Humaniora

Dangdut dan Sastra Pembebasan

14 April 2018   06:44 Diperbarui: 14 April 2018   07:47 496 1 0

Sore itu Bandung macet, semua orang memacu kendaraan entah kemana. Tepat di pinggir kemacetan ada warung kopi, hanya bilik sempit dari seng dan kayu. Ada tukang becak sedang meregangkan badan, ada tukang bangunan sedang bersantai setelah mengaduk semen seharian, ada driver ojek online yang menunggu orderan, ada pekerja kantoran yang sedang memesan kopi susu, pokonya banyak orang lah!

Radio memutar lagu "Perjuangan dan Doa" dari Rhoma Irama, lalu berganti menjadi "Gubuk Bambu" nya Meggie Z.

"Siang malam aku membanting tulang demi hidup di masa depan.

Dalam gubuk bambu, tempat tinggalku, kurenungi nasibku.

Suatu saat nanti nasib berubah.

Kuhapus derita dan air mata, kunyanyikan selalu lagu ceria."

"Sastra Realisme Sosial"

Tahun '50 - '60 an, dunia sastra dihebohkan oleh sastra realisme sosial nya LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat). Gaya sastra ini merupakan bentuk protes dan pemberontakan terhadap ketidakadilan dan "konflik kelas".

Para sastrawan nya meyakini bahwa sastra adalah alat revolusi menuju masyarakat tanpa kelas. Maka sastra ini mengambil petani, buruh, kuli, pekerja kasar, dan nelayan sebagai subjek karya.

Sastrawan realisme sosial diantaranya Sabar Anantaguna, Semaoen, Martin Aleida, dan Pram. Karya mereka dipengaruhi oleh Maxim Gorky, Leo Tolstoy, bahkan Hemingway. Para sastrawan inilah yang dengan konsisten mengangkat rakyat tertindas dan deritanya sebagai esensi karya karya mereka.

Namun akhirnya, semua bias karena propaganda "kekuasaan" yang terlalu besar dalam karya seniman seniman itu. Pun terjadi kebingungan, karena petani dan buruh tidak membutuhkan sajak atau puisi yang kompleks.

Begitu pula dengan sastra pembebasan ala Wiji Thukul, apakah nelayan dan kuli butuh puisi puisi kontemporer? apakah mereka perlu interpretasi sastra agar bisa makan setiap hari?

Pada akhirnya, sastra hanya menjadi orasi ditengah penindasan. Sastra tidak bisa menghilangkan ketidakadilan. Sastra hanya bisa mengutuk dan menyumpahi kesenjangan.

"Sastra Dangdut"

Dangdut menjadi sastra rakyat karena ia menyuarakan realita, seperti kemiskinan, gelandangan, kawin lari, hamil diluar nikah, kesulitan mencari uang, bahkan kelaparan.

Dangdut bukan alat revolusi atau alat kritik pemerintah. Dangdut hanyalah ajakan "bergoyang" ditengah penderitaan. Dangdut menyuarakan kemiskinan yang terjadi dengan cara yang menggembirakan. Dangdut adalah sastra rakyat yang sejati, sastra yang mengajak semua "pembaca" (penyawer) nya untuk bersenang senang dan untuk menghadapi semua penderitaan dan kemiskinan.

Toh bagi wong cilik, kemiskinan dan ketidakadilan tidak mempan disuarakan keras keras di rapat paripurna. Semua itu harus dihadapi dan dinikmati dengan goyangan, gendang, dan suling.