Lihat ke Halaman Asli

Gentur Adiutama

TERVERIFIKASI

ASN di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan

Islamic Solidarity Games dan Pentingnya bagi Indonesia

Diperbarui: 15 Mei 2017   10:03

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Kontingen Indonesia saat defile pada upacara pembukaan Islamic Solidarity Games 2017 di Baku, Azerbaijan. (sumber foto: baku2017.com)

Selain Olimpiade, Asian Games dan SEA Games, Indonesia juga berpartisipasi pada ajang olahraga multicabang Islamic Solidarity Games (ISG). Ajang yang berlangsung setiap empat tahun sekali ini mempertemukan para atlet dari 57 negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI). Islamic Solidarity Sports Federation (ISSF) adalah induk organisasi yang mengatur penyelenggaraan ISG yang memulai debutnya pada tahun 2005 di Arab Saudi.

Indonesia mengirimkan 105 atlet yang terdiri dari 60 putra dan 45 putri ke ISG 2017 yang dilaksanakan di Baku, Azerbaijan pada tanggal 12 -22 Mei 2017. Dengan didampingi oleh 42 official termasuk para pelatih, mereka akan bertanding di 13 cabang olahraga yaitu selam, renang, atletik, para atletik, senam (ritmik dan artistik), judo, karate, menembak, taekwondo, angkat besi, wushu, polo air, dan basket 3 on 3.

Para atlet renang dan polo air Indonesia di ISG 2017. (sumber foto: PRSI)

Kontingen Indonesia yang dipimpin oleh Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin sebagai Chef de Mission ini ditargetkan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) bisa setidaknya masuk dalam lima besar di klasemen akhir perolehan medali. Target tersebut sebenarnya tergolong rendah karena status Indonesia yang merupakan juara umum pada edisi sebelumnya. Tahun 2013 lalu, Indonesia bertindak sebagai tuan rumah ISG di Palembang dan keluar sebagai pemuncak klasemen dengan perolehan 36 medali emas, 34 medali perak dan 34 medali perunggu.

Indonesia memulai ISG 2017 dengan hasil yang cukup bagus yaitu meraih dua medali emas dari cabang angkat besi di hari pertama setelah upacara pembukaan. Lifter Surahmat Wijoyo berjaya di kelas 56 kilogram putra dengan catatan total angkatan 261 kilogram. Sementara itu, Sri Wahyuni Agustiani juga sukses mempertahankan medali emas di kelas 48 kilogram putri yang direbutnya di ISG 2013 lalu. Peraih medali perak Olimpiade Rio 2016 ini membukukan total angkatan 186 kilogram.

Dua atlet Indonesia, Surahmat Wijoyo (tengah) dan Muhamad Purkon (kiri) saat naik podium juara cabang angkat beras kelas 56 kilogram putra. (sumber foto: baku2017.com)

Selain mengejar perolehan medali, Kemenpora juga menjadikan ISG 2017 sebagai bagian dari pemantapan performa atlet menuju SEA Games 2017 yang akan dihelat di Kuala Lumpur pada bulan Agustus dan juga persiapan untuk Asian Games 2018 di Jakarta-Palembang. Indonesia selalu menganggap ISG sebagai ajang yang penting diikuti dan tidak pernah absen menurunkan atlet-atlet elit sejak edisi perdana.

Lalu apa sebenarnya ISG itu dan apa pentingnya ajang ini bagi Indonesia? Sesuai namanya, ISG digagas dengan ide bahwa ajang olahraga mampu memperkuat solidaritas antar bangsa. Meskipun memiliki kesamaan sebagai negara berpenduduk mayoritas Muslim, negara-negara anggota OKI punya banyak perbedaan yang perlu dijembatani baik dalam pandangan dan aliansi politik, kebudayaan, tingkat perekonomian, ras, dan lain-lain. Dengan sarana pertandingan olahraga, negara-negara tersebut diharapkan dapat menepikan perbedaan dan bersatu lebih kokoh untuk kesejahteraan bersama.

Sebagai negara dengan populasi Muslim yang terbanyak di dunia dan selalu dipandang sebagai negara yang mampu menjalankan sistem demokrasi yang baik di tengah multikulturalisme, Indonesia sering dijadikan rujukan oleh banyak negara tentang bagaimana membangun solidaritas di atas perbedaan itu. Partisipasi Indonesia di ISG adalah bagian dari bentuk dukungan dan afirmasi Indonesia kepada misi OKI untuk memperkuat persatuan di antara negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim di dunia. Dapat dikatakan bahwa mengikuti ISG menjadi wujud kehadiran Indonesia dalam diplomasi soft power dengan negara-negara anggota OKI. Kekompakan dan solidaritas OKI adalah hal penting bagi Indonesia dalam politik luar negeri karena Indonesia kerap mendapat dukungan dari sesama negara berpenduduk mayoritas Muslim saat sedang memperjuangkan kepentingan di forum internasional.

ISG diharapkan menjadi ajang penyemangat solidaritas negara-negara berpenduduk mayoritas Muslim di tengah perbedaan yang ada. (sumber foto: baku2017.com)

Walaupun demikian, semangat solidaritas pada ISG sesungguhnya sempat tercoreng saat edisi kedua ISG yang seharusnya digelar di Teheran, Iran pada tahun 2009 dibatalkan. Penyebab pembatalannya adalah sentimen politis karena perbedaan pendapat tentang kata “The Persian Gulf” yang direncanakan tertulis pada medali dan materi promosi. Sejumlah negara di Jazirah Arab tidak setuju bila Iran menggunakan kata Persian untuk menyebut perairan teluk yang memisahkan negara tersebut dengan negara-negara Arab seperti Arab Saudi, Qatar, Kuwait, Bahrain, dan lain-lain. Alternatif nama “The Gulf”, “The Arab-Persian Gulf” atau “The Islamic Gulf” yang diusulkan untuk menyelesaikan polemik pun tak bisa disepakati oleh kedua belah pihak.

Banyak orang yang juga masih salah kaprah dengan ISG hanya karena ada nama Islam pada judulnya. ISG tidak menutup kemungkinan partisipasi dari atlet-atlet non-Muslim dari negara-negara anggota OKI. Kontingen Indonesia sendiri sejak ISG I di Arab Saudi selalu terdiri dari atlet yang punya beragam latar belakang agama. Pembawa bendera Indonesia pada upacara pembukaan ISG 2017 di Baku adalah I Gde Siman Sudartawa dari Bali yang memeluk agama Hindu. Malaysia, Turki, Kazakhstan, Kamerun, Senegal dan negara-negara lain juga tidak menjadikan agama sebagai faktor penentuan atlet yang dikirim ke ISG.

Meskipun sempat menjadi perdebatan, ISG tidak menerapkan aturan pakaian yang khusus. Para atlet putri memiliki opsi untuk menggunakan kostum olahraga yang biasa mereka pakai di ajang internasional lainnya atau mengenakan kostum olahraga yang secara khusus menutup seluruh tubuh seperti misalnya hijab. Hal ini sangat diapresiasi oleh banyak negara termasuk Indonesia karena sesuai dengan semangat ISG untuk mengakomodasi adanya perbedaan di antara negara-negara berpenduduk mayoritas Islam.

Atlet voli pantai Indonesia memilih tidak memakai bikini namun juga tidak berjilbab saat tampil di ISG 2013. (sumber foto: sportanews.com)

Di sisi lain, sesungguhnya ada hal penting yang perlu menjadi perhatian bagi negara-negara anggota OKI dalam keikutsertaan mereka di ISG ini. Ajang yang tahun ini diikuti oleh 54 negara karena absennya Kuwait, Libya dan Sudan ini diharapkan mampu membantu meningkatkan prestasi olahraga negara-negara tersebut di tingkat internasional. Hal ini tak boleh dianggap enteng karena muara suatu ajang olahraga tak bisa dilepaskan dari adanya pencapaian prestasi yang lebih baik oleh para atlet.
Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline