Mohon tunggu...
Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar Mohon Tunggu... Penulis - Bukan Pemikir, Meski Banyak yang Dipikirin

Dosen Ilmu Komunikasi UIN Jogja, yang lebih senang diskusi di warung kopi. Menulis karena hobi, syukur-syukur jadi profesi buat nambah-nambah gizi. Buku: Memahami Propaganda; Metode, Praktik, dan Analisis (Kanisius, 2017) Soon: Hoax dan Dimensi-Dimensi Kebohongan dalam Komunikasi.

Selanjutnya

Tutup

Travel

Makassar: Terus Berbenah, Lupa Bebersih

26 September 2012   14:28 Diperbarui: 24 Juni 2015   23:38 537 1 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Makassar: Terus Berbenah, Lupa Bebersih
13486694601138755355

[caption id="attachment_201182" align="alignleft" width="567" caption="Senja di Pantai Losari (Foto: Fajar Sodiq)"][/caption] Kabayan langsung jejingkrakan saking senangnya, saat dikabari Mas Bambang Muryanto buat menemani rombongan wartawan ke Makassar. Ya siapa yang nggak senang, zaman masih bujang dulu, Kabayan sempat ngumbara di Makassar hampir tujuh tahun, dan setelah itu nggak pernah punya kesempatan lagi buat mengunjungi Kota Anging Mammiri. Makanya, tanpa pikir panjang, Kabayan langsung mengiyakan ajakan Mas Bambang dari Pecojon itu. Kabayan nggak peduli, walaupun tugasnya hanya angkut-angkut barang, mijetin peserta Peace And Conflict Journalism Network, atau apapun, yang penting diajak –kalau kata judul lagu campursari mah, pokoke melu, pokoknya ikut, biar kata di pesawat duduk lesehan atau suruh bawa jojodog (bangku kayu) sendiri.

Yah, meski demikian, yang sulit ternyata mendapatkan ijin si Iteung, istrinya, yang ketakutan Kabayan nyuri-nyuri kesempatan buat menemui mantan bebene (cem-ceman, inceran, odo-odo)-nya yang konon masih keturunan bangsawan Bugis itu. Tapi setelah Kabayan bersumpah demi kian dan menjanjikan oleh-oleh sutra Sengkang, maka terbitlah surat jalan dari si Iteung itu. Dan, berangkatlah Kabayan ke Makassar, menemani rombongan para jurnalis itu.

Tiba di Bandara Hasanuddin, rombongan yang berangkat bareng dari Bandara Adisucipto Jogja langsung bengong, termasuk Kabayan. Bandara itu begitu megah, bener-bener layak menjadi pintu gerbang Indonesia Timur. Dulu, Kabayan sempat mampir ke bandara itu dan belum semegah itu. Beberapa jurnalis malah saling berbisik, “Lah kok saiki awake dhewe sing ndeso yo (Kok sekarang kita yang jadi kayak orang desa ya)?”, sebuah komentar yang jujur, bahwa bandara-bandara di Jawa sudah begitu tertinggal, termasuk bandara di Jogja, Solo, juga Semarang. Sementara Jakarta dan Surabaya nampaknya hanya menang luas, tapi kalah soal kebersihan dan keindahannya.

Waktu rombongan keluar dari bandara dan langsung masuk jalan tol, rombongan dari Jogja lagi-lagi harus iri, Makassar sudah punya jalan tol yang lumayan, sementara di Jogja, yang ada baru ringroad alias jalan lingkar. Seingat Kabayan, dulu jalan tol itu masih berstatus ‘jembatan tol’ dimana motor dan mobil masih saling berbagi jalan, dan sapi pun masih sering melintasi jalanan. Melewati pelabuhan Soekarno-Hatta Makassar, lagi-lagi rombongan Jogja harus iri, Makassar punya pelabuhan besar, mungkin hanya Semarang dan Surabaya yang bisa menyaingi. Jogja nggak punya, apalagi Solo dan Bandung yang emang nggak punya laut, hehe...

Wajah Kota Makassar makin terasa berbeda saat rombongan punya kesempatan city tour colongan –menyempatkan jalan-jalan di antara padatnya acara, juga mengorbankan waktu tidur yang sebetulnya sangat berharga. Tapi bener kata Mas Yaya, wartawan dari Kudus, jauh-jauh ke Makassar masak cuma buat tidur, hehe... Kabayan pun kena tembak jadi guide gratisan gara-gara pengakuannya pernah tinggal di kota itu. Rencana nyolong-nyolong waktu buat janjian dengan Si Ehm batal sudah, takut malah kabarnya nyampe ke Si Iteung, bisa gawat, hehe...

Lapangan Karebosi di pusat kota, yang dulu gelap dan rada-rada bikin jiper gara-gara banyaknya bencong yang konon sering membawa bekal badik di samping bedak dan gincu, bener-bener sudah salin wajah, operasi plastik beneran, cuma nggak pake silikon. Konon di bawah lapangan itu terdapat jalanan yang menghubungkan beberapa bangunan mall. Sayangnya Kabayan nggak sempet nyoba. Tapi dari penampilan luarnya, Karebosi memang sudah tampak jauh lebih indah.

Kawasan Pantai Losari juga sama. Pinggiran Jalan Penghibur yang dulu sempit dan makin sempit dengan jejeran pedagang kaki lima –yang sempat memproklamirkan diri sebagai restoran terpanjang di dunia itu—kelihatan lebih tertata. Diurug hingga lebih luas, ditambahi tulisan PANTAI LOSARI di tengah-tengahnya, meski di malam hari, masih banyak penjaja makanan yang mangkal di situ. Jalanan ke kawasan Tanjung Bunga sudah tembus dari arah situ, menuju sebuah wisata baru kebanggaan (?) Kota Makassar, Trans Studio yang merupakan wahana mainan a la Universal Studio, duluan ketimbang yang di Bandung. Kesimpulan para peserta city tour itu, Makassar di malam hari begitu mempesona!

Nah, kesempatan city tour siang hari datang juga. Sambil mengantar peserta yang pengen belanja oleh-oleh di Jalan Somba Opu, kawasan perdagangan yang dibangun jaman Walikota Daeng Pattompo, mampirlah rombongan ke Fort Rotterdam, buat sekedar melepas penat sambil foto-foto. Benteng peninggalan Kerajaan Gowa dan sempa dijadikan kantor Belanda itu berubah lebih cantik, dengan font FORT ROTTERDAM besar berwarna merah di bagian depannya, dekat patung Sultan Hasanuddin menunggang kuda yang lebih dulu ada. Bagian dalamnya juga lebih asri, bersih, dan lebih terawat. Museum La Galigo juga ditata dengan lebih baik.

[caption id="attachment_201183" align="alignleft" width="567" caption="Numpang nampang di Rotterdam bareng peserta PECOJON 2 (Foto: Koleksi Jossy Linansera)"]

1348669558619274267
1348669558619274267
[/caption]

Tapi begitu rombongan hendak kembali ke hotel dengan berjalan kaki melewati Pantai Losari, Makassar menunjukkan wajah lainnya yang berbeda. Seorang jurnalis dari Jogja sempat tersandung di trotoar yang naik turun tidak jelas. Seorang jurnalis dari Ambon tercengan melihat tumpukan sampah di pinggir jalan, tanpa ada yang mengangkut atau membersihkan. “Waah kok Makassar cuma cantik di malam hari ya?” keluh seorang jurnalis dari Ambon, Jossy Linansera. “Mestinya di kawasan Losari trotoarnya dibenerin, dibuat city walk yang bener, bila perlu kendaraan nggak boleh lewat. Tapi ini kok, sampah aja nggak diurusin ya? Padahal, semua yang mengunjungi Makassar, wajib hukumnya mengunjungi Losari!” sambung Mas Fajar, jurnalis dari Solo.

Diam-diam, Kabayan setuju dengan pendapat mereka. Makassar terlihat begitu giat berbenah, infrasturuktur berkembang pesat, meninggalkan kota-kota besar di Jawa, tapi kebersihan kota nampaknya luput dari perhatian. Sayangnya lagi, beberapa landmark yang sudah ada sebelumnya, dan sempat menjadi kebanggaan, malah tidak diurus dan dibiarkan telantar. Salah satunya, Monumen Pembebasan Irian Barat alias Monumen Mandala yang dulu megah dan sempat dijuluki Monas-nya Makassar, kini dibiarkan teronggok tak terawat. Catnya pada bagian relief bambu runcing dan api sudah pudar, keramik yang menutupi tubuh segitiga –perlambang semangat Trikora—sudah menghitam di sana-sini. Haduh....

Kerinduan Kabayan pada kota yang penuh kenangan itu terbayar sudah. Setumpuk kebanggaan menyeruak melihat kemajuan kota, tapi sedikit kegundahan juga muncul di sana. Mungkin bener ucapan seorang sopir taksi yang mengantar Kabayan dan kawan-kawan berkeliling, “Makassar jago membangun, tapi tidak jago memelihara...” katanya. Ungkapan yang sebetulnya juga seringkali terjadi di kota-kota lain di negeri ini.

Ah, Makassar parasangangku, Makassar memang membuat kangen; Losari-nya, Rotterdam-nya, ikan bakarnya, cotonya, konronya, orang-orangnya.. tapi alangkah indahnya jika suatu saat Kabayan juga kangen pada kebersihan dan kerapian kotanya.

Ewako Makassar! Salam cinta dari orang yang pernah memijak bumi, memandang angkasa, dan mereguk airmu...

Makassar-Jogja, 26 September 2012

Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x