Lihat ke Halaman Asli

Adjat R. Sudradjat

TERVERIFIKASI

Panggil saya Kang Adjat saja

Seharusnya Arteria Dahlan Bijak dan Jangan Asal (Minta) Main Pecat

Diperbarui: 20 Januari 2022   09:00

Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.

Politikus PDIP, Arteria Dahlan (Source: kompas.com/DYLAN APRIALDO RACHMAN)

Urang Sunda tersinggung. Permintaan politikus PDIP, Arteria Dahlan, yang meminta seorang Kepala Kejaksaan Tinggi untuk dipecat oleh Jaksa Agung, lantaran menggunakan bahasa Sunda dalam suatu forum, menjadi pembicaraan khalayak yang ramai berdengung. 

Bak maung (macan) Siliwangi yang marah mengaum. Hujatan demi hujatan yang disuarakan memenuhi setiap ruang. 

Celakanya, partai politik pimpinan Megawati Soekarnoputri pun sampai-sampai menjadi sasaran untuk diluluh-lantakkan di Pemilu 2024 mendatang, apabila Arteria Dahlan, tidak meminta maaf kepada urang Sunda, dan dipecat dari kedudukannya sebagai anggota dewan di Senayan.

Kemarahan yang spontan, lantaran merasa akar budaya warisan nenek moyangnya disepelekan, adalah suatu hal yang wajar. Bisa terjadi kepada suku bangsa manapun juga.

 Dan sikap anggota DPR RI dari fraksi PDIP tersebut jelas sudah dianggap sebagai suatu yang bertentangan dengan aturan perundangan, maupun dalam konteks kesatuan dan persatuan dalam berbangsa dan bernegara yang seharusnya dijunjung tinggi.

Memang benar. Marwah Soempah Pemoeda yang dikumandangkan pada 28 Oktober 1928 silam, merupakan suatu keniscayaan yang harus tetap dipertahankan di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara di negeri ini.

Akan tetapi, perlu diingat juga, lahirnya bahasa Indonesia tidak terlepas dari keragaman berbagai bahasa dari setiap suku bangsa di Indonesia ini yang begitu banyak jumlahnya dari Sabang hingga Merauke, dari Miangas sampai pulau Rote.

Bahkan perlu diingat. Dalam setiap forum internasional, yang dihadiri oleh para pemimpin negara dari berbagai belahan dunia, banyak kepala negara, termasuk Presiden Jokowi misalnya, yang menggunakan bahasa Indonesia.

Apakah di dalam forum internasional tersebut seluruh audiens -nya mengerti kata-kata yang disampaikan Jokowi dalam bahasa Indonesia? Tentu saja tidak. Penyelenggara sudah menyediakan tenaga penterjemah untuk setiap audiens-nya dalam bahasa masing-masing, tentu saja.

Jadi kenapa tidak di Senayan pun disediakan tenaga penterjemah bahasa dari berbagai daerah misalnya, supaya seorang Arteria Dahlan tidak naik darah? 

Halaman Selanjutnya


BERI NILAI

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?

BERI KOMENTAR

Kirim

Konten Terkait


Video Pilihan

Terpopuler

Nilai Tertinggi

Feature Article

Terbaru

Headline