Lihat ke Halaman Asli

Menembus Bumi Khatulistiwa dan Tapal Batas Bersama Datsun Go

Diperbarui: 2 Februari 2016   12:07

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

[caption caption="Photo Dokumen Pribadi"][/caption]Terpilih menjadi salah satu Risers yang mengikuti Program Datsun Risers Expedition (DRE) merupakan suatu yang sangat membahagiakan, terlebih salah satu destinasinya adalah Entikong. Sudah sejak lama bermimpi untuk bisa ke Entikong melihat dari dekat perbatasan Malaysia dan Indonesia (Malindo). Kami tergabung dalam tim BUDDY (Benny dari Bandung, Unggul dari Bogor dan duDDY dari Jakarta). Sejak terpilih mengikuti  DRE ini, kami langsung koordinasi untuk mencari informasi tentang destinasi yang di tuju dan akan berbuat apa untuk masyarakat di sana.

Buku dan berbagi

Kami ingin bisa berbagi di Kalimantan Barat ini dengan buku, alhamdulillah Kang Benny ada yang menitipkan sejumlah buku cerita anak anak untuk dapat dibagikan disana. Dengan kata kunci buku ini kami akan bergerak di event DRE ini. Saat yang dinantikan pun tiba, para Risers kumpul di terminal 2F pada pagi hari (26/1) untuk melanjutkan perjalanan menuju Pontianak. Hari ini sayapun baru bertemu muka langsung dengan Kang Benny dari Bandung, dan langsung membuat video pertemuan pertama ini di Bandara. Perjalanan ini bukanlah sekedar merasakan sensasi Datsun Go saja, namun kami ingin bisa berbagi dengan anak anak lain di jalur yang kami lalui ini, tertutama di Tapal Batas.

Hari Pertama

Benny, Unggul dan Dudi (dok pribadi)

Setibanya di Bandara Supadio, kami langsung menuju mobil yang telah disiapkan oleh panitia. Tim Buddy mendapat mobil pertama atau Riser 1 dengan mobil warna hitam. Keseruan dimulai dari sini, Benny Driver, Dudi Navigator dan Unggul  Penumpang, tujuan pertama adalah Tugu Khatulistiwa mengejar tengah hari berada di titik kulminasi Matahari.

Dan ternyata hari Kulminasi Matahari dalam setahun itu hanya ada di 2 Bulan, pertama 21 Maret dan 23 September yang disebut dengan Ekinoks. Pertama masuk komplek Tugu Khatuliswa saya mengira bahwa Tugu yang di luar adalah Tugu Khatulistiwa, ternyata itu merupakan Replika dari Tugu yang sesungguhnya. Tugu Khatulistiwa pertama di bangun pada tahun 1928 oleh tim Geografi Internasional yang di pimpin oleh seorang Geografi Belanda dengan menggunakan ilmu Falak, demikian penjelasa dari Ibu Sutarmi seorang petugas. Tugu ini di bangun dengan menggunakan bahan kayu Ulin, dengan Empat tonggak. Dua tonggak di depan sepanjang 3.05 Meter dan dua tonggak di belakang sepanjang 4.40 meter.

foto tugu khatulsitiwa yang di bangun tahun 1928 (dok Pribadi)

Tugu ini mengalami beberapa kali perbaikan ataupun penyempurnaan. Pertama pada tahun 1930 yang disempurnakan adalah tonggak dan lingkaran beserta anak panah. Pada tahun 1938 disempurnakan lagi lingkaran oleh Arsitek Silaban. Dan pada tahun 1990 mulai di bangun Replika Tugu Khatulistiwa serta bangunan pelindung yang di bangun secara permanen berbentuk kubah dan diresmikan pada tanggal 21 September 1991 oleh Bapak Gubernur Kalimantan Barat, Bapak Parjoko Suryo Kusumo yang menjabat saat itu.

Daya tarik Tugu ini pun terlihat pada sebuah peristiwa. Sebuah peristiwa menakjubkan, yaitu, saat terjadi kulminasi, yakni matahari tepat berada di garis khatulistiwa. Pada saat itu, bayangan tugu "menghilang" beberapa detik, meskipun diterpa sinar Matahari. Kita yang berdiri di sekitar tugu juga akan hilang bayangannya selama beberapa saat. Dan selain itu adalah telor bisa berdiri karena daya grativasi di Khatuliswa ini sangat kuat sekali sehingga telor bisa berdiri. Mendengar penjelasan dari Ibu  Sutarmi tentang hal ini, saya mencoba untuk bisa mendirikan telor, namun sampai 5 menit berhasil seperti Ibu Sutarmi.

foto Ibu Sutarmi sedang mendirikan telor  (Dok Priabdi)

Garis Khatulistiwa ini membelah bumi menjadi dua bagian Utara dan Selatan dengan sama, adapun Garis ini selain Kota Pontianak juga melewati Sekadau, Nanga Dedai  dan beberapa provinsi di Indonesia antara lain, Sumatera Barat, Riau, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Maluku dan Irian Jaya. Menurut Ibu Sutarmi sekarang titik nol-nya sudah bergeser sekitar 120 meter dari Tugu, karena pergeseran lempengan bumi. Ketika di sana memang terlihat sedang ada pembangunan di sekitar tugu, akan di bangun berbagai fasilitas di lingkungan Tugu ini selain titik Nol yang baru, seperti hotel dan lainnya.

Yang dirasakan selama berada di komplek ini adalah kondisi panas yang sangat, disarankan jika ke sini memakai topi dan sungaless untuk mengurangi panas. Sebelum meninggalkan tempat ini para Riser tidak lupa foto keluarga terlebih dahulu.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline