puspalmira
puspalmira

A wild mathematician

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Insiden 'Surabaya Membara', Peringatan untuk Selalu Berpikir dan Menggunakan Ilmu Pengetahuan

10 November 2018   01:58 Diperbarui: 10 November 2018   02:06 133 2 1
Insiden 'Surabaya Membara', Peringatan untuk Selalu Berpikir dan Menggunakan Ilmu Pengetahuan
Sumber gambar: pinterest.com oleh Bell

Sejak sekitar pukul delapan malam, warga Surabaya digegarkan oleh insiden peringatan hari pahlawan yang memakan korban. Drama kolosal yang melibatkan ratusan aktor dari kalangan pelajar, mahasiswa, dan Tentara Nasional Indonesia (TNI) itu memang merupakan acara tahunan yang diselenggarakan untuk memperingati perjuangan arek-arek Suroboyo 73 tahun silam. 

Digelar di Jalan Pahlawan, drama kolosal bertajuk "Surabaya Membara" ini disambut dengan sangat meriah oleh warga Surabaya. Antusiasme yang terkesan di luar dugaan itu terlihat dari kuantitas pengunjung yang melebihi daya tampung penonton. Yang membuat gegar, pertunjukan seni ini merenggut 3 korban jiwa dan 7 korban luka-luka.

Mendengar insiden ini, penulis (saya) teringat kembali pada pengalaman pribadi saat menonton konser dalam rangka perayaan ulang tahun Jawa Timur, Jatim Fair, di Surabaya. Sebagai acara puncak, Jatim Fair menghadirkan salah satu band legendaris Indonesia, sebut saja Sheila On 7. Bermodalkan rasa keingintahuan tentang suasana konser (juga kesukaan terhadap band ini), saya terdorong untuk menghadiri konser tersebut. Sebagai gambaran umum, konser ini digelar di halaman parkir Grand City Mall Surabaya. Tempatnya terbuka, namun terbatas.

Singkat cerita, saya tidak kebagian tempat meskipun sudah berada di lokasi sejak pukul satu siang. Acara tersebut dimulai pukul delapan malam dan loket pembelian tiket dibuka pukul tiga sore. Antusiasme penonton tidak terbendung. Area yang disediakan tidak sebanding dengan jumlah tiket yang dijual. Bahkan, tidak sedikit pula jumlah penonton kelas VIP yang tidak bisa masuk. 

Kondisi pada kelas reguler tentu lebih parah lagi. Penuhnya bukan sekadar penuh, melainkan benar-benar tanpa sela. Yang sudah berada di dalam pun tidak bisa bergerak keluar. Alih-alih berlompatan mengikuti irama musik, bergeser sedikit saja pasti menginjak seseorang di dekatnya.

Saya dan ribuan pengunjung lain harus legawa dengan hanya menonton aksi Bang Duta melalui layar tancap. Yang ada dalam pikiran saya saat itu adalah, "Masak iya panitia tidak memperkirakan ledakan penonton yang pasti akan terjadi malam itu?" 

Konser ini telah berlangsung selama empat hari dengan bintang tamu berbeda. Jika melihat dari jumlah pengunjung sebelumnya serta betapa fenomenalnya bintang tamu saat ini, panitia penyelenggara seharusnya sudah bisa memperkirakan. Apalagi konser Sheila On 7 bertepatan dengan hari Minggu sementara konser untuk bintang tamu lainnya digelar pada hari sebelumnya termasuk hari kerja. 

Melihat kondisi tersebut, pikiran saya sempat bermain-main. Apabila variabel bebasnya adalah waktu penyelenggaraan dan popularitas bintang tamu, jumlah ledakan penonton mungkin bisa diramalkan oleh grafik eksponensial.

Oh tapi tidak! Tidak serumit itu, sungguh. Perkiraan ini sudah jelas bisa diramalkan berdasarkan asumsi-asumsi sederhana. Saya dan semua orang pun pasti percaya bahwa sesungguhnya panitia telah menduga adanya ledakan tersebut. Buktinya, lihat saja berapa jumlah tiket yang mereka cetak.

 Jika kuota yang tersedia memang hanya sekian penonton, tentu tiket yang dijual hanyalah sejumlah itu. Tetapi nyatanya tidak. Panitia mencetak sebanyak-banyaknya tiket dan menjual habis semuanya.

Baiklah, semua itu sah-sah saja. Panitia berhak menjual berapapun tiket yang mereka mau. Akan tetapi, setidaknya mereka juga memikirkan solusi terbaik untuk mengatasi dampak negatifnya. Contohnya saja dengan membongkar stan-stan pedagang di sekitar area konser. Pikiran negatif saya, panitia tidak mau kehilangan keuntungan dengan membongkar tenda-tenda stan tersebut. 

Padahal, para pedagang tetap bisa berjualan, hanya berpindah tempat saja. Jika tenda-tenda ini dibongkar, penonton yang tidak kebagian ruang tetap bisa menikmati konser meski dari luar area. Selain itu, jika memungkinkan panitia juga bisa menyiapkan sound system tambahan untuk penonton di luar area. Seandainya penyelenggara mau berpikir 'lebih', kepuasan dan kenyamanan serta keamanan penonton pasti akan lebih.

(sebagai informasi, kondisi area penonton ada di dalam wilayah mall yang terisolasi dari pengunjung di luar. Area penonton sebenarnya hanya dibatasi oleh pagar besi setinggi setengah meter, namun terhalang oleh tenda pedagang sehingga penonton di luar area tidak bisa menikmati acara meskipun memegang tiket)

Dalam kondisi yang rawan dengan tragedi sesak nafas dan pingsan karena kekurangan oksigen, saya teringat pula pada perkataan seorang Profesor matematika dari Bandung. Jika diperkenankan mengutip, beliau mengatakan bahwa banyak kebijakan atau keputusan di negeri ini yang diambil tanpa berbasis pengetahuan. 

Perkataan tersebut dikaitkan dengan pembangunan bandara di Kota Palu yang dibangun di atas tanah yang labil atau belum kompak. Saat awal pembangunannya dulu, mungkin pengetahuan semacam ini belum dimiliki. Ironisnya, masalah yang terjadi saat ini bukanlah pengetahuan yang tidak dimiliki, melainkan pengetahuan yang tidak dihiraukan.

Pendapat tersebut disetujui dan ditanggapi oleh banyak pendengar. Menurut beberapa orang, ironi di atas tidak hanya terjadi pada pembangunan Kota Palu, tetapi juga pada kebijakan-kebijakan lain yang dibuat oleh pemerintah. Hal yang perlu disampaikan di sini adalah, libatkanlah ilmuwan terkait! Anjuran tersebut juga merupakan perkataan beliau yang saya kutip dan sangat saya setujui. Pengetahuan dipelajari untuk digunakan, bukan hanya sebagai formalitas untuk mendapatkan gelar. 

Dari hal yang sangat sederhana seperti penyelenggaraan konser hingga pembuatan keputusan terkait kebijakan dan pembangunan, hendaklah dipikirkan dengan benar. Gunakanlah ilmu pengetahuan sebagai alat. Jika tidak, insiden berdarah Surabaya Membara inilah yang menjadi peringatan. Untuk kebijakan yang tidak rumit, tak perlulah jasa seorang ilmuwan. 

Cukup belajar dari pengalaman konser Jatim Fair silam, pagelaran yang diprakarsai oleh Seniman Surabaya itu hendaknya lebih memperhitungkan dampak ledakan penonton yang terjadi. Mana mungkin panitia dan petugas membiarkan penonton memenuhi jembatan rel kereta api demi menikmati aksi para aktor jika mereka tahu? 

Apakah mereka belum memperhitungkan keselamatan penonton? Apakah mereka tidak sadar bahwa bisa saja ada kereta yang lewat? Padahal, hampir bisa dipastikan bahwa kereta api selau lewat sesuai jadwal. Kereta api tidak mungkin muncul secara tiba-tiba. Kalaupun muncul, kereta api tentu tidak bisa berhenti begitu saja.

Hingga artikel ini ditulis, telah ada 3 penonton tewas dan 7 lainnya luka-luka termasuk indikasi patah tulang. Mereka adalah penonton drama Surabaya Membara yang menonton dari atas jembatan rel kereta api. Seorang bocah SD turut menjadi korban. Surabaya pun berduka. Derita korban yang terlindas kereta maupun yang terjatuh dari jembatan setinggi kurang lebih 6 meter kemudian membentur aspal jauh lebih teatrikal daripada teater yang dipamerkan. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2