Mohon tunggu...
Al Johan
Al Johan Mohon Tunggu... Administrasi - Seorang pegawai biasa

Terus belajar mencatat apa yang bisa dilihat, didengar, dipikirkan dan dirasakan. Phone/WA/Telegram : 081281830467 Email : aljohan@mail.com

Selanjutnya

Tutup

Catatan Artikel Utama

Pengalaman Menjadi Saksi di Kejagung

24 November 2011   15:00 Diperbarui: 25 Juni 2015   23:15 1230 1 11 Mohon Tunggu...

Pada bulan Juli 2008, saya mendapat surat panggilan dari Kejaksaan Agung (Kejagung) untuk diperiksa sebagai saksi berkaitan dengan tuduhan kasus korupsi di perusahaan tempat saya bekerja. Saat itu kebetulan saya bertugas di bagian keuangan, sehingga saya dianggap tahu persis arus keluar masuk uang perusahaan. Karena kasus ini dianggap “penting”, maka pemeriksaannya langsung ditangani Kejagung, bukan kejaksaan tinggi atau kejaksaan negeri.

[caption id="attachment_145632" align="alignleft" width="452" caption="Gedung Bundar Kejagung (gambar : tribunnews.com/Dany Permana)"][/caption] Pada hari yang telah ditentukan, saya datang ke Gedung Bundar Kejagung dengan perasaan cemas dan tidak karuan, saya tidak tahu apa yang akan terjadi terhadap saya pada hari itu. Banyak selentingan beredar bahwa  posisi saya sebagai saksi belum aman 100 persen, bisa saja status saya berubah menjadi tersangka jika ditemukan bukti yang cukup.

Hari itu panggilan untuk saya sebenarnya pukul 09.00, tetapi pukul 08.00 saya sudah siap di tempat. Saya tidak ingin terlambat sehingga hal tersebut bisa memberatkan saya. Padahal kenyataannya,  pemeriksaannya sendiri baru dilakukan pada pukul 18.00. Saya harus menunggu cukup lama dalam ketidakpastian.

Beberapa hari sebelumnya, begitu menerima surat panggilan, saya sudah mulai tidak bisa tidur. Berbagai bayangan dan mimpi yang tidak baik kerap menghantui saya, bagaimana nanti saya harus menjelaskan posisi saya di hadapan anak-anak, orang tua dan teman-teman kalau terjadi perubahan status pada diri saya. Bagaimana kalau nanti saya harus menjalani hidup di dalam sel dan harus hidup berpisah dengan keluarga dan lain sebagainya.

Pada tahap ini saya bersama istri bersepakat untuk tidak memberitahu pada anak-anak, mereka masih terlalu kecil untuk dilibatkan dalam perkara ini. Saya ingin menunggu perkembangan lebih lanjut dari proses tersebut, pada saat yang tepat nanti saya tetap akan memberitahu mereka.

Inilah pengalaman pertama saya diperiksa oleh jaksa. Mula-mula yang ditanyakan masalah berkaitan dengan pribadi saya seperti nama, alamat, umur dan lain sebagainya, setelah itu beralih kepada masalah yang berkaitan dengan kasus yang diperiksa, bagaimana kedudukan saya, apa yang saya lakukan, apa yang saya ketahui dan lain sebagainya.

Pemeriksaannya sendiri sebenarnya tidak lebih dari satu jam, tetapi karena harus menunggu dari pagi saya menjadi sangat capek. Karena itu, begitu pemeriksaan selesai, saya siap-siap langsung pulang ke rumah. Tetapi begitu menuju keluar, saya tertahan di pintu Gedung  Bundar. Di luar ternyata telah dipenuhi puluhan wartawan, lengkap dengan peralatan mereka. Mereka siap meliput penahanan beberapa petinggi perusahaan yang sore itu telah ditetapkan sebagai tersangka.

Sekitar jam 23.00 saya sampai di rumah, anak-anak sudah tidur dengan pulasnya, mereka belum tahu peristiwa yang terjadi pada ayahnya sepanjang hari itu.

Malam itu ternyata istri saya telah menerima beberapa panggilan telepon dan sms dari teman-teman dan saudara di berbagai kota. Mereka menanyakan nasib saya dan apa kasus yang menimpa saya. Mereka ingin tahu karena nama saya juga tertulis di running text di beberapa stasiun televisi.

Istri saya juga terlihat sangat gundah, dia hanya bisa pasrah dan memohon doa untuk kebaikan saya sekeluarga setiap kali menjawab telepon atau sms.

Saya menjalani hari-hari pemeriksaan di Kejagung selama lebih dari tiga bulan, kadang seminggu dua kali, kadang tiga kali. Seingat saya, saya dipanggil ke Gedung Bundar lebih dari sepuluh kali. Inilah hari-hari yang sangat melelahkan dalam hidup saya, lahir maupun batin.

Di kalangan sebagian teman, kadang saya harus menghadapi tuduhan macam-macam seperti dianggap terlibat dan ikut menikmati uang yang dikeluarkan dari kas perusahaan. Selain itu juga ada tekanan dari beberapa pihak agar saya mau memberikan keterangan yang saya anggap tidak benar, juga tekanan untuk menunjukkan bukti-bukti  yang kadang saya sendiri tidak mengetahuinya.

Alhamdulillah akhirnya proses pemeriksaan terhadap diri saya selesai, status saya tetap sebagai saksi. Tetapi saya bersedih karena beberapa orang yang saya kenal akhirnya tetap tidak bisa lepas dari jeratan hukum dalam masalah ini.

Mudah-mudahan proses pemeriksaan semacam ini hanya terjadi sekali dalam hidup saya.

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x