Lihat ke Halaman Asli

Inosensius I. Sigaze

TERVERIFIKASI

Membaca dunia dan berbagi

G20 dari Media Barat, Pujian pada Ketegasan Presiden Indonesia

Diperbarui: 18 November 2022   07:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

G20 dari media barat, pujian pada ketegasan presiden Indonesia | Dokumen diambil dari G20.org

Indonesia telah melukis sejarah baru menjadi Tuan Rumah bagi negara-negara lain di tengah krisis global dan krisis perang Rusia-Ukraina. Tuan Rumah yang mengajak dunia menciptakan perdamaian dunia.

Siang hari ini tiba-tiba di meja makan terdengar diskusi yang hebat terkait Jokowi dan G20 di Bali. Diskusi itu diawali dengan pertanyaan dan kekaguman seorang teman asal Belanda terhadap Presiden Indonesia, "Wow, Joko Widodo bisa berbicara dengan bagus ya?" Spontan saya menjawab, "ya tentu saja."

Media asing hari ini memberitakan G20 yang berlangsung di Bali sejak Selasa, 15 November 2022. Sorotan berita sangat menarik tentunya tentang bagaimana sikap pemimpin-pemimpin bangsa terkait krisis perang Rusia-Ukraina. 

Sangat jelas terlihat bahwa Rusia saat ini semakin kehilangan dukungan komunitas internasional. Hal ini karena terdengar seruan yang sangat keras bahwa perang harus segera berakhir, karena "Jika perang tidak berakhir, akan sulit bagi dunia untuk bergerak maju. Jika perang tidak berakhir, akan sulit bagi kita untuk memikul tanggung jawab ke depan," kata Presiden RI sekaligus tuan rumah Joko Widodo.

Pernyataan itu sekaligus menunjukkan posisi Indonesia sebagai negara nonblok dan sampai saat ini mengambil jalan tengah. Sementara itu Presiden Dewan Uni Eropa Charles Michel juga mengkonfirmasi pada hari Selasa bahwa G20 akan mengadopsi deklarasi akhir. 

Menurut laporan agen informasi yang dikutip dalam media barat bahwa ada desakan yang serius tentang keharusan pembicaraan tentang "perang", meskipun demikian Rusia sendiri punya sikap politisnya sendiri, bahkan menggambarkan invasi Rusia ke Ukraina sebagai "operasi khusus."

Konfirmasi tentang deklarasi akhir itu tentu saja sangat bergantung pada persetujuan China sebagai mitra terkuat dari Rusia.Kepala negosiator telah mencoba langkah negosiasi masalah yang belum terselesaikan sampai akhir. 

Masalah utamanya adalah bagaimana menghadapi perang di Ukraina. Solusi diplomatik mungkin terletak pada perbedaan antara posisi yang berbeda dalam dokumen tersebut. Kantor berita dpa merujuk pada draf pertemuan pada hari Selasa dengan fokus desakan yang kuat untuk menghentikan perang dan mengutuk perang di Ukraina.

Berdasarkan undangan Indonesia, Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengirim pesan video ke forum G-20 pada hari Selasa, 15 November 2022. 

Vincent Piket, Duta Besar Uni Eropa, menulis di Twitternya dengan aksen bahwa Zelensky telah memberikan pidato yang penuh semangat dan sangat mendetail. Poin penting dari Presiden Ukraina adalah bahwa ia menyerukan pemulihan perdamaian dan integrasi wilayah di Ukraina. Terhadap posisi ini, kemungkinan China sendiri ingin menghindari kecaman sepihak terhadap sekutunya.

Sementara itu kantor Bloomberg melaporkan bahwa negosiator Beijing telah menolak kata-kata yang dianggap "terlalu agresif" terhadap Rusia. Kekhawatiran China bahwa ini dapat menjadi contoh dalam menghadapi ancaman China terhadap Taiwan nantinya. Namun, pihak China juga tidak menunjukkan sikap tegas untuk tampil di pertemuan G20 sebagai pembela perang agresi Rusia.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline