Mohon tunggu...
Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar Mohon Tunggu... Bukan Pemikir, Meski Banyak yang Dipikirin

Dosen Ilmu Komunikasi UIN Jogja, yang lebih senang diskusi di warung kopi. Menulis karena hobi, syukur-syukur jadi profesi buat nambah-nambah gizi. Buku: Memahami Propaganda; Metode, Praktik, dan Analisis (Kanisius, 2017) Soon: Hoax dan Dimensi-Dimensi Kebohongan dalam Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Musik Artikel Utama

Nike Ardilla, Emak, dan Inspirasi yang Tak Mati

22 Desember 2020   11:03 Diperbarui: 28 Desember 2020   01:29 3145 49 13 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nike Ardilla, Emak, dan Inspirasi yang Tak Mati
Art by Alip Yog Kunandar

Generasi 90'an pasti tahu lah nama ini; Nike Ardilla. Suka-tidak suka, lover-hater, peduli-tak peduli. Dari pejabat hingga rakyat jelata, tukang becak sampai konglomerat, anak kecil, ABG, emak-emak, bapak-bapak, hingga tua renta.

Mau gimana lagi, saat itu --dalam rentang yang tak terlalu lama, dari akhir 80-an sampai pertengahan 90-an-- nama, wajah, suaranya ada di mana-mana. Dengerin radio nongol, nonton tipi hadir, baca koran ada.

Dan saya, bertumbuh di masa itu. Ketika suara melengkingnya yang bening menyanyikan Seberkas Sinar (1989), saya masih SMP, sedang belajar membandingkan cewek-cewek mana yang diizinkan hadir dalam mimpi dan diundang dalam angan.

Mendadak saja dia menjadi kandidat dan penantang utama masa puberku, mengalahkan model-model kalender yang sudah lebih dulu bersliweran; Yana Zein, Marissa Haque, Paramitha Rusady, dan lain-lainnya. Lagunya memang masih harus bertarung dengan Kemesraan-nya Iwan Fals yang lebih dulu hadir dan mapan sebagai lagu gitaran saat kemping, atau dengan Ini Rindu-nya Farid Hardja-Lucky Resha.

Tahun berikutnya, ia makin moncer dengan lagunya Bintang Kehidupan (1990), namanya mulai disebut sebagai lady rocker. Tapi penggemar musik rock 'sejati' justru sedang dihebohkan dengan kehadiran rombongan anak muda slenge'an dari Gang Potlot; Slank.

Album rekaman perdana mereka Suit-Suit... He-He (Gadis Sexy) hadir mendobrak tradisi lirik-lirik lagu puitis-romantis, yang sebelumnya sukses menggusur era lirik lagu cengeng tahun 80-an. Nike Ardilla mengimbanginya lagi dengan menghadirkan Nyalakan Api di tahun yang sama; dua album dalam satu tahun, dan sukses di pasaran!

Tahun 1991, saya masuk SMA. Nike Ardilla kembali mengeluarkan album, Matahariku. Di toko kaset pojok Alun-Alun Ciamis, saya membeli kasetnya. Itu kaset pertama yang saya beli. Harganya 4 ribu perak.

Pake duit jajan? Nggak lah, duit jajan saya cuma 300 perak sehari, hanya cukup buat beli mi ayam semangkok. Duit SPP yang limaribu perak yang jadi korban, sisa seribu. Sisanya buat beli tiket nonton film: Lupus IV yang lagi tayang di bioskop seberang toko kaset.

Pulang ke rumah, kegoblokan itu baru terasa. Bukan saja soal duit SPP yang salah sasaran, tapi juga jenis kegoblokan lain; saya nggak punya tape untuk memutar kaset itu! Kaset itu hanya jadi pajangan menemani poster-poster Nike Ardilla yang bertebaran di dinding kamar; dibeli di tukang poster dan kalender yang mangkal dekat pasar.

Celakanya, ketahuan Emak pula. Habis lah diinterogasi, dan saya nyerah, mengaku. Emak berbaik hati tak melaporkannya pada Bapak. Ia mengganti uang SPP dengan catatan, saya libur jajan sebulan lebih.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x