Lihat ke Halaman Asli

Free as a Bird

Diperbarui: 12 Agustus 2015   19:39

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

 

Free as a bird... It’s the next best thing to be... Free as a bird...

 

SEPERTI RAJAWALI yang membentangkan sayapnya dan terangkat aku tinggal landas ke angkasa. Semua petunjuk instruktur beberapa menit sebelumnya, untuk sepersekian detik tiba-tiba lenyap dari benakku sehingga kakiku tertekuk ke belakang dengan dengkul beberapa centi dari lereng gunung, nyaris terpapras. Sigap laki-laki di belakangku membantu memperbaiki posisi dudukku dan membuatku nyaman. Tapi melesat di udara, menukik, memutar, naik ketinggian, menerjang bibir gunung dalam kegiatan yang sangat mempertaruhkan nyawa, betapa pun dia sudah berusaha membuatku nyaman, tetap saja aku berteriak tak terkendali.

“Shiiit! Damn it! God! Damn God! It’s cooooool!! Oh man, this is shiiit!!” dan serentetan serapah yang lahir dari campuran rasa, antara takut dan takjub.

“Is this safe?” tanyaku.

“It’s okey. We just fly, and try to enjoy!”

“Oh, man, your job is cool.”

Kudengar tawanya di sela keteganganku. “Thaks!”

Tak kusangka kalimat pujianku itu membawa perbincangan menarik tentang diri Mas Taufik, salah satu instruktur paralayang yang beroperasi di gunung Banyak yang kebetulan menjadi pilotku. Belakangan, istri dan sahabatku yang mengamati penerbanganku dari landasan landing di bawah mengatakan kami melesat lebih tinggi dari yang lain (tiga sahabatku sudah terbang mendahuluiku) dan lebih lama di angkasa, nyaman seperti elang yang mengintai daratan.

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline