Mohon tunggu...
Ammar Muhammad
Ammar Muhammad Mohon Tunggu...

Student | Traveller | Bachelor of Art in History | @ammarm_26 | ammarm2603@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Kisah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat

5 Maret 2019   19:39 Diperbarui: 5 Maret 2019   22:02 574 2 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kisah Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat
Tampak depan Keraton Yogyakarta

Yogyakarta merupakan kota pelajar yang sarat akan bangunan bersejarah. Salah satu icon Yogyakarta yang merupakan bangunan bersejarah adalah Keraton Yogyakarta. Keraton ini mulai dibangun pada tahun 1755 atau setidaknya sudah 264 tahun yang lalu.

Sebelum menjadi sebuah kerajaan, lokasi berdirinya Keraton Yogyakarta dulunya adalah sebuah pesanggrahan, bernama Garjitawati. Tempat ini digunakan sebagai tempat beristirahat iring-iringan yang membawa jenazah raja-raja Mataram yang akan dikebumikan di Imogiri. Sampai saat ini, jalan yang digunakan untuk iring-iringan jenazah raja masih dijaga dengan baik. Namun, jalan ini terlarang dilewati oleh raja Yogyakarta yang masih memimpin.

Keraton sebagai Penyeimbang

Sri Sultan Hamengkubuwono I dulunya tinggal di Pesanggrahan Ambar Ketawang, sebelah selatan Yogyakarta. Namun, setelah perjanjian Giyanti, Pangeran Mangkubumi / Sri Sultan Hamengkubuwono I melirik Pesanggrahan Garjitawati. Pemilihan lokasi ini pun tidak sembarangan. Banyak filosofi yang melingkupinya. Salah satunya, letak keraton yang memang strategis. Yakni di bangun diantara dua sungai besar, di sebelah barat sungai Winongo dan sebelah timur sungai Code.

Selain itu, letak keraton pun berada di garis lurus dengan Gunung Merapi dan Laut Kidul. Menurut Profesor Damarjati Supadjar (Mantan Guru Besar Filsafat UGM), keraton memilih lokasi ini karena berperan sebagai penyeimbang antara api dan air. Api dilambangkan oleh Gunung Merapi dan air dilambangkan oleh Laut Selatan.

Bentuk Bangunan Keraton

Sri Sultan Hamengkubuwono I nampaknya tidak hanya mencetuskan pembangunan Keraton Yogyakarta saja, namun juga merancang sendiri tata ruang dan arsitek umumnya, Tidak dipungkiri bahwa Sultan HB I memang seorang arsitek yang handal di zamannya. 

Tata ruang keraton berhasil digarap antara tahun 1755-1756. Masa itu bagian utama keraton dimulai dari Gapura Gladag sampai Plengkung Nirboyo. Sedangkan tata ruang yang sekarang ini sudah ditambahkan oleh sultan Yogyakarta berikutnya. Pemugaran dan restorasi paling kentara dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono VIII.

Bangunan keraton identik dengan bentuk joglo. Ada dua macam joglo yang mendominasi, yakni yang terbuka (bangsal) dan yang memiliki dinding (gedhong). Atapnya cenderung berbentuk trapesium. Biasanya menggunakan genting tanah atau seng.

Keraton sebenarnya memiliki banyak gedung yang mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Untuk kompleks intinya sendiri terdiri dari Pagelaran, Siti Hinggil Lor, Kamandhungan Lor, Sri Manganti, Kedhaton, Kamagangan, Kamandhungan Kidul, dan Siti Hinggil Kidul. 

Sedangkan untuk kompleks depan terdapat Gladhag-Pangurakan, Alun-alun Lor, dan Masjid Gedhe Kasultanan. Untuk bagian belakang terdapat Alun-alun Kidul dan Plengkung Nirbaya. Selain beberapa tempat tersebut, masih ada tempat lainnya yang berada di sekitar keraton. Letaknya berada di bagian kanan dan kiri. Kompleks keraton memiliki pembatas berupa dinding yang tebal (benteng).

Sebagai Heritage Jogja

Seiring berjalannya waktu, keraton kemudian dibuka untuk umum. Kita bisa melihat beberapa gedung maupun barang-barang yang dipamerkan di tempat tersebut. Contohnya kereta, lukisan para sultan yang pernah berkuasa, alat musik yang sudah tidak digunakan, beberapa macam batik, dan masih banyak lagi. Selain itu, kita juga bisa menikmati kebudayaan khas keraton melalui film dokumenter tentang adat istiadat yang pernah dilakukan di lingkungan kerajaan.

Tidak dipungkiri, memang hanya beberapa tempat saja yang bisa dinikmati secara umum. Masih ada beberapa ruangan dan bangunan keraton yang tertutup. Hal ini dikarenakan sampai saat ini, keluarga keraton masih menempati keraton sebagai tempat tinggal pribadinya.

VIDEO PILIHAN