Aluzar Azhar
Aluzar Azhar Penyuluh Agama Non PNS

Berbuat baik kok malu, jadi weh ...

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Lima Artikel Saya di "Humaniora" Kompasiana

12 Januari 2018   04:15 Diperbarui: 12 Januari 2018   04:26 651 0 0
Lima Artikel Saya di "Humaniora" Kompasiana
Foto: Ilustrasi

Di sepanjang 2017, ada 7 (tujuh) artikel yang saya kirim ke rubrik "Humaniora" Kompasiana. Kemudian, saya pilih menjadi 5 (lima) artikel dengan asumsi 'mewakili' hiruk-pikuk 2017 versi saya. Apakah ke-5 artikel itu konten terbaik se-Kompasiana dan sepanjang 2017?

Artikel Pertama: Puisi | Jangan Ketemu Dulu

Mengapa medium 'puisi' saya kirim ke rubrik "Humaniora", bukan ke rubrik "Puisi" atau ke "Fiksiana"? Argumen saya, karena dominan non-fiksinya alias fakta dan yang utama karena 'pesan' yang ingin saya sampaikan--semoga--humanis.

aduh, kawan, jangan ketemu dulu

nanti, kamu bercerita kekinian

yang kamu peroleh dari galian darahmu

sehingga kamu kini menjelma vampir

Bait kesatu dari empat bait itu, sungguh berulang terjadi, ketika bertemu dengan kawan dari SD (sekolah dasar) hingga PT (perguruan tinggi). Sungguh, saya seperti melihat 'vampir' di depan mata saya, meskipun dalam makna yang positif.

Ada yang rangkap jabatan; ada yang rangkap profesi; ada yang seperti balas dendam: karena sewaktu kuliah tidak pakai motor, maka anaknya yang baru SMP sudah dikasih motor; ada yang bekerja 'untuk' uang; bahkan sampai ke hobinya pun menghasilkan duit--saya menyebutnya si Raja Midas!

Bait kedua hingga keempat merupakan kekhawatiran sekaligus harapan saya. 'Kekhawatiran' karena saya ngeri dengan stigma pejabat kiwari (zaman now) ialah koruptor alias bukan pejabat kalau tidak korupsi. Kalau bukan pejabat, saya ngeri mereka menjadi dukun atau pengganda uang!

Adapun 'harapan' saya adalah (1) saya tidak berharap apalagi berdoa: bertemu dengan kawan di balik jeruji penjara; dan (2) ketika bertemu--sebuah momen yang sangat susah terjadi--karena hanya ingin omong 'sejarah' yang saya definisikan sandaran yang disusun dari senyuman masa kanak dan idealitas, suci pamrih.

Pertemuan antar-kawan, menurut saya, terpaksa harus melibatkan Tuhan. Karena masing-masing kita sering lupa detail sejarah kita sendiri; dan karena, konon, musuh orang pintar itu: pikun. Sungguh, kita butuh intervensi Sang Mahapintar!

Selanjutnya, lihat di sini.

Artikel Kedua: Puisi | Hati

Puisi dengan satu bait dan 314 kata ini tercipta pada tanggal 14 Februari 2017. Asosiasi "14 Februari" langsung merujuk Valentine's Day,  apalagi materi puisi bercerita tentang 'hati'. Padahal, 14 Februari juga merupakan Hari Peringatan Pembela Tanah Air (PETA).

Bukan keduanya, karena proses penghimpunan materi puisi berlangsung cukup lama. Bisa dibilang puluhan tahun sebelumnya dan diharapkan berpengaruh hingga bertrilun tahun sesudahnya. Malah bisa jadi, data puisi merupakan catutan pancaindera dari sekitar saya alias puisi ini bukan kisah hati saya saja.

Ketika ditulis, mengalir saja. Subhaanallaah,  semoga apa yang ditulis adalah 'ilmu' Tuhan. Karena setiap mendefinisikan kata, kok  selalu bermuara ke Tuhan? Silakan Anda susuri setiap kata, misal kata: kasih, kekasih, cinta, dan hati seperti judul puisi ini.

...

Hati kita satu

Hidup kita abadi untuk Yang Satu

Dialah sumber sedih-bahagia, Dialah Kekasih Sejati, Dialah Hati

Mungkin, kita telah menutup hati dari nur-Nya

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3