Lihat ke Halaman Asli

Giri Lumakto

TERVERIFIKASI

Pegiat Literasi Digital

Polarisasi Platform Media Sosial

Diperbarui: 13 Februari 2023   17:40

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Chess Pawns oleh Ylanite Koppens (pexels.com)

Preferensi media sosial setiap orang menyulut polarisasi baru. Jika polarisasi yang lebih populer terkait afiliasi politik, keyakinan, ideologis, warna kulit, dll. 

Polarisasi platform medsos bisa menjadi bentuk baru segregasi diskusi dan interaksi pada satu isu. Bahkan karakteristik, bisa juga cara beradaptasi, pengguna tiap medsos pun berbeda.

Labelisasi yang cukup unik dari netizen tentang karakteristik atau cara adaptasi tiap user pada platform medsos seperti:

  • Facebook penuh orang tua konservatif. Setiap posting, baik narasi, foto, atau video adalah humble brag. Ingin pamer, tapi tidak segitunya sombong. Dan sering jual beli barang/jasa di Facebook cukup sadis menawar harganya.
  • Instagram dihuni netizen yang cool, sociable, dan bernuansa good-mood. Banyak posting diedit seestetik mungkin. Sering juga postingan berasal dari medsos lain. Video kini menjadi bagian penting Instagram yang dulu berfokus pada seni foto dan fotografi.
  • Twitter dianggap medsos paling toxic. Segala rupa postingan dan berita tumplek blek di Twitter. Medsos ini penuh dengan nuansa cancel culture, woke ideology, bahkan ultra left dan ultra right. Membuka Twitter berarti mencari drama untuk dinikmati.
  • TikTok bukan medsos, tapi panggung hiburan semata. Scroll tanpa henti menjadi candu. Konon, anak TikTok banyak yang alay. Konten TikTok juga kabarnya nirfaedah dan berbahaya. Ironisnya, banyak netizen membagi konten TikTok ke platform lain.
  • Telegram adalah aplikasi chat rasa medsos. Semua yang bajakan dan ilegal ada di Telegram. Film terbaru sering bisa ditonton free di sini. Daripada subcribe TV streaming bukan? Telegram juga jadi alternatif WhatsApp yang lebih baik, walau tidak begitu ramai.
  • WhatsApp sejak ada tab status baru masuk kategori medsos. Para penggunanya adalah semua golongan manusia. Orang tua atau lansia senang sekali posting kata motivasi dan kadang informasi hoaks di semua grup.

Jelas, dampak media baru, seperti medsos, terhadap kerangka moral dan identitas budaya cukup signifikan. Netizen kini hidup dalam sebuah dunia tanpa bentuk. Di mana semua users secara terus-menerus memandang diri, dan satu sama lain melalui media di hadapan kita. 

Kategorisasi seperti ranah pribadi, sosial, nasional, dan internasional bercampur baur dalam media baru bernama internet. 

Medsos memberikan ruang tanpa tuan dan tanpa batas. Netizen pun menciptakan disparitas sosial dalam tindakan kooperatif membangun jejaring informasi. Walau tiap orang lain saling berjauhan dan tidak saling mengenal, medsos mempersatukan semua. Menjauh dari medsos berarti keterasingan. 

Seriang medsos memfasilitasi anonimitas yang dieksploitasi dengan bermacam alasan. Dan dari banyak alasan yang mungkin muncul, kemudahan akses media digital menjadi fundamental kita beralasan. Media digital sebagai medium komunikasi, interaksi, bahkan intimasi merambah hampir ke semua aspek kehidupan kita.

Polarisasi pun terbentuk. Keseharian terkait frekuensi, durasi, dan sensasi pada satu platform medsos, jadi indikasi polarisasi. Labelisasi dengan mudah dicap kepada non-user. Obrolan yang OOT, tidak reply template, cara bercanda, dan komentar jadi indikasi non-user platform medsos tertentu.

Selain preferensi memilih medsos prioritas, adaptasi menjadi cara terbaik. Salah beradaptasi pada interaksi, tragedi, dan drama pada postingan di sebuah medsos, bisa berdampak kerikuhan. Sehingga banyak orang tetap memprioritaskan bermain pada satu medsos. Medsos lain yang diinstal hanya untuk mengintip konten hiburan semata.

Ketika pihak homogen saling membenci berkumpul, berpendapat, dan berorganisasi ada potensi berbahaya. Polarisasi medsos mengindikasikan hal ini. Karena dalam sebuah kelompok terdapat kebersamaan dan solidaritas antar anggotanya. Namun berkomplot demi keburukan bukanlah hal yang diinginkan. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline