Lihat ke Halaman Asli

Bambang Trim

TERVERIFIKASI

Pendiri Penulis Pro Indonesia

Apa Kabar Pameran Buku Indonesia?

Diperbarui: 22 November 2022   10:02

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Ilustrasi- Pengunjung menyaksikan buku-buku langka yang dipajang dalam pameran buku dan komik langka di Perpustakaan Nasional RI di Jakarta, Senin (29/8/2022).|KOMPAS/PRIYOMBODO

Lama sudah saya tak berkunjung ke pameran buku, kecuali bazar buku seperti Big Bad Wolf. Mungkin juga karena sudah mencapai titik jenuh karena sejak tahun 1998 bergiat di industri buku, saya tidak pernah absen menghadiri pameran buku di Jakarta, Bandung, dan terkadang Yogyakarta. Kepentingannya berjualan buku, mengamati tren, bersilaturahim dengan rekan-rekan pegiat buku, dan tentu saja berburu buku.

Hari Ahad, 13 Januari 2022, saya harus hadir di Indonesia International Book Fair (IIBF) yang digelar Ikapi, di Hall B, Jakarta Convention Center. Saya menjadi narasumber sebagai penulis buku Sejarah Perbukuan: Kronik Perbukuan Indonesia Melewati Tiga Zaman. Acara ini juga menjadi pemecah kevakuman saya tampil di panggung pameran buku selama beberapa tahun.

Sumber Foto: Tangkapan layar FB Zamri Mohamad

Ada kerinduan memantik dari dalam diri untuk menikmati debur gagasan di lautan buku. Namun, perbukuan Indonesia memang sedang banyak diempas ombak masalah. Demikian terlihat pada kongres asosiasi perbukuan sejagat (International Publisher Association, 10--12 November 2022) di IIBF karena Indonesia menjadi tuan rumah. Isu yang diangkat adalah soal hak cipta dan pembajakan buku yang terutama di Indonesia tidak pernah padam, bahkan malah makin menyala tanpa rasa.

Perbukuan juga tengah menghadapi disrupsi teknologi dan dipaksa beradaptasi dengan keadaan untuk melahirkan para pembaca buku generasi baru. Namun, kerja-kerja kreatif penerbitan buku sejatinya tidak akan pernah padam karena buku telah menjadi kebutuhan primer untuk memenuhi dahaga pengetahun, informasi, dan hiburan. Buku masih mempertahankan bentuknya yang tradisional dan juga mencoba bersolek dengan bentuknya yang digital.

Bicara soal pameran buku di Indonesia memang pernah mencapai masa terlalu berlebihan. Hampir setiap bulan ada pameran buku seperti yang pernah terjadi di Yogyakarta, Bandung, dan Jakarta. Hingga kemudian mencapai titik jenuh dan saluran pameran buku tidak lagi dapat diandalkan dalam penjualan buku. 

Para pelaku perbukuan yang mulai melempem berpameran tiba-tiba dikejutkan dengan model bazar yang digelar oleh Big Bad Wolf---EO acara ini merupakan perusahaan asing. Bazar buku internasional itu dibanjiri oleh pengunjung yang dianggap sudah jenuh dengan pameran buku ala Indonesia.

Di Jakarta, Ikapi DKI masih bertahan dengan tradisi Islamic Book Fair sebagai pameran buku yang selalu disesaki pengunjung. Di Yogyakarta muncul pameran buku Patjar Merah yang unik sehingga menyegarkan penyelenggaraan pameran buku selama ini. 

Di Bandung, Ikapi Jabar yang menguasai tradisi pameran buku masih tidak mampu beranjak dari pola lama sehingga ketika Covid-19 melanda, praktis tak ada lagi pameran buku. Ikapi Pusat mempertahankan IIBF juga dengan tertatih karena sempat tak berkutik diempas badai Covid-19.

Apakah tradisi pameran buku di Indonesia masih akan menarik bagi para pengunjung, terutama pengunjung milenial dan Gen Z. Saya beryakinan tradisi ini masih akan memikat dengan sentuhan kreatif karena bagaimana pun dunia buku juga melahirkan selebritas-selebritas yang selalu memancing banyak orang untuk datang. Setiap pameran buku pasti menghadirkan selebritas itu, termasuk selebritas di dunia hiburan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline