Lihat ke Halaman Asli

M Chozin Amirullah

TERVERIFIKASI

Blogger partikelir

Kepemimpinan Transaksional vs Transformasional

Diperbarui: 24 Januari 2024   05:32

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Foto Ilustrasi: www.forbes.com

Pemimpin adalah mereka yang mampu mengimplementasikan visinya sesuai konteks, piawai merumuskan ide, serta ulet dalam eksekusi demi imajinasi masa depannya. Pemimpin yang cakap dapat tercermin dari kemampuannya memengaruhi rekan, bawahan, ataupun barangkali, atasannya. Jika seorang pemimpin tidak mampu mengilhami siapa pun yang dipimpinnya, maka buyarlah dampak kebermanfaatannya.

“There is no more powerful engine driving an organization toward excellence and long-range success than an attractive, worth-while, widely shared, and achievable vision of the future.”

- Burton Nanus

Secara kasat mata, pemimpin biasanya mewujud dalam posisi atau jabatan tertentu seperti kepala pemerintahan, direktur perusahaan, ketua partai politik, ketua asosiasi, ketua senat mahasiswa, dan jabatan struktural lainnya. Kita lebih sering mengasosiasikan pemimpin dalam kriteria-kriteria formal, posisi yang memiliki otoritas dan kuasa, dipilih melalui kongres, pemilu, atau muktamar, juga yang dipilih berdasarkan kriteria-kriteria tertentu (Darmaputera, 2004). Itu adalah kepemimpinan formal.

Lain halnya kepemimpinan formal sebagaimana diungkapkan di atas, kita juga bisa melihat kepemimpinan bukan pada jabatan formalnya, melainkan pada kriteria sosial. Pemimpin dengan kriteria ini biasanya tidak dipertimbangkan jabatannya, karena sudah memiliki pengaruh sosial dan dapat menggerakkan masyarakat. Pemimpin model ini lebih memiliki kuasa secara de facto dalam pertimbangan-pertimbangan politis. Ia bahkan bisa secara siginifkan mempengaruhi pemegang otoritas, baik yang secara hierarkis berada di bawah ataupun di atasnya (Kenneth Blanchard, 2006).

Kepemimpian sosial bisa dibagi dalam dua kategori: kepemimpinan transaksional dan kepemimpinan transformasional. Berkaitan dengan dia kriteria tersebut, izinkan saya menceritakan dua kisah berikut ini untuk memberikan ilustrasi mengenai definisi masing-masing:

Sepakbola sebagai Kontrol Stabilitas

Ada yang menarik dari perspektif kontrol politik yang dilakukan pemerintah Hindia Belanda kala dilanda resesi ekonomi saat itu. Great Depression (depresi akut) yang terjadi di Amerika saat itu berimbas pada negara-negara timur, tidak terkecuali Hindia Belanda. Krisis itu berlangsung sejak akhir dekade 1920-an. Komoditi hasil alam yang selama ini menjadi andalan perekonomian Hindia Belanda mengalami pemerosotan harga. Dalam rentang tahun 1929-1930, barang ekspor Hindia Belanda mengalami penurunan sebanyak 28%. Sejak 1931-1935, pendapatan Hindia Belanda dari ekspor pun hanya berkisar 37% dari total pendapatan yang diperoleh di periode 1920-an (Zen RS, 2016).

Hal ini pun berimbas pada banyaknya industri yang kolaps, angka pengangguran melesat naik, berbanding lurus dengan menurunnya pendapatan nasional. Akibatnya, gelandangan berserakan ke seluruh penjuru kota, sebuah “penyakit sosial” yang dianggap seperti ancaman serius oleh pemerintah kala itu.

Para aktivis pergerakan dihantui oleh Gubernur Jenderal Bonifacius Cornelis de Jonge yang dikenal sebagai tangan besi. Ia dikenal sebagai pemimpin yang keras dengan gerakan kemerdekaan dan tidak segan memainkan pemberedelan terhadap sejumlah pers pendukung pergerakan. Hal ini didukung dengan kata-katanya yang populer saat itu: “Belanda sudah menjajah Nusantara sejak 300 tahun lalu, dan akan berkuasa sampai 300 tahun lagi” (Ingleson, 1983). Kala itu, penangkapan besar-besaran ditargetkan pada kaum pergerakan. Sukarno ditangkap kedua kalinya untuk kemudian diasingkan ke pulau Ende, menyusul Mohammad Hatta dan Soetan Sjahrir yang ditangkap dan diasingkan ke Digoel.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline