Mohon tunggu...
north
north Mohon Tunggu... Students

listening to the beatles

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Yang Harusnya Kita Tulis Mengenai Kelompok Difabel

19 September 2020   20:17 Diperbarui: 19 September 2020   20:25 28 6 1 Mohon Tunggu...

Kesadaraan mengenai kesetaraan harusnya dimaknai secara lebih luas dan dalam lingkup yang lebih jauh. Dalam hal ini, pandangan mengenai manusia dan segala ketidaksempurnaannya---serta menerima itu sebagai bagian dari mereka---adalah sebaik-baiknya prinsip mengenai kesetaraan.

Kesetaraan berbeda dengan kesamaan. Sebab letaknya ada pada konsep penerimaan mengenai betapa kompleksnya manusia berikut jenis-jenisnya dan memahami bahwa semua manusia adalah bagian dari kita. Bagaimanapun fisiknya, bagaimanapun pemikirannya, bagaimanapun kemampuaannya. Dan hal lainnya yang kadang masih menjadi halangan untuk kita memahami konsep ini.

Kondisi fisik manusia sangat beragam, yang mana hal tersebut merupakan pemberian dari Tuhan dan kita tidak bisa meminta untuk menambah atau mengurang. Fisik ataupun hal yang menyertainya adalah sebuat paket yang membersamai kita sejak lahir. Begitupun ketika untuk beberapa orang memiliki fisik berbeda dengan kelompok lainnya yang menyebabkan mereka memiliki kemampuan yang berbeda dengan orang lain. Kelompok ini disebut dengan difabel.

Kata difabel digunakan karena dinilai lebih halus dan tidak diskriminatif. Apabila diartikan secara harfiah, difabel merupakan kata serap dari istilah dalam bahasa Inggris, diffable. Dilansir dari urbandictionary.com, diffable merupakan, "Someone who has different abillities." Atau bisa diterjemahkan secara bebas sebagai seseorang dengan kemampuan yang  'berbeda'. 

Di laman English Oxford Living Dictionaries pula menyebutkan bahwa diffable adalah akronim dari differently abled dan pertama kali digunakan sekitar tahun 1980 sebagai alternatif dari kata disabled atau ketidakmampuan. 

Kata difabel jelas memiliki makna yang lebih positif dan tidak ada kesan merendahkan orang lain ketika kita menyebutnya demikian. Orang difabel sama persis dengan kita sebagai individu dan manusia namun dengan kemampuan yang berbeda.

Walaupun zaman sudah semakin maju dengan pemikiran manusianya yang sudah semakin terbuka dan semakin modern, kelompok difabel tetap saja menjadi bagian dari kelompok marjinal yang rawan didiskriminasi. 

Baik dari segi pekerjaan maupun kehidupan secara umum, kelompok difabel masih dianggap tidak mampu atau tidak memiliki kapabilitas untuk melakukan suatu aktivitas tertentu. Selain itu, pengistilahan difabel dengan "cacat" menyebabkan adanya stigma bahwa kelompok difabel merupakan objek, bukanlah subjek.

Menyikapi ini, pers bisa mengambil peran yang cukup dominan---terutama dalam menjelaskan kepada masyarakat. Saat ini kelompok difabel masih mengalami diskriminasi karena adanya stigma-stigma yang terlanjur menjadi budaya di masyarakat. Yang terjadi sekarang, pemberitaan-pemberitaan mengenai difabel masih relatif sedikit. 

Beberapa kelompok difabel sendiri menilai bahwa pemberitaan soal mereka cenderung malah mendiskriminasi mereka dengan penyebutan mereka sebagai cacat. Contohnya, dalam pemberian judul, "Cacat Tidak Membatasi Si C untuk Terus Berprestasi." Kalimat seperti ini cenderung menyakiti kelompok difabel.

Untuknya, pers bisa mengubah stigma itu dengan mulai menghargai difabel tidak semata-mata menjadi subjek, melainkan objek. Hal ini bisa dilakukan dengan mulai menggunakan istilah-istilah atau kata-kata penyebutan difabel sebagaimana yang diinginkan mereka. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x