Lihat ke Halaman Asli

Haris Fauzi

Pembelajar

Gerwani dan "Hoaks Yang Membunuh"(Bagian 1)

Diperbarui: 24 Mei 2019   08:09

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Gerwani ~ Sumber gambar: Instagram Jingga Rasa

Dalam sejarah Indonesia, kelompok besutan Partai Komunis Indonesia yang bernama Gerwani bisa ditumpaskan dengan menyebarnya kabar berita bohong tentangnya. Berita hoax bukan monopoli seperti sekarang. Sebagai alat komunikasi, tentara memakai penyiaran berita hoax sebagai metode penghancuran PKI. Terbukti manjur, akhirnya rakyat terprovokasi untuk ikut memburu komunis dengan masivnya pemberitaan hoax secara terstruktur dan konsisten.

Berita Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha dikutip berbagai surat kabar dengan sejumlah tambahan mata dicungkil dan lain lain, membuat pembaca mual, marah sekaligus bergidik. Tak ada yang bisa membanyangkan ada manusia yang bisa berbuat kejam di luar batas kemanusian. Banyak yg membayangkan para perempuan pelaku kekejaman itu bukan manusia. Mereka lebih mirip sebagai setan. Betulkah cerita itu sebuah fakta? Apa bukan sekadar dari sebuah imajinasi hebat? Yang jelas dari sisi jurnalistik, berita tersebut itu sulit untuk dipertanggungjawabkan. Cerita tersebut Jebih merupakan sebuah fiksi yang sengaja dihadirkan untuk memberi nuansa terror, sekaligus melegalisasi teror yang lebih kejam terhadap mereka yang dituduh bertanggungjawab atas pembunuhan para para pahlawan revolusi.

Fakta asli tentang kondisi jenasah bisa diungkap melalui publikasi hasil otopsi tim medis. Namun fakta ini sepertinya secara sengaja disembunyikan rapat rapat. Baru tahun 1987, Ben Anderson seorang indolog dari Universitas Cornell mengungkapnya dan menimbulkan kehebohan. 

Visum tim dokter yang diketuai Brigjen dr Roebiono Kertapati, menegaskan bahwa cerita soal penyayatan kelamin oleh anggota Gerwani merupakan isapan jempol belaka. Kelamin semua jenasah utuh. Malah ada sebuah jenasah yang kelaminnya belum disunat, karena almarhum beragama Kristen.

Mengenai bola mata yang copot, hal itu dikarenakan saat dicemplungkan ke sumur posisinya adalah kepala terlebih dahulu. Tim dokter memeriksa keadaan jenasah merasa ketakutan dengan adanya tekanan lewat pemberitaan tentang penyayatan penis yang sama sekali tak terbukti. Fiksi atas kekejaman ini diarahkan ke organisasi perempuan Gerwani. Sekali lagi dengan pendekatan neuroscience, maka rakyat terusik dengan berita kekejaman Gerwani . Mereka yang digambarkan sebagai kelompok komunis yang suka telanjang menari-nari dan memotong-motong penis

Mayjen Soeharto, menanggapi berita tersebut dengan menyatakan, Jelaslah bagi kita yang menyaksikan dengan mata kepala, betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang petualang biadab dari apa yang dinamakan Gerakan 30 September. Dalam konteks politik masa, itu ada kedekatan emosional antara PKI dan Gerwani. Pemerintah mengeluarkan instruksi pada akhir 1964, agar semua ormas menggabungkan diri dengan partai politik. Rencananya Gerwani memutuskan bergabung dengan PKI pada kongres bulan Desember 1965.

Sejumlah kalangan menyimpulkan Gerwani tidak terlibat dalam putsch. Memang benar pada saat-saat itu Gerwani sangat dekat dengan PKI, sehingga ada garis komando langsung antara pimpinan PKI dan perseorangan anggota Gerwani, khususnya anggota PKI yang juga menjadi anggota Gerwani. Keberadaan sejumlah anggota Gerwani di Lubang Buaya saat itu lebih karena adanya latihan sukarelawan kontrontasi Malaysia. Mereka adalah bagian 21 juta sukarelawan terdaftar di seluruh Indonesia yang memenuhi panggilan sebagaimana seruan Presiclen Sukarno.

Tempat latihan Lubang Buaya itu sendiri baru Juli 1965. Organisasi massa telah mengikuti latihan di sana secara bergelombang. Sebagian besar Gerwani hanya mengurusi dapur umum. Direncanakan bulan Oktober 1965, pemuda pemuda NU akan datang bergabung mengikuti latihan disana.

Seorang istri prajurit Cakrabirawa yang bergabung dalam pelatihan di Lubang Buaya memberikan kesaksian, sebagaimana ditulis Saskia Elconora Wieringa. Dikatakan kartika para prajurit membawa jenderal jenderal, dengan teriakan ' Kabir '. Tapi pemudi-pemudi bukan menyambut dengan tarian, tapi justru sukarelawan itu juga ketakutan. Mereka bersembunyi berdesak-desakan di sudut. Sementara pihak AD berhasil menyusun seluruh mozaik fiksi yang hendak dibangun. Saksi saksi dikumpulkan, mereka diinterogasi serta di foto yang kemudian dicetak melalui koran koran. Siaran TV dan radio sengaja disusun guna mengungkapkan kengerian yang terjadi di Lubang Buaya. 

Seorang sukarelawati yg hadir di Lubang Buaya bercerita. Saya 16 tahun dan saya anggota Pemuda Rakyat. Sehingga waktu diminta ikut ke Lubang Buaya, tentu saja saya berangkat. Saya melihat bagaimana tentara-tentara itu membunuh jendral jendral. Saya sangat takut & lari pulang. Kemudian saya ditangkap dan ditahan dua minggu. Saya dipukuli dan diinterogasi. Mereka memaksa kami membuka pakaian dan disuruh menari-nari telanjang sambil diambil foto kami yg kelak disebarkan. Kami ditahan sejak permulaan Desember 1965. Dan saya dilepas bulan Desember 1982.

Cerita fiksi kekejaman Gerwani kian lengkap ketika pihak militer mendengar ada 3 perempuan dewasa ikut di Lubang Buaya, yaitu Saina, Emmy dan Atikah. Agen intelijen dan militer segera melakukan pengejaran. Kebetulan di kawasan Halim, sebagaimana umumnya pangkalan militer, ada banyak tempat pelacuran. Di tempat tersebut. ada dua orang yang bemama Saina dan Emmy. Dua perempuan ini ditangkap dan disiksa hebat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline