Lihat ke Halaman Asli

Muhammad Zulfadli

TERVERIFIKASI

Catatan Ringan

Di Atas Segalanya, Kita Mencintai Indonesia

Diperbarui: 21 September 2019   14:16

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

14060809301993682331

[caption id="attachment_316470[/caption]

Maka terjadilah yang harus terjadi.

Selasa malam, kemarin (22/7) Husni Kamil Malik dengan resmi menetapkan pasangan Joko Widodo- Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden terpilih untuk periode bakti 2014-2019. Pasangan nomor urut 2 ini dipilih hampir 71 juta masyarakat Indonesia yang tersebar di 33 Provinsi.

Perhitungan manual KPU selama 14 hari, dengan sendirinya mengkonfirmasi secara tegas akurasi hasil hitung cepat delapan lembaga survei yang memenangkan pasangan Jokowi-JK. Sekaligus mematahkan manipulasi data empat lembaga survei berbeda yang menyatakan pasangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa-lah sebagai pemenang, pada hari pelaksanaan, 9 Juli lalu.

****

Setelah pemilu legislatif pada 9 April silam, praktis panggung politik Indonesia hanya untuk dua nama : Jokowi dan Prabowo. Bak dua kuda pacu terdepan yang tidak terkejar pesaing. Mereka juga bagai punya magnet untuk menarik politisi dari partai-partai politik bergabung ke gerbong mereka masing-masing demi mewujudkan satu misi : Menjadi Presiden dan memimpin pemerintahan presidensial kolektif lima tahun kedepan.

Pada waktunya, Jokowi menggandeng tokoh senior politisi-pengusaha, Jusuf Kalla. Duet muda-pengalaman ini diusung partai pemenang pemilu, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Partai Banteng mengajak Partai Nasional Demokrat (Nasdem), Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura), dan Partai Keadilan Persatuan Pembangunan (PKPI). Gabungan ini mereka menamakan dengan koalisi "Indonesia Hebat", dengan identitas baju kotak-kotak dan kemeja putih. Slogannya ‘salam dua jari tengah dan telunjuk".

Di jalur berseberangan, sang rival, Prabowo Subianto memilih si rambut perak, Hatta Rajasa. Duet partai Gerindra dan Partai Amanat Nasional (PAN) ini juga disokong beberapa partai berpengalaman. Ada Partai Golkar, Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Bulan Bintang (PBB). Bahkan masuk belakangan partai yang tengah berkuasa, Partai Demokrat. Inilah koalisi merah putih dengan slogan “Indonesia Bangkit”. Di kertas suara pasangan ini mengenakan kemeja putih berkantong empat dan berkopiah.

Pertama kali dalam sejarah reformasi Indonesia, Pilpres hanya diikuti dua pasangan calon. Pada awalnya banyak yang suka dengan head to head semacam ini, lebih seru. Dipastikan tak ada putaran kedua yang akan menguras energi dan tentu saja menghemat APBN triliunan rupiah. Begitu asumsi banyak masyarakat.

Namun rupa-rupanya apa yang terjadi, masa-masa kampanye menuju tanggal pemungutan suara, pada 9 Juli, atau bahkan hingga penetapan kemarin, Indonesia dan seluruh rakyatnya dihinggapi kekhawatiran dan kecemasan atas rivalitas keras dua calon pemimpin ini. Indonesia seperti terbelah dua. Inilah pemilu paling heboh dan menyita perhatian, dalam artian negatif.

Banyak yang bilang pilpres kali ini adalah pemilu paling beringas dan mencekam. Segala cara dihalalkan untuk meraih tujuan masing-masing. Fitnah dan kebencian tersuguh setiap hari, di semua lini kehidupan dari berbagai media resmi maupun tak resmi. 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline