pelan dan teratur. Pembawa kenong dan gong duduk teratur di samping kanan mereka. Setelah melodi gender berhenti, terdengar gema yang tak biasa. Serupa dengungan lebah. Kemudian para pembawa kenong dan gong mengangkat instrumen yang sebelumnya di taruh di lantai panggung kayu itu.

Bagian belakang kenong diangkat dan didekatkan ke microphone yang sudah disiapkan. Gema dari kenong akibat resonansi gender yang dipukul kemudian merambat melalui lantai kayu menimbulkan bunyi yang aneka rupa. Tiap kenong seolah memiliki jiwanya sendiri, suaranya sendiri. Microphone berpindah-pindah dari satu kenong ke kenong lain, menimbulkan harmoni gema yang naik-turun, ritmis, dan unik. Sebagai puncak, microphone diarahkan ke instrumen gong. Gema yang terdengar paling kuat sekaligus paling lama. Lambat laun gema pun melemah. Dan pertunjukan pun usai diiringi tepuk tangan meriah penonton yang terpana sekaligus gembira.

Kelompok musik yang menampilkan pertunjukan gamelan tak biasa tadi adalah mahasiswa dan mahasiswi Wesleyan University, Amerika Serikat yang diampu oleh Prof. Sumarsam dalam salah satu sesi pertunjukan International Gamelan Festival 2018 di gedung Teater Besar ISI Surakarta. Sebagai penutup dalam pertunjukan tersebut, Sumarsam menjelaskan bahwa penampilan musik tadi merupakan eksperimen baru dalam menikmati dan menyajikan gamelan. Gamelan (kenong dan gong) dinikmati lewat resonansi bunyi yang dihasilkan oleh instrumen gender dan disalurkan melalui medium lantai kayu. Dari lantai kayu tadi, resonansi masuk di rongga di belakang kenong dan gong yang kemudian menimbulkan gema.

Inilah keunikan gamelan. Berbeda dengan alat maupun pementasan musik lain, gamelan mempunyai ruang "sunyi" sendiri. Resonansi bunyi gamelan hanya dapat ditangkap jika disajikan dalam keadaaan hikmat, tenang, dan tentu saja sunyi. Ini jelas berbeda dengan, sebutlah festival rock maupun lainnya yang serba hingar-bingar.

Gamelan seolah memberi marka sendiri atas festival musik modern yang didukung dengan soundsystem megah dan suara menggelegar. Gamelan seolah mengajak manusia untuk berhenti sejenak dari "festival hingar-bingar" serta sejenak menyepi untuk merayakan kesunyian. Telinga saya yang terbiasa dengan musik rock dan hip-hop ini ternyata cukup menikmati irama sunyi gamelan sore itu. Mengesankan.

Sound of Borobudur dan Semangat Literasi

Sekelompok orang berkumpul di sebuah Joglo dengan membawa alat musik masing-masing yang berbentuk unik. Dewa Budjana mulai memetik alat musiknya perlahan diikuti dengan tabuhan perkusi, gamelan, dan alat musik lainnya. Sedangkan Trie Utami melantunkan nada vokal dengan lengkingan khas suaranya. Pelan-pelan tempo mulai semakin cepat. Sekelompok orang memetik dawai secara bersamaan diikuti tabuhan gamelan serta suara seruling yang mengalun merdu. Indah dan syahdu. Begitulah perasaan saya saat mendengarkan lagu "Jataka" ciptaan Dewa Budjana dan dibawakan secara ciamik oleh Sound of Borobudur. "Jataka" terinspirasi dari kisah fabel yang ada di Borobudur. Lagu ini dimainkan dengan tempo cepat dan ritmis, membawa suasana ceria dan gembira di telinga pendengarnya. Anda bisa mendengarnya sendiri di kanal Youtube Sound of Borobudur untuk merasakan sensasinya.

Sebagai sebuah proyek dan eksperimen seni, Sound of Borobudur terlihat bukan main dan bukan main-main. Usaha untuk mengidupkan tradisi dan alat musik dengan berdasarkan relief-relief di dinding Borobudur jelas bukanlah hal yang sederhana untuk dilakukan. Mengidupkan kembali alat musik dari abad 8 Masehi tentu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Sound of Borobudur dimulai pada tahun 2016 melalui rekonstruksi awal tiga instrumen musik dawai oleh Ali Gardy Rukmana, seorang seniman yang berasal dari kota Situbondo, Jawa Timur. Sedangkan untuk saat ini Sound of Borobudur telah sukses merekonstruksi 18 instrumen dawai dari kayu, 5 instrumen dari gerabah, dan satu buah instrumen idiophone yang terbuat dari besi. Keberhasilan ini tentu menjadi kabar baik bagi bangsa Indonesia, termasuk bagi masyarakat di seluruh dunia.

Sejalan dengan visi Wonderful Indonesia serta semangat untuk menjadikan Borobudur pusat musik dunia, maka ada baiknya Sound of Borobudur dijadikan sebagai pintu masuk itu semua. Langkah selanjutnya yang harus disiapkan adalah literasi itu sendiri. Literasi mengenai alat musik tradisional Borobudur, sejarah Borobudur, budaya Borobudur, maupun segala aspek yang menyangkut Borobudur itu sendiri.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline