Lihat ke Halaman Asli

Hadi Santoso

TERVERIFIKASI

Penulis. Jurnalis.

Menyoal Putusan Promosi dan Degradasi PBSI di Pelatnas

Diperbarui: 8 Januari 2019   13:26

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kabid Binpres PP PBSI, Susy Susanty, tidak sembarangan dalam menetapkan promosi/degradasi pemain di pelatnas/Foto: badmintonindonesia.org

Akhir pekan kemarin, PP Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) resmi mengeluarkan pengumuman yang ditunggu-tunggu oleh pebulutangkis dan juga pecinta olaraga tepok bulu di tanah air. PBSI mengumumkan promosi dan degradasi bagi pebulutangkis di Pelatnas.

Degradasi diberlakukan bagi pemain Pelatnas yang selama tahun 2018 dinilai kurang berprestasi maksimal sesuai target yang ditargetkan PBSI maupun dinilai tidak memenuhi syarat lainnya. Sementara promosi masuk ke Pelatnas diberikan kepada pemain non Pelatnas yang berprestasi di tahun 2018.

Nah, mengacu Surat Keputusan nomor SKEP/001/0.3/I/2019, PBSI menetapkan 98 pebulutangkis putra/putri yang dipanggil untuk mengisi Pelatnas utama dan pratama. Nama-nama pemain tersebut berdasarkan hasil pantauan serta penilaian pelatih dan tim Pembinaan dan Prestasi PP PBSI dalam satu tahun terakhir. Seluruh atlet yang dipanggil akan memulai latihan di Pelatnas pada hari Senin (7/1/2019).

Tentu saja, keputusan PBSI tersebut tidak bisa menyenangkan semua pihak. Dari respons warganet, utamanya para pecinta bulutangkis di kolom-kolom komentar di akun-akun media sosial yang perhatian pada bulutangkis Indonesia, suara warganet nampak terbelah dalam menyikapi kabar tersebut.

Beberapa mendukung keputusan PBSI, tetapi tidak sedikit yang mempertanyakan. Utamanya terkait pemain-pemain yang didegradasi dari Pelatnas. Terlebih, ada beberapa nama top yang akhirnya tergusur. Di antaranya Angga Pratama, Rian Agung Saputro di ganda putra, Ricky Karanda Suwardi (ganda putra/ganda campuran) dan juga Rosyita Eka Putri di ganda putri.  

Warganet juga menilai ada beberapa pemain yang sejatinya berprestasi di tahun 2018 tetapi akhirnya terdegradasi. Ambil contoh nama Wahyu Nayaka di ganda putra. Dia cukup berprestasi bersama Ade Yusuf Santoso. Namun, Wahyu terdepak dari Pelatnas. Malah ada warganet yang berkomentar nyinyir bila Wahyu out karena dia berasal dari klub yang kurang besar.

Bagaimana respons PBSI?

Dikutip dari situs badminton indonesia, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti menyebut ada beberapa pertimbangan dalam menentukan nama-nama pemain ke pelatnas. "Di antaranya dilihat dari segi prestasi, potensi, usia dan target baik di jangka pendek maupun jangka panjang," ujar Susy. 

Dari 98 nama yang dipanggil tersebut, PBSI membagi jadi dua level yaitu level utama dan pratama seperti tahun sebelumnya. Nah, yang beda di tahun 2019 ini, PBSI menetapkan empat klasifikasi Surat Keputusan (SK) bagi tiap atlet. Empat klasifikasi SK tersebut yakni SK Prioritas, SK Utama, SK Pratama dan SK Magang.

Apa maksudnya?

Atlet dengan SK Prioritas adalah mereka yang diproyeksikan untuk Olimpiade Tokyo 2020 mendatang. Mulai pertengahan tahun 2019 nanti, fase kualifikasi menuju Olimpiade 2020 akan dimulai. PBSI telah memetakan beberapa pebulutangkis dari lima nomor yang diproyeksikan akan tampil di Olimpiade 2020.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline