Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar pegawai negeri

Alip Yog Kunandar alias Kang Alip, Berbagi ilmu di Prodi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Dedengkot Komunitas IDEKATA Yogyakarta. Alumnus Peace and Conflict Journalism Network, Course 1 & 2. Menyukai sosok si Kabayan, tapi tidak ingin jadi si Kabayan. Kalo nggak cape, ikutin aja @AlipyogK

Selanjutnya

Tutup

Catatan

Pipiti a.k.a Besek, Riwayatmu Kini!

7 April 2012   10:29 Diperbarui: 25 Juni 2015   06:55 1055 2 0
Pipiti a.k.a Besek, Riwayatmu Kini!
1333794680957434002

[caption id="attachment_170426" align="alignleft" width="500" caption="Pipiti alias Besek (Foto: Alipyog)"][/caption]

Setiap habis mengunjungi orang hajatan, sudah jadi tradisi di kampungnya Kabayan, sang tamu akan dibekali berekat, semacam tanda terimakasih dari si empunya hajat atas kehadirannya. Zaman Kabayan masih kecil, kalau orangtuanya pulang dari hajatan, berekat itulah yang akan jadi incarannya. Berekat zaman itu, biasanya dikemas dalam pipiti alias besek –wadah dari anyaman bambu, berukuran 15x15x10 senti, terdiri dari pipiti wadah dan pipiti tutup. Isinya, ya standar, nasi putih yang hampir memenuhi seluruh tampungan wadah –tentu saja setelah dialasi daun pisang atau daun jati, terus di atasnya ada berbagai macam lauk yang dipisahkan oleh daun pisang dengan si nasi. Lauknya juga nggak aneh-aneh, pilihannya tidak banyak, kalo nggak besengek cabe hijau (bahannya bihun sama cabe hijau gelondongan hanya dibuang bijinya), lodeh kentang, lodeh kacang, mi golosor –mi kuning besar, plus lauk ikan mujair atau ikan nilem seukuran dua jari. Kadang, ada juga yang melengkapinya dengan kerupuk udang.

Tidak banyak yang berubah dari menu berekat, tapi setiap kali Kabayan mendapatkannya, pasti ia akan makan dengan lahap. Bisa jadi karena si sohibul hajat  ikhlas-rido memberikannya sebagaimana si tamu juga ikhlas datang dan memberikan sedikit sumbangan, tapi bisa jadi karena kemasannya itu. Makanan yang dibungkus pake pipiti memang terasa lain, bukan saja awet dari basi, tapi aroma bambu dari pipiti dan daun pisang atau daun jati sebagai alasnya membuat makanan itu terasa berbeda.

Sayang beribu sayang, tradisi berekat dengan menggunakan pipiti makin lama makin menghilang. Menu yang disajikan masih sama, tapi kemasannya yang berbeda. Pipiti sudah tergusur, digantikan oleh kotak makanan modern dari styrofoam, dan pemisah nasi dengan lauk digantikan oleh plastik. Makanan yang disajikan memang terlihat lebih bersih, tapi bukan saja kehilangan aroma bambu dan daun pisang yang khas, juga makanannya menjadi cepat basi. Kalau sudah begitu, masakan berekat sudah kehilangan daya tariknya lagi, dan lebih banyak menunggu daur ulang, nasinya dihangatkan lagi dan begitu pula dengan lauknya. Nilai kesegarannya tentu saja sudah berkurang.

Yang ikut berkurang, bukan saja soal kenikmatannya. Tapi juga penghasilan para pembuat pipiti. Dulu di Cibangkonol, kampungnya Kabayan, semua orang pandai membuat pipiti. Dengan sedikit latihan menganyam, semuanya pasti bisa membuatnya. Yang agak susah adalah bagian menyiapkan bahannya, yakni pas memotong, membelah, dan meraut bambu yang akan dijadikan bahan pipiti. Orang yang punya hajatan, biasanya tinggal menyiapkan bambu –yang nggak susah dapetnya, bahkan minta pun banyak yang ngasih, orang yang bertugas mempersiapkan bahan, dan yang mengayam adalah orang yang datang untuk membantu persiapan hajatan, biasanya ibu-ibu dan nenek-nenek.

Kalaupun kemudian mau diambil praktisnya, tinggal beli pipiti yang sudah jadi. Perajin boboko (bakul), hihid (kipas sate), haseupan (anyaman bambu berbentuk kerucut untuk memasak nasi), dudukuy (topi tani, caping), dan bilik (anyaman bambu untuk dinding rumah) pasti siap sedia untuk menerima orderan pipiti. Tapi ya itu, kemunculan plastik dan styrofoam menggusur semuanya.

Ki Oding, mantan pembuat berbagai jenis peralatan anyaman bambu, kini mengaku tak pernah lagi menerima orderan pipiti. Boboko dan haseupan juga sudah tak laku karena orang sekarang lebih memilih memasak nasi pake rice cooker yang sekaligus juga tempat penyimpanannya. Hihid sudah digantikan kipas modern. Bilik sudah tak diminati lagi, karena orang lebih suka membuat rumah tembok, dan dudukuy hanya laku jika dibuat hiasan dinding dengan menambahkan lukisan cat di atasnya, bukan sebagai pelindung kepala lagi.

Teu ngarti (gak ngerti) sayah juga Yan...” kata Ki Oding, pada Kabayan yang datang meminta dibuatkan bilik untuk dinding kandang ayamnya. “Pipiti nggak laku. Padahal kalo soal murah, pipiti dari dulu juga harganya nggak pernah naek. Boboko dan haseupan pensiun dini, dudukuy jadi hiasan dan yang beli hanya turis, dan bilik dimutasi, dari dinding rumah jadi dinding kandang hayam...” sambungnya sambil membersihkan batang bambu dari memerang-nya.

Kabayan nyengir, “Masih untung atuh Ki, sayah masih pesen bilik biar cuma buat kandang ayam...” katanya. “Nanti juga kalo sayah hajatan ngawinin anak sayah, saya pasti pesen pipiti dari aki...” sambungnya. Ki Oding langsung tersenyum, “Kapan kamu hajatannya, bulan mulud ini?” tanyanya.

Kabayan menggeleng, “Belum Ki, nggak tau bulan mulud yang mana, anaknya saja sekarang belum lahir, si Iteung belum hamil-hamil acan....” kata Kabayan. Ki Oding langsung manyun, “Aing (saya) keburu modar atuh!”

Jogja, 7 April 2012