Lihat ke Halaman Asli

Diriku Tidak Punya Rumah Pribadi

Diperbarui: 24 Juni 2015   06:43

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia

JAKARTA-GEMPOL, Rumahku adalah surgaku, begitulah kata pepatah orang tua dahulu. Akan tetapi bagi diriku rumahku ada di mana-mana saja di atas bumi ini. Di mana tanah dipijak di situlah langit Aku junjung. Di mana malam tiba di situlah diriku berteduh dari angin dan hujan. Diriku berasal dari tanah dan akan kembali lagi ke dalam tanah.

Sayang sekali orang tuaku tidak sanggup membeli maupun membangun rumah sendiri. Diriku lahir di Sabang ACEH, di rumah kakekku yang bernama Teungku (Tgk) H. Muhammad Abu Juned Bitay. Kami anak cucunya biasa memanggil dengan sebutan Abu Juned atau Kek Abu.

Kakekku adalah salah satu Ulama di kota Sabang ACEH cucu dari ahli waris utama Teungku Di Bitay (Muthalib Ghazi bin Musthafa Ghazi)/Teungku Di Bitai.

Dahulu kakekku jalan kaki keliling Pulau Weh Sabang, untuk menyiarkan Agama Islam.
Mirip diriku yang sering juga jalan kaki. Hal ini berarti cucu ikut kakeknya.

Walaupun kakekku mempunyai 10 orang anak (Ibuku Ramlah Juned anak nomor 9 atau anak perempuan ke-3), akan tetapi diriku merupakan "Anak ke-11," karena saat diriku lahir, yaitu pada waktu Shalat Subuh. Kemudian kakekku Abu Juned langsung mengazankan ke telinga diriku seperti anak-anak laki-laki lainnya.

Kita ketahui bersama bahwa Ulama Teungku Di Bitay adalah berasal dari Negara Baitul Muqdis/Baital Maqdis (Palestina) dan masuk wilayah kerajaan Turki Utsmani/Turki Utsmaniyah atau yang terkenal dengan sebutan kerajaan Rum.

Hal ini dikarenakan sudah berhasil menghancurkan kerajaan Byzantium yang ibukotanya Heraklius/Konstantinopel (1453 M). Setelah itu Sultan-sultan Turki dikenal dengan sebutan Sultan Rum atau Raja RUM.

Pasca kemenangan pasukan Islam atas pasukan kristen (Kekaisaran Romawi Timur) oleh Sultan Muhammad Al Fatih (1453 M) Sang Penakluk, maka kota Konstantinopel dirubah menjadi nama Istanbul (Islambul).

Kata itu berarti kota kemenangan Islam atas penaklukan Konstantinopel pada hari Selasa, 20 Jumadil Awal 857 H atau 29 Mei 1453 M. Hal ini terjadi setelah dikepung dan digempur selama sebulan lebih sejak 6 April 1453 M. Kota Konstantinopel/Istanbul dapat direbut setelah perang selama 54 Hari dan dipimpin langsung oleh Sultan Muhammad Al Fatih.

Penasaran dengan nama kakek-kakekku yang bernama Syakir Jundi Istanbul Turkiya akhirnya kaki ini melangkah menuju kantor Duta Besar Turki mencari informasi. Apakah itu nama asli Sultan Turki yaitu Sultan Muhammad Al Fatih?

Menurut versi Turki disebutkan bahwa nama Sultan tersebut adalah Sultan Mehmed II atau dalam bahasa Arab disebutkan bahwa Beliau bernama Sultan Muhammad Al Fatih (30 Maret 1432-3 Mei 1481 M). Sultan naik tahta pada 855 H/1451 M.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline