Lihat ke Halaman Asli

Beti.MC

Menulislah Selayaknya Bertutur, Mengalirlah Energi Kebaikan

Rajut Kebiasaan Menabung dengan Celengan Impian

Diperbarui: 24 Mei 2021   10:54

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

dokpri

Cihuuy, Iyuk sudah masuk, setelah berlibur Lebaran tahun ini. Aku menyambut gembira karena bakal dapat cerita yang seru sepanjang hari ini.

"Mohon maaf lahir batin, mba" sapanya di awal perjumpaan. " Ya, Yuk, sama-sama. Bagaimana Lebarannya, seneng ya ketemu keluarga?"

Jam setengah delapan lewat sedikit itu jam masuk yang dia tetapkan sendiri. Pintu pagar bergeser tanda siap menjalani tugas hari pertama. Hari ini tidak mencuci karena aku sudah mencucinya kemarin, jadi Iyuk bisa langsung menyetrika pagi ini, sambil berdiskusi menu masakan yang sudah dinanti Uti.

Sambil membersihkan kendang-kandang burung, aku mengatakan pada Iyuk untuk senantiasa waspada karena kasus Covid-19 sudah bermunculan di komplek sebelah. Dia kuminta tetap menjalankan prokes, sebelum masuk rumah mencuci kaki dan tangan serta mengenakan masker....walau masih suka kendor. Tapi khusus untuk berinteraksi dengan Uti, aku memintanya mengenakan masker dengan benar.

Dia memulai cerita tentang sanak saudaranya yang berdatangan ke rumah untuk silaturahmi karena suaminya merupakan anak tertua dalam keluarga. Dari adik, ipar, ponakan sampai cucu datang bergantian sampai-sampai Iyuk tak sempat makan saking tamu yang datang beruntun sampai malam.

Para tamu yang datang menikmati sajian makanan yang dia beli karena tahun ini sebenarnya tidak menyiapkan hidangan karena masih suasana pandemi. Suaminya bekerja sebagai penarik becak motor, merasakan sepinya penumpang sejak Corona datang. Sebelum pandemi saja sudah berjuang dengan banyaknya kreditan motor yang murah, membuat kehilangan para pelanggannya satu persatu. Eh, makin sepi sejak kebijakan pembatasan mobilitas warga.

Menurutnya, sejak bulan puasa, praktis suaminya tidak memberikan lagi uang belanja harian, itu karena suaminya harus menyiapkan sejumlah dana untuk "salam tempel" yang akan diberikan pada para ponakan atau cucu yang datang. Uang sejumlah satu juta tak cukup untuk memeriahkan Lebaran, entah jumlah persisnya berapa, tetapi uang yang ditabung sejak bulan puasa masih dirasa kurang.

Menabung, mungkin itu solusi dari kebutuhan salam tempel itu. Iyuk pernah bercerita bahwa untuk Lebaran, dia juga sudah menabung setiap minggunya untuk nantinya dibagikan dalam bentuk kue atau sembako.

Konsep menabung dengan jumlah yang kecil tetapi rutin sebenarnya tidak memberatkan, karena dilakukan dalam waktu yang cukup panjang, setahun misalnya.

Nah, konsep ini harusnya bisa juga dilakukan suaminya untuk memenuhi kebutuhan hari raya, jadi tidak mendadak hanya disiapkan dalam sebulan. Iya kalau dalam sebulan ada uang yang diterima, kalau tidak, tentu makin membuat puyeng karena tidak ada uang yang tersedia.

"Menabung, jangan dihitung, tahu-tahu nanti dapat untung." Ayo, masih ada yang ingat ini lagu dengan judul apa? Kebiasaan menabung yang doeloe sudah kita dapatkan saat kecil, sangat berguna dilakukan sampai sekarang.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline