Hadi Santoso
Hadi Santoso menulis dan mengakrabi sepak bola

Menulis untuk berbagi kabar baik. Saya bisa dihubungi di email : omahdarjo@gmail.com.

Selanjutnya

Tutup

Bulutangkis Artikel Utama

Menyoal Putusan Promosi dan Degradasi PBSI di Pelatnas

7 Januari 2019   09:05 Diperbarui: 8 Januari 2019   13:26 1244 7 4
Menyoal Putusan Promosi dan Degradasi PBSI di Pelatnas
Kabid Binpres PP PBSI, Susy Susanty, tidak sembarangan dalam menetapkan promosi/degradasi pemain di pelatnas/Foto: badmintonindonesia.org

Akhir pekan kemarin, PP Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) resmi mengeluarkan pengumuman yang ditunggu-tunggu oleh pebulutangkis dan juga pecinta olaraga tepok bulu di tanah air. PBSI mengumumkan promosi dan degradasi bagi pebulutangkis di Pelatnas.

Degradasi diberlakukan bagi pemain Pelatnas yang selama tahun 2018 dinilai kurang berprestasi maksimal sesuai target yang ditargetkan PBSI maupun dinilai tidak memenuhi syarat lainnya. Sementara promosi masuk ke Pelatnas diberikan kepada pemain non Pelatnas yang berprestasi di tahun 2018.

Nah, mengacu Surat Keputusan nomor SKEP/001/0.3/I/2019, PBSI menetapkan 98 pebulutangkis putra/putri yang dipanggil untuk mengisi Pelatnas utama dan pratama. Nama-nama pemain tersebut berdasarkan hasil pantauan serta penilaian pelatih dan tim Pembinaan dan Prestasi PP PBSI dalam satu tahun terakhir. Seluruh atlet yang dipanggil akan memulai latihan di Pelatnas pada hari Senin (7/1/2019).

Tentu saja, keputusan PBSI tersebut tidak bisa menyenangkan semua pihak. Dari respons warganet, utamanya para pecinta bulutangkis di kolom-kolom komentar di akun-akun media sosial yang perhatian pada bulutangkis Indonesia, suara warganet nampak terbelah dalam menyikapi kabar tersebut.

Beberapa mendukung keputusan PBSI, tetapi tidak sedikit yang mempertanyakan. Utamanya terkait pemain-pemain yang didegradasi dari Pelatnas. Terlebih, ada beberapa nama top yang akhirnya tergusur. Di antaranya Angga Pratama, Rian Agung Saputro di ganda putra, Ricky Karanda Suwardi (ganda putra/ganda campuran) dan juga Rosyita Eka Putri di ganda putri.  

Warganet juga menilai ada beberapa pemain yang sejatinya berprestasi di tahun 2018 tetapi akhirnya terdegradasi. Ambil contoh nama Wahyu Nayaka di ganda putra. Dia cukup berprestasi bersama Ade Yusuf Santoso. Namun, Wahyu terdepak dari Pelatnas. Malah ada warganet yang berkomentar nyinyir bila Wahyu out karena dia berasal dari klub yang kurang besar.

Bagaimana respons PBSI?

Dikutip dari situs badminton indonesia, Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi PP PBSI, Susy Susanti menyebut ada beberapa pertimbangan dalam menentukan nama-nama pemain ke pelatnas. "Di antaranya dilihat dari segi prestasi, potensi, usia dan target baik di jangka pendek maupun jangka panjang," ujar Susy. 

Dari 98 nama yang dipanggil tersebut, PBSI membagi jadi dua level yaitu level utama dan pratama seperti tahun sebelumnya. Nah, yang beda di tahun 2019 ini, PBSI menetapkan empat klasifikasi Surat Keputusan (SK) bagi tiap atlet. Empat klasifikasi SK tersebut yakni SK Prioritas, SK Utama, SK Pratama dan SK Magang.

Apa maksudnya?

Atlet dengan SK Prioritas adalah mereka yang diproyeksikan untuk Olimpiade Tokyo 2020 mendatang. Mulai pertengahan tahun 2019 nanti, fase kualifikasi menuju Olimpiade 2020 akan dimulai. PBSI telah memetakan beberapa pebulutangkis dari lima nomor yang diproyeksikan akan tampil di Olimpiade 2020.

Untuk tunggal putra, atlet dengan SK Prioritas adalah Anthony Sinisuka Ginting dan Jonatan Christie. Di tunggal putri ada tiga nama, Gregoria Mariska Tunjung, Fitriani dan Ruselli Hartawan. Di ganda putra ada nama Marcus Gideon, Kevin Sanjaya, Fajar Alfian dan Muhammad Rian Ardianto.

Sementara di ganda putri ada nama Greysia Polii, Apriyani Rahayu, Della Destiara Haris, Rizki Amelia Pradipta dan Ni Ketut Mahadewi Istarani. Adapun di nomor ganda campuran ada nama Praveen Jordan, Melati Daeva Oktavianti, Hafiz Faizal dan Gloria Emanuelle Widjaja.

Adapun perbedaan mendasar dari keempat SK tersebut adalah jumlah turnamen BWF World Tour 2019 yang akan diikuti atletnya dalam setahun. Bila saja pemain ingin menambah jumlah turnamen yang diikuti (di luar ketentuan PBSI), mereka dapat berangkat menggunakan biaya sendiri. Selebihnya, soal fasilitas latihan, makan, asrama, semua ditanggung oleh PBSI.

Yang cukup mengejutkan, dalam daftar 98 nama tersebut tidak ada nama pasangan ganda putra senior, Hendra Setiawan/Mohammad Ahsan. Pasangan juara dunia 2013 dan 2015 ini memutuskan keluar dari pelatnas untuk berkarier di jalur profesional.

Meski begitu, Hendra/Ahsan diizinkan untuk tetap berlatih bersama tim ganda putra pelatnas. Namun sebagai pemain profesional, Hendra/Ahsan akan menanggung sendiri (sponsor) biaya turnamen yang akan mereka ikuti.

Di akun Instagramnya, Ahsan menyampaikan postingan ucapan selamat tinggal yang diunggahnya, Jumat (4/1/2019). Sebelumnya, Ahsan dan Hendra sudah memposting foto mereka dengan sponsor baru mereka plus raket yang akan mereka gunakan selama mengikuti turnamen di 2019.

Di sektor ganda putra, selain Marcus/Kevin dan Fajar/Rian, pasangan yang masuk pelatnas utama adalah Hardianto dan Berry Angriawan, Akbar Bintang Cahyono dan Moh Reza Pahlevi Isfahani, Sabar Karyaman Gutama dan Frengky Wijaya serta Ade Yusuf Santoso.

Hal menarik lainnya, dalam daftar 98 nama tersebut, dua pemain ganda campuran senior, Liliyana Natsir dan Debby Susanto yang memutuskan gantung raket, masih menjadi penghuni pelatnas SK Utama hingga Januari 2019. Liliyana dan Debby masih akan tampil di Indonesia Masters 2019. Liliyana akan tampil bersama Tontowi sebagai laga perpisahan. Sementara Debby bermain dengan Ronald Alexander.

Sementara pemain ganda putri, Nitya Krishinda Maheswari juga tak tercantum di daftar tim ganda putri karena masih berkutat dengan cedera. Namun, pasangan Greysia Polii saat meraih medali emas Asian Games 2014 ini rencananya akan membantu tim kepelatihan di pelatnas.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2