Mohon tunggu...
Mohammad Amir
Mohammad Amir Mohon Tunggu... -

Jamaah Maiyah.Kuliah di Universitas Maiyah Nusantara.Sedang menekuni pekerjaan sebagai karyawan di pabrik ban Dunlop

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Metode Pembelajaran ala Anwar Jundi

15 September 2016   10:41 Diperbarui: 15 September 2016   10:46 15
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Humaniora. Sumber ilustrasi: PEXELS/San Fermin Pamplona

Guru ibarat cermin,ungkapan yang banyak diungkapkan guru= digugu dan ditiru.Sehingga dapat dikatakan guru itu sebagai panutan bagi siswa untuk mencetak agar cerdas otak dan akhlaknya.

Manusia pada dasarnya  suci sehingga orangtuanyalah yang akan merubahnya menjadi yahudi,nasrani ataupun majusi.Tetapi suci disini bukanlah seperti kertas putih dalam artian tidak ada bakat bertauhid seperti yang dikemukakan oleh John Lock (aliran empirisme) dalam teori tabularasa yang kontroversialnya itu,tetapi suci disini manusia mempunyai dasar tauhid.Kemudianlah pendidikan yang akan mencetaknya.Ki Hajar Dewantara pernah mengungkapkan bahwa pendidikan itu terdiri dari dasar dan ajar.Dasar itu bakat yang dimiliki sejak lahir sedangkan ajar berarti pendidikan.

Dari hal itu maka sedemikian besar peran serta guru untuk merubah,mencetak dan mendidik seseorang siswa sehingga kelak akan menjadi siswa yang cerdas otak dan juga akhlaknya.

Anwar Jundi dalam kitabnya “At Tarbiyah wa bil haul ajyal fi dlouil islam” membagi metode pembelajaran menjadi 4 metode :

1.Metode Nasihat ( Thoriqoh bil mau’idhoh)

Metode ini biasanya dilakukan guru dengan cara memberikan nasihat seperti bagaimana cara menghormati guru (menyapa guru,bersalaman dan lain seagainya),bertutur kata yang baik,menghormati orang tua,cinta kepada Allah dan RosulNya.Biasanya metode ini menjelaskan dengan kebenaran,memotivasi untuk beramal dan peringatan adanya kemadhorotan yang harus dihindari.Misalnya saja nasihat untuk bertauhid,menegakan amar ma’ruf nahi munkar.

2.Metode dengan perkataan yang jelas

Guru dituntut untuk memiliki sifat komunikatif artinya mudah dipahami nyambung dan mudah diserap siswa.misalnya guru memberi materi pelajaran akhlak semacam menghormati orang tua.Anak dipaksa secara halus untuk meniru akhlak Rosululloh perlahan-lahan tetapi maksud tujuannya jelas.

3.Metode teladan yang baik

Anwar Jundi menegaskan bahwa siswa lebih banyak mengambil pelajaran melalui ikut-ikutan dan meniru perbuatan dibandingkan melalui nasihat-nasihat dan petunjuk secara lesan.Nasihat mungkin seperti paksaan secara halus namun meniru dan tiruan lebih efektif untuk siswa dalam berubah.Dalam prakteknya metode ini ada 2 carayaitu direc maksudnya guru memberi teladan,agar ditiru yang kedua non direct yaitu menceritakan kisah-kisah kepahlawanan,syuhada,nabi/rosul,dan orang-orang yang menginspirasi lainnya sehingga siswa bisa menjadikannya sebagai uswatun hasanah.

4.Metode merenungkan/memikirkan masa lalu (ibroh wa bil qishoh).Dalam metode ini siswa diajak untuk merenungkan kisah-kisah orang-orang yang saleh atau nabi/rosul.Misalnya dalam kisahnya Nabi Yusuf itu terdapat suatu I’tibar,sehingga siswa bisa diajak merenungkannnya sehingga hal ini bisa melatih berfikir sehat dan dapat meningkatkan akhlak yang baik.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun