Mohon tunggu...
Amilatur Rohma
Amilatur Rohma Mohon Tunggu... Mahasiswa - Physics Student - Enthusiast

Sedang dalam masa pertumbuhan

Selanjutnya

Tutup

Teknologi Pilihan

Ekspedisi Energi untuk Dukung Net Zero Emission

14 Oktober 2021   13:08 Diperbarui: 14 Oktober 2021   13:21 230 11 2
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Dokumentasi pribadi (©Nata)

Permasalahan energi menjadi salah satu prioritas pembangunan nasional. Seiring bertumbuhnya populasi yang meningkat, maka semakin banyak kebutuhan energi listrik yang harus disalurkan ke tiap pengguna. Sumber energi listrik yang ada saat ini masih bergantung pada sumber energi yang terbatas seperti fosil, batubara, gas alam dan bahan bakar minyak (BBM). Jika sumber energi tersebut digunakan secara terus menerus, maka suatu saat energi tersebut akan habis. Peningkatan  konsumsi tanpa eksplorasi tentunya membuat kita semakin dekat dengan krisis energi. Belum lagi masalah emisi yang dilepaskan. Energi menjadi 90% penyumbang emisi global karena lebih dari 80% sumbernya masih energi fosil.

Saat ini penggunaan sumber energi di dunia masih didominasi oleh energi fosil, yaitu 65%, sedangkan porsi energi terbarukan baru mencapai 10%, dan nuklir 4,5% (Dewan Energi Nasional, 2021). Cita-cita dunia untuk menuju Net Zero Emission (NZE) atau bebas dari emisi karbon adalah transisi energi akan membalik posisi tersebut menjadi 90-95% energi bersih dan 5-10% energi fosil. Risiko penggunaan fosil bukan hanya terletak pada kesediaannya, namun juga dari emisi yang dihasilkan mengakibatkan perubahan iklim yang tentunya berdampak panjang di masa mendatang.

Net Zero Emission

Net zero emission sebenarnya sudah diperkenalkan sejak 2008, namun belakangan NZE kian menjadi sorotan setelah Konferensi Tingkat Tinggi Iklim di Paris pada 2015 yang mewajibkan negara industri dan maju mencapai nol-bersih emisi pada tahun 2050. Di Indonesia sendiri, target NZE mulai menghangat dan ambisius untuk dicapai sejak Maret lalu ketika Direktur Jenderal Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan mempresentasikan terkait Long Term Strategy on Low Carbon and Climate Resilience 2050. Hasilnya, Indonesia menargetkan akan mencapai kondisi NZE 20 tahun lebih lama dari yang ditargetkan dalam Perjanjian Paris yaitu pada tahun 2070. Sedangkan pada Mei lalu, Pemerintah melalui Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi mengumumkan bahwa target NZE Indonesia adalah tahun 2060 atau lebih cepat.

Net zero emission merujuk pada kondisi nol bersih emisi yaitu ketika sisa emisi gas rumah kaca diseimbangkan oleh teknologi yang menghilangkannya dari atmosfer. Istilah nol bersih emisi ini tidak serta merta memberikan pengertian bahwa manusia benar-benar berhenti memproduksi emisi alias emisi yang dihasilkan nilainya nol. Manusia sendiri menghasilkan karbon. Secara alamiah, selama manusia masih bernapas, maka emisi karbon akan selalu ada.  Pohon, tanaman hijau dan perairan sebenarnya mampu menyerap karbon secara alami melalui fotosintesis. Namun, apa yang terjadi jika karbon yang ada terlepas ke atmosfer, menebal kemudian memantul kembali ke bumi. Maka terjadilah efek rumah kaca yang biasa kita sebuat dengan Global Warming atau pemanasan global.

Transformasi ke Energi Baru dan Terbarukan 

Permasalahan energi bukan hanya memberikan konsekuensi perubahan iklim namun membutuhkan solusi mengenai alternatif penggunaan energi selain dari sumber daya yang selama ini digunakan. Mengingat kebutuhan listrik nasional akan semakin meningkat, Indonesia dituntut melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan eksplorasi sumber Energi Baru dan Terbarukan (EBT) yang bersih dan terjangkau sekaligus sebagai upaya pelestarian lingkungan. Indonesia memiliki banyak sekali potensi sumber energi terbarukan (renewable energi) yang lebih ramah lingkungan seperti pemanfaatan aliran sungai, bayu, ombak dan cahaya matahari. Karena itu, menaikkan bauran energi terbarukan menjadi salah satu cara mencapai net zero emissions. Lantas apa yang bisa kita lakukan, setidaknya dalam tingkatan individual?

“Masa depan dunia lebih banyak ditentukan moralitas keputusan kita sekarang”. (Soedjatmoko-Intelektual Indonesia)

Langkah yang bisa kita lakukan untuk mengurangi emisi adalah dengan mengoptimalkan potensi sumber daya alam sebagai sumber energi baru dan terbarukan. Kita harus bersyukur bahwa sepanjang tahun, Indonesia disinari matahari. Sumber energi yang kadangkala membuat kita kepanasan karena teriknya ini sangat potensial untuk dikembangkan. Potensi pengembangan energi surya sangat besar, tercatat menurut EBTKE ESDM (2019), Indonesia memiliki potensi energi surya sebesar 207.898 MW (4,80 kWh/m2/hari). Angka yang sangat besar dibandingkan dengan penggunaannya yang baru sekitar 0.05%. Potensi tesebut didukung pula oleh intensitas radiasi matahari rata-rata 2.5 kWh/m2 hingga 5.7 kWh/m2. Apa yang bisa kita lakukan? Mengoptimalkannya dengan membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) tentunya.

Untuk mempercepat pengembangan EBT, rupanya Pemerintah Indonesia juga telah menyiapkan roadmap dan mendorong pengembangan industri panel surya. Setidaknya usaha itu dapat dilihat dari pertumbuhan sel surya  yang mencapai 486% dalam tiga tahun terakhir. Komitmen ini harus terus dijaga dengan menaikkan kapasitas pembangkit, merealisasikan industri hijau dan mendorong instalasi PLTS di tingkat rumah tangga. Salah satu alasan terbesar PLTS sulit berkembang di Indonesia adalah biaya investasi. Biaya instalasi panel surya memang tidak murah, namun jika pemerintah benar-benar berkomitmen serta dengan tegas menciptakan harga yang kompetitif, maka tidak mustahil dalam beberapa tahun ke depan, energi di Indonesia akan didominasi oleh pembangkit listrik tenaga surya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Teknologi Selengkapnya
Lihat Teknologi Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan