Mohon tunggu...
Ali Zaenuddin
Ali Zaenuddin Mohon Tunggu... Santri dan Akademisi

Analis Kebijakan Publik Pada Konsentrasi Islam, Pembangunan dan Kebijakan Publik (IPKP) Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Memaknai Keberagaman sebagai Persatuan

16 Januari 2020   22:40 Diperbarui: 16 Januari 2020   22:49 262 1 0 Mohon Tunggu...
Memaknai Keberagaman sebagai Persatuan
Gubernur DIY Sri Sultan HB X (tengah) bersama Mahfud MD dan Gus Mus (ketiga dari kanan) serta civitas akademika UII Yogyakarta (Sumber: Dok. Pribadi)

Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta menggagas Dialog Kebangsaan dengan tema "Merawat Persatuan, Menghargai Keberagaman" yang diselenggarakan di Auditorium Prof. KH. Abdul Kahar Mudzakir, Kampus Terpadu UII, Jl. Kaliurang, Sleman, D.I Yogyakarta, Selasa (14/1/2020). 

Acara tersebut terselenggara atas kerjasama UII dan Gerakan Suluh Kebangsaan serta Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Islam Swasta Se-Indonesia (BKS-PTIS) dengan menghadirkan beberapa tokoh nasional yakni Mahfud MD yang merupakan Menkopolhukam dan Ketua Gerakan Suluh Kebangsaan serta KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), Pengasuh Ponpes Raudlatul Thalibin Rembang, dan Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti. Turut hadir dalam acara tersebut, Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X yang bertindak sebagai pembicara kunci. 

Dalam paparan pidatonya, Sultan Hamengkubuwono X mengajak masyarakat Indonesia untuk kembali melihat dan berkaca dari sejarah agar dapat memahami kebhinekaan. Sultan mengutip kisah pembuatan Bendera Merah Putih yang dikibarkan saat proklamasi "sejarah telah menorehkan semangat kebhineka-tunggal-ikaannya, yang bisa dilacak dari narasi kemanusiaan para pribadi pelaku sejarah."

Alkisah, kata sultan, sebelum tanggal 16 Agustus 1945, Fatmawati, istri Bung Karno yang berasal dari Bengkulu sebenarnya telah membuat bendera merah putih berukuran 50 cm. Namun bendera tersebut dinilai kurang besar untuk sebuah republik baru. Untuk menggantinya, Fatmawati kemudian menjahit sprei putih dan menyatukannya dengan kain merah yang diberikan oleh Lukas Kastaryo. Lukas merupakan pemuda Jawa-Katolik yang memperoleh kain merah dari seorang penjual soto.

Kemudian Ilyas Karim, seorang pemuda Minang didampingi Suhud dan Singgih, dua orang pemuda Jawa membawa bendera tersebut di atas nampan. Latif Hendraningrat, prajurit PETA dari Batavia memimpin pengibarannya. Namun kelak sebelum ditangkap, lanjut Sultan, Bung Karno menitipkan  bendera tersebut kepada Husein Mutahar, seorang pemuda keturunan Arab.

Narasi ini dipaparkan oleh Sultan untuk membuktikan bahwa sejak awal mula republik ini berdiri, perbedaan tersebut menjadi suatu hal yang mengikat bangsa ini. "Perbedaan bukanlah penghalang bagi para pejuang kemerdekaan untuk bersatu. Dalam kesatuan itulah mereka menemukan energi yang maha dahsyat untuk Indonesia merdeka," tambah Sultan.

Memahami Agama dari Sumber Agama

Ada sepenggal kisah menarik yang diceritakan oleh Gus Mus yang kemudian disambut gelak tawa hadirin saat memulai forum dialog kebangsaan tersebut. Dihadapan ratusan civitas akademika Universitas Islam Indonesia (UII), beliau menceritakan pengalamannya saat berada di terminal.

Alkisah ketika menunaikan sholat di sebuah terminal, seseorang dari belakang tiba-tiba memegang bahu pria yang biasa dipanggil Gus Mus. Tidak hanya memegang, orang tersebut bahkan memaksa Gus Mus untuk menggeser arah kiblatnya serta menceramahami salah satu tokoh sepuh NU tersebut.

"Saya pernah di terminal sembahyang itu pundak saya diginikan sama orang (seraya beliau mencontohkan pundak beliau dipegang) di belakang saya, katanya kurang ke sini. Saya dipidatoni, saya ini lho, ditaushiahi (diceramahi). Gus Mus kok di taushiahi. Dia bilang sama saya, sampeyan kurang kesini sembahyangnya, itu menurut fatwanya internet..." cerita Gus Mus yang disambut gelak tawa hadirin..

Gus Mus juga berkisah tentang bagaimana ribut-ribut tentang penulisan Insya Allah. "Itu ada tersebar di Grup WA, penulisan Insya Allah yang benar itu 'sh" Insha Allah, bukan "sy" Insya Allah. Akhirnya pada ribut-ribut". Padahal sebenarnya, kata Gus Mus, tidak ada yang salah dengan semua itu. Satu hal yang tidak bisa diterima adalah jika kemudian mereka yang tidak mengikuti ajaran senada, dinilai sebagai kelompok yang keliru.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x