Mohon tunggu...
Alfitriandes Miter
Alfitriandes Miter Mohon Tunggu...

Suka mencoba sesuatu yg kira-kira berguna. Selama ini hanya membaca, membaca dan ... membaca. Ngga tau juga apakah ini waktunya menulis, coba dulu aja. Siapa tau b.e.r.g.u.n.a.

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Air Mata I'tikaf

23 Agustus 2011   08:18 Diperbarui: 26 Juni 2015   02:32 85 0 0 Mohon Tunggu...

Sebuah Catatan Di Malam Ke-23

 

Tadi malam adalah malam ketiga kegiatan I’tikaf di Masjid Al Aqsha perumahan De Latinos, Serpong, tepatnya malam ke-23 Ramadhan 1432H. Penanda waktu sudah mendekati pukul 01:00 WIB dinihari. Namun jumlah jamaah yang sudah datang masih separoh dari jumlah malam pertama. Setiap jamaah masih beraktivitas masing-masing, ada yang berzikir, ada yang berdoa, ada yang sholat dan kebanyakan diantaranya adalah membaca Al Quran. Akhirnya sholat sunat malam berjamaah mulai dilaksanakan setelah lewat pukul 01:00 WIB.

 

Sholat berjamaah berlangsung dengan khidmad, Inysa Allah mudah-mudahan ada (semoga semuanya) yang mencapai tingkat khusuk. Alhamdulillah suasananya memang sangat mendukung. Ketika hampir semua orang sedang terbuai mimpi dalam tidurnya, tatkala sunyinya malam sedang berkuasa, terdengar suara Imam yang sangat menyejukan, mangangkat takbir mengagungkan nama-NYA. “ Allaaaaahu Akbar”.

 

Udara dinginpun perlahan berhembus ke dalam masjid, terus menyelinap di sela kaki-kaki telanjang yang bebaris membentuk saf sholat. Sesekali hembusannya merambat ke atas, menyapu tipis bibir-bibir yang tak henti berkomat-kamit membaca kalimah-kalimah Illahi. “Aaaa…miiinn…,” secara serentak makmum mengharap perkenan Allah setiap kali Imam sampai di penghujung Suratul Fatihah. Harus diakui, ada suasana dan rasa yang berbeda dengan ketika melaksanakan sholat sunat atau sholat berjamaah di waktu-waktu lain. Namun harap dimaklumi, jika hal itu tak dapat digambarkan dengan mengukir kata-kata.

 

Semua berjalan seperti biasa, sholat sunat delapan rakaat, setiap dua rakaat ditutup dengan satu salam. Yang agak berbeda adalah ketika Al Ustadz mulai memberikan tausiyahnya seusai sholat. Perlu di catat juga bahwa setiap malam ganjil (malam ke 21, 23, dst) pengurus masjid menghadirkan Ustadz pembimbing jalannya I’tikaf. Kali ini dibimbing oleh Ustadz  Lubis.

 

Dalam tausiyahnya, Al Ustadz lebih banyak mengajak jamaah untuk bermuhasabah, introspeksi diri, bertafakur untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. Kemudian jamaah terus dibimbing untuk mohon ampunan Allah, mendoakan orang tua masing-masing, mendoakan anak, istri, keluarga masing-masing.

 

Seketika semuanya membayang di depan mata. Betapa hinanya diri ini di hadapan Allah SWT, salah dan dosa silih berganti, penyesalan diri belum mampu membahagiakan orang tua, entahlah sudah berbakti kepada mereka entah belum, pernah mebohongi merekea, mengabaikan mereka, bahkan entah sudah berapa kali bibir ini mengucapkan ”Aakh “ kepadanya, dst..., dst...,

 

Hingga menjelang puncak bagian ini,  bibir yang sudah digigit sedari tadi, akhirnya tak sanggup jua menghadang genangan air mata yang bergelayutan di pinggir kelopak mata. Tetes demi tetes air mata mulai berpacu dengan isak tangis yang ditahan-tahan. Namun apa daya, seketika ruangan masjid penuh degan isak tangis para jamaah yang tertunduk, tak terkecuali dari bibir sang Ustadz.

 

Sesaat ketika sedu-sedan mulai mereda, harus diakui ada suatu rasa dalam hati (entah jiwa) yang tak pernah terasa dan entah apa nama rasanya. Sejuk ? mungkin. Damai ? mungkin juga. Indah ? Tenang ? Entahlah..., semua bercampur baur jadi satu, bersama tetesan air mata I’tikaf di malam ke-23. Semoga lailatul qadar memang belum turun, agar I’tikaf tidak berhenti sampai di sini. Telkomsel Ramadhanku***Serpong,23Ramadhan1432H

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x