Mohon tunggu...
Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar Mohon Tunggu... Bukan Pemikir, Meski Banyak yang Dipikirin

Dosen Ilmu Komunikasi UIN Jogja, yang lebih senang diskusi di warung kopi. Menulis karena hobi, syukur-syukur jadi profesi buat nambah-nambah gizi. Buku: Memahami Propaganda; Metode, Praktik, dan Analisis (Kanisius, 2017) Soon: Hoax dan Dimensi-Dimensi Kebohongan dalam Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Maafkan Saya, Kompasianer

13 Mei 2021   07:37 Diperbarui: 13 Mei 2021   07:38 535 42 21 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Maafkan Saya, Kompasianer
Ilustrasi: ayobandung.com

Urusan hidup kita punya dua dimensi. Dimensi vertikal --hubungan kita dengan Tuhan, dan dimensi horizontal, hubungan kita dengan sesama manusia dan lingkungan di sekitar kita.

Hubungan dengan Tuhan bisa kita rasakan sendiri. Seberapa dekat --atau sebaliknya, seberapa jauh kita dari Tuhan. Dan Tuhan Maha Pengampun, apapun kesalahan kita, selama kita menyadarinya dan segera meminta ampunan, akan dimaafkan.

Tapi hubungan kita dengan sesama manusia lah yang jauh lebih kompleks. Apa yang kita niatkan sebagai kebaikan kepada sesama kita, belum tentu dianggap sebagai kebaikan atau bahkan dilihat sebagai niat baik sekalipun.

Memberi sesuatu kepada tetangga yang kita anggap tak mampu, mungkin dicatat sebagai kebaikan di mata Tuhan. Tapi apakah tetangga kita juga menganggapnya demikian? Belum tentu. Bisa jadi niat dan perbuatan itu dipandang sebaliknya. Kita membantu karena menganggapnya memerlukan, dipandang sebagai penghinaan. Ia tersinggung atau merasa diremehkan --merasa kita menganggapnya tak mampu sehingga harus dibantu.

Tuhan Maha Mengetahui. Tak akan keliru menilai niat baik dengan niat buruk. Tapi sesama kita, entah itu suami/istri kita, anak kita, orang tua kita, teman, sahabat, tetangga, dan lainnya. Belum tentu menilainya sama.   

Apalagi jika yang kita lakukan itu memang buruk. Saat kita dengan mudah meminta ampunan kepada Tuhan --dan selama kita bersungguh-sungguh, nisacaya Tuhan akan memafkannya.

Tapi sesama kita? Tak mudah bagi kita untuk menilai apakah mereka telah melupakan perbuatan buruk kita. Mungkin ada yang cepat dan mudah melupakan dan memaafkan. Ada yang sudah memaafkan sebelum kita memintanya. Ada yang terlihat sudah memaafkan tetapi sebetulnya belum atau tidak mudah memaafkannya --mungkin karena terlalu menyakiti perasaannya. Dan mungkin saja ada yang tak ingin memaafkan kita karena alasan yang tak kita ketahui.

Karena itulah meminta pengampunan dan permaafan dari sesama kita tak hanya bisa berhenti dalam diri kita, dengan niat baik kita. Kita harus datang kepadanya, menyampaikan penyesalan kita, dan meminta mereka memaafkan kita secara langsung.

Jangan pongah merasa bahwa kita tak punya salah pada mereka, meski kita tak pernah meniatkannya. Karena sekali lagi, apa yang kita niatkan baik bagi sesama kita, belum tentu diterima dan dianggap sebagai kebaikan oleh mereka. Memintalah maaf kepada sesama kita, untuk kesalahan yang kita sadari, bahkan untuk apa yang tidak pernah kita sadari sekalipun.

Persoalan apakah kita dimaafkan atau tidak, bukan lagi urusan kita, selama kita berniat baik dan tulus meminta maaf. Jikalah belum dimaafkan, mengubah perilaku dan perbuatan adalah langkah berikutnya. Siapa tahu, permintaan maaf kita belum diterima karena kita terlihat belum tulus melakukannya.

Hari ini, bahkan ketika kita merasa 'menang' di hadapan Tuhan, adalah saat yang tepat untuk melakukannya; meminta maaf kepada sesama kita. Kemenangan di hadapan Tuhan --setelah beribadah Ramadan sebulan penuh---harus dilengkapi dengan kemenangan maaf dan ridho dari sesama kita.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN