Lihat ke Halaman Asli

Menyelamatkan Ekonomi Indonesia yang "Gantung" di PHP-in The Fed

Diperbarui: 19 September 2015   10:57

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Oleh Delfi Yudha Frasetia


Nasib 7,2 miliar penduduk dunia berada di tangan si cantik keibuan, Janet Yellen. Bukan berlebihan, presiden The Fed ini akan memimpin langsung sebuah penentuan kebijakan penting yang dapat mempengaruhi stabilitas keuangan global. Salah-salah langkah, bukan hanya Amerika yang koid, ribuan alibaba (red-pengusaha) di Indonesia juga bisa ikutan “habis”.


Sejatinya The Fed memang hanya sebuah Bank Central untuk Negara Amerika, yang peran dan fungsinya sebelas-duabelas dengan Bank Indonesia. Hanya saja Amerika itu bukan Negara kaleng-kaleng. Coba anda baca angka ini Rp 226.437.900.000.000.000.000!. Bisa? Membacanya saja susahnya bukan main apalagi membayangkan memilikinya. Tapi sebesar itulah Gross Domestic Produk (GDP) yang dimiliki oleh  Amerika tahun 2014. Bandingkan dengan GDP Indonesia yang hanya Rp 10.542,7 triliun. Sehingga jangan heran jika The Fed begitu berpengaruh bagi perekonomian dunia.

 

 Akhir-akhir ini ratusan juta pasang mata sedang harap-harap cemas menunggu keputusan The Fed untuk memperbaiki kondisi ekonomi Amerika. Bukan apa, jika The Fed membuat kebijakan yang keliru maka nasib-nasib Negara yang bergantung dengan Dollar akan kelimpungan. Dollar menjadi basis standar devisa dikebanyakan negara. Perannya sebagai instrumen perdagangan dunia juga mengokohkan eksistensinya. Kemudian menjadi pertanyaan, apakah tidak ada satu orang pun yang dapat mempengaruhi The Fed? Lalu apapula dosa-dosa The Fed pada negara Indonesia?

Napak Tilas The Fed dan Krisis Amerika

Hanya sekedar mengingatkan, The Fed di tangan Alan Greenspan pernah melakukaan kebijakan ekonomi longgar yang sangat fatal pada awal 90-an hingga awal 2000-an. Kebijakan ini membuat belanja besar-besaran digelontorkan pemerintah untuk biaya perang dan juga memberi pinjaman dengan bunga rendah untuk kepemilikan properti. Pinjaman yang sudah begitu besar ternyata hanya menciptakan Buble Condition (ekonomi gelembung/kosong) dengan kata lain tidak ada pertumbuhan fundamental yang terjadi di Amerika pada zaman tersebut kecuali pembangunan gedung-gedung mewah yang ternyata banyak mengalami gagal bayar (default). Alhasil, Amerika terperosok pada sebuah krisis keuangan yang sering disebut subprime mortgage. Perusahaan-perudahaan keuangan Amerika bergejolak dan terancam. Bahkan lembaga pembiayaan no 4 terbesar di Amerika, Lehman Brothers bangkrut akibat krisis ini. Bayangkan dengan lembaga keuangan untuk negara pemilik GDP sebesar itu mengalami kebangkrutan!, gejolak berdampak sistemik-lah yang kemudian memporak-porandakan perekonomian Amerika dan Dunia.

Pada era kepemimpinan Barack Obama, Amerika berusaha mengembalikan hegemoni kejayaan Amerika kembali ke semula. Namun tentu bukan pekerjaan yang mudah. Amerika mengeluarkan kebijakan Quantitative Easing, yang berupa pengeluaran jumlah uang beredar (dollar) dalam bentuk pencetakan uang baru atau juga surat utang Negara. Tujuannya adalah meningkatkan likuiditas (modal kerja) pasar untuk membangun kembali industri di Amerika. Tapi, ternyata kebijakan ini menyebabkan Negara-negara lain kebanjiran uang investasi yang berasal dari Amerika. Semua investor Amerika kabur membawa duit mereka itu untuk “menginapkan”-nya di Negara-negara lain (terkhusus negara emerging market).

Perlahan tapi pasti, ekonomi Amerika mulai kembali bergeliat. Perekonomian yang sempat anjlok mulai tumbuh positif. Amerika bak seperti ibu-ibu yang baru selesai pasang susuk. Berkilau-kilau dan menarik perhatian para investor yang kemarin sempat membawa kabur modal mereka. Akhirnya, capital outflow tidak lagi terelakkan. Dampaknya, Negara-negara yang  dikunjungi investasi dari Amerika, dan notabene-nya hanya untuk persinggahan, pasti menderita depresiasi mata uang lokal yang mendalam. Bagi Negara yang memang memiliki prospek perekonomian dan fundamental ekonomi yang baik mungkin para investor sedikit berbaik hati untuk bertahan, sehingga gejolak mata uangnya tidak terlampau liar. Tapi Indonesia? Wallahualam.

 

Baca kelanjutan artikel selengkapnya disini yah abang kakak semua. Semoga bermanfaat. Amin

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline