Lihat ke Halaman Asli

Warisan Faisal-Biem untuk Indonesia

Diperbarui: 25 Juni 2015   03:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Politik. Sumber ilustrasi: FREEPIK/Freepik

Putaran I Pilkada DKI Jakarta telah usai, dimana Jokowi-Ahok dan Foke-Nara melaju ke putaran kedua (menurut hasil Quick Count). Jagoan saya pasangan Faisal Basri - Biem Benjamin gugur di putaran pertama (menurut hasil Quick Count). Tapi ya bisa dibilang hasil Quick Count keakuratannya tinggi, jadi ya saya yakin tidak akan ada perbedaan signifikan antara hasil KPUD dengan Quick Count.

Artinya langkah Faisal Basri dan Biem Benjamin terpaksa terhenti di Pilkada DKI Jakarta 2012. Namun gue sempet berdiskusi sama berberapa temen-temen gue, Seperti Samuel, Loecia yang mempunyai pemikiran sangat maju, ngga heran dia bisa menjadi koor. acara dari sebuah conference terbesar yg diselenggarakan untuk gerakkan pemuda, dan Rizky Bagus seorang koor. acara dari event marketing terbesar yang diselenggarakan mahasiswa di Indonesia.

Kita semua sepakat, bahwa apa yang dilakukan pasangan Faisal Basri dan Biem Benjamin tidaklah sia-sia, justru diantara ke-enam kandidat beliau lah yang memberikan sumbangsih paling besar untuk jangka panjang. Kami sepakat bahwa kita semua sudah bosan dengan partai politik. Partai politik yang katanya mengaspirasikan suara rakyat di gedung DPR sana, ternyata malah menutup kuping mereka terhadap suara rakyat. Menggangap suara mereka sendiri bagaikan suara dewa yang paling benar, paling ampuh. Kami tak perlu suara rakyat, pikir mereka, kami bisa mengerjakan nya semua sendiri, kami manusia-manusia super.

Anggota parpol-parpol, terutama yg di DPR dan DPRD ini, hidup mewah menggunakan uang rakyat. Mobil dinas bagus, anggaran studi banding ke luar negeri yang konyol, berbagai fasilitas dan tunjangan, dan bahkan melakukan korupsi terhadap uang rakyat.

Belum lagi berbagai kebijakan yang bukan ber-orientasi kepada rakyat, melainkan kepada perusahaan-perusahaan yang berani membayar mereka dengan uang yang banyak, yang memberikan mereka berbagai previledge. Hal ini mengakibatkan kesenjangan sosial makin tinggi di Indonesia.

Hak rakyat untuk berdaulat dirampas, diperkosa. Mereka terus-terusan menari di atas rintihan suara rakyat. Hati mereka membatu, hilang kemanusiaan di hati mereka. Mereka menjadi binatang-binatang tamak yang tak punya harga diri lagi, hanya mengincar uang dan kekuasaan. Rakyat pun menjadi semakin skeptik dibuatnya.

Namun pasangan Faisal Basri dan Biem Benjamin muncul, beliau mengingatkan kita bahwa kita bisa merdeka dari penjajahan partai politik. Bahwa harapan untuk hidup berdaulat masih ada. Kalau mau berdaulat, kita harus melawan jangan diam saja. Mereka bisa dibilang mengorbankan dirinya, untuk menjadi contoh awal gerakan Independen, agar orang-orang lain di berbagai daerah di Indonesia berani melawan partai politik dan melakukan gerakan independen juga.

"Ini bukan sekedar pilkada, ini gerakkan. Gue yakin ini akan terus berlanjut, seperti Zaman Pergerakkan Nasional dulu." Kata-kata Rizky Bagus kepada saya. Benar sekali, langkah yang dilakukan pasangan Faisal - Biem ini adalah langkah awal untuk sebuah gerakkan lebih besar lagi. Mungkin nanti akan muncul berbagai kandidat independen dari berbagai daerah. Selain itu muncul juga kesadaran berpolitik bagi rakyat Indonesia. Sadar untuk berpolitik secara cerdas dan tidak manja (silahkan baca tulisan saya sebelumnya yang berjudul MANJA).

Dimana motor dari gerakkan ini adalah para pemuda-pemuda cerdas yang rindu akan perubahan iklim perpolitikkan Indonesia, yang bukan berorientasi kepada partai politik, melainkan kepada rakyat. Dimana bukan rakyat menjadi alat bagi partai politik untuk berkuasa, melainkan partai politik adalah alat bagi rakyat untuk berdaulat.

Selain gerakkan independen ada satu warisan berharga lagi yang diberikan oleh pasangan Faisal-Biem. BERDAYA BARENG-BARENG. Konsep ini sederhana sebenernya, namun merupakan konsep yang benar-benar efektif. Kalau kita ingin memperbaiki suatu kota, Jakarta misalnya atau bahkan negara ini, jangan hanya mengandalkan pemerintahnya saja, jangan mengandalkan satu orang. Satu orang akan sulit memperbaiki semuanya, tapi kalau banyak orang bersatu dan bertekad bersama-sama pasti bisa memperbaiki bangsa ini.

STOP! Rengek-rengekkan Jakarta banjir melulu, tapi kita masih buang sampah sembarangan ke kali. STOP! Rengekkan Jakarta macet melulu tapi kita masih nerobos lampu lalu lintas, atau ketika naik kendaraan umum berhenti di sembarang tempat, bukan di halte terdekat.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline