Mohon tunggu...
Alip Yog Kunandar
Alip Yog Kunandar Mohon Tunggu...

Alip Yog Kunandar alias Kang Alip, Berbagi ilmu di Prodi Ilmu Komunikasi UIN Sunan Kalijaga. Dedengkot Komunitas IDEKATA Yogyakarta. Alumnus Peace and Conflict Journalism Network, Course 1 & 2. Menyukai sosok si Kabayan, tapi tidak ingin jadi si Kabayan. Kalo nggak cape, ikutin aja @AlipyogK

Selanjutnya

Tutup

Media

Propaganda "Muka Dua" Jurnalisme CNN dalam Kasus Charlie Hebdo

9 Januari 2015   08:23 Diperbarui: 17 Juni 2015   13:30 0 13 12 Mohon Tunggu...

Malam ini, saya masih tersiksa dengan gatal-gatal yang saya alami beberapa hari terakhir ini. Kayaknya sih gara-gara makan sesuatu yang membuat saya alergi dan tersiksa berhari-hari. Meski demikian, saya masih bersemangat untuk melanjutkan gawean, menyelesaikan naskah untuk calon buku ‘Memahami Propaganda’ yang sudah sebulan lebih saya kebut. Di depan saya ada dua komputer, satu PC untuk mengetik naskah –karena keyboard-nya lebih enak dibawa ngetik yang ngebut—dan satunya lagi laptop yang terhubung koneksi komputer untuk mencari bahan tambahan untuk naskah yang sedang saya kerjakan. Yaah, sesekali laptop itu juga saya pake untuk main game Go Fishing, buat refreshing, kalo turnamen di game itu kalah saya lanjut lagi kerja, kalo ada harapan menang, ya ngegame dulu. Kalo menang terus, ya nge-game terus, hehe.... Di samping saya, karena sudah agak bosan dengan berita tentang kecelakaan AirAsia yang melebar ke mana-mana hingga ke urusan politis, iseng aja saya nyetel saluran CNN, bukan gaya-gayaan, tapi sekalian ngasah telinga dengan bahasa Inggris yang sampai hari ini masih saja gagap. Sejak pukul 8 malam, CNN terus membahas tentang penyerangan majalah Charlie Hebdo di Paris tanggal 7 kemarin, dengan judul “World Headline” yang diisi cuplikan berita, komentar sana-sini, wawancara si ini-si itu, hingga cuplikan postingan dari dunia maya. Di pojok kanan bawah, terpampang dua wajah dengan tulisan ‘Manhunt in France’ yang merupakan wajah dua ‘terduga’ (meminjam istilah media Indonesia untuk menyebutkan orang yang diduga melakukan aksi atau terlibat dalam organisasi teroris), yakni Said dan Sabiq Quasy. Dan, tayangan CNN itu membuat gatal saya makin terasa. Yang ini bukan gatal karena alergi tadi. Ini gatal karena ini menguatkan salah satu bagian dari calon buku saya, bahwa ‘media adalah apparatus propaganda, ’ media adalah penyalur propaganda, disadari atau tidak, disengaja atau tidak. Dan CNN tengah menunjukkan jati dirinya sebagai salah satu apparatus propaganda itu! Menariknya, propaganda model CNN ini adalah model atau metode yang baru, yang tak saya temukan dalam referensi-referensi yang saya baca, entah itu Jowett-O’Donnell, Magedah E. Shabo, Nicholas J Cull dkk, dan yang lainnya. Karena itu, biarlah saya menyebutnya metode ‘propaganda muka dua.’ Saya akan menjelaskan sedikit kenapa saya menyebutnya begitu. Pertama, apparatus propaganda (yang bisa jadi adalah si propagandis –pelaku propaganda-- sendiri), biasanya selalu terang-terangan berdiri di satu pihak dan menyerang pihak lawan. FYI, dalam propaganda, hanya ada dua pihak ‘us’ dan ‘them’ alias ‘kita’ dan ‘mereka.’ Kedua, di sinilah kenapa saya menyebutnya propaganda ‘muka dua’ karena dalam berita CNN, ada tiga pihak yang sengaja dibelah untuk membingungkan khalayak, yakni; ‘us’ sebagai pihak yang berempati pada korban ‘serangan teroris,’ dan ‘them’-nya dibagi dua; satu umat Islam yang menentang aksi kekerasan atas nama agamanya (Islam), dan dua umat Islam yang mendukung aksi ‘serangan terorisme’ itu. Pihak ‘us’ tidaklah perlu dibahas. Di berita digambarkan bahwa serangan itu sangatlah brutal, hingga enam orang jurnalis (termasuk kartunis), pengunjung gedung, dan polisi, harus kehilangan nyawa. Mereka yang tewas yakni Bernard Maris (kolumnis ekonomi), Georges Wolinski, Jean ‘Cabu’ Cabut, Stephane ‘Charb’ Charbonnier, Bernard ‘Tignous’ Verlhac, Philipe Honore (kartunis), Musthapa Ourrad (proof-reader), Elsa Cayat (perempuan, kolumnis), Michel Renaud, Frederic Boisseau (pengunjung gedung), dan dua polisi yakni Franck Brinsolaro dan Ahmed Merabet. Info tambahan, Stephane Charbonnier adalah kartunis kontroversial yang pernah membuat kartun Nabi Muhammad, yang sejak itu selalu dikawal polisi karena adanya ancaman pembunuhan kepadanya. Dan polisi yang menjaganya adalah Franck Brinsolaro yang juga ikut tewas. Untuk memperkuat dukungan terhadap ‘us’ ditampilkanlah berbagai dukungan dari seluruh penjuru dunia, mulai dari kecaman presiden AS Barack Obama, Sekjen PBB Ban Ki-moon, hingga ‘para pemimpin negara-negara Timur Tengah’ (entah negara mana). Selain itu, berita tentang aksi dukungan untuk Charlie Hebdo dengan menaruh pena dikelilingi lilin sebagai ‘dukungan atas kebebasan berekspresi’ hingga pengibaran bendera setengah tiang di Perancis dan lain sebagainya. Setelah itu, CNN mulai membagi dua ‘them’ yakni umat Islam. Umat Islam yang menolak aksi kekerasan, digiring untuk bergabung dengan ‘us’ (yang anti kekerasan, mendukung kebebasan berekspresi, menolak pengatasnamaan agama dalam kekerasan, dan sebagainya). Untuk ini, CNN melakukan beberapa upaya, antara lain; (1) menyebutkan banyaknya kecaman yang datang dari ‘para pemimpin negara Timur Tengah,’ (2) mengangkat fakta bahwa dua orang muslim menjadi korban, yakni Musthapa Ourad yang bekerja sebagai proof-reader (pemeriksa naskah) di Charlie Hebdo, dan seorang polisi Perancis Ahmed Marabet, (3) menampilkan postingan di dunia maya yang intinya menyatakan ‘kami Muslim, dan kami juga korban.’ (4) menampilkan beberapa narasumber muslim seperti aktivis HAM Samia Hathroubi, kolumnis The National Faisal al Yafai, dan Moh. El Dasham, kartunis di Mesir, yang intinya sama, membedakan agama dengan terorisme, dan mendukung kebebasan berekspresi. Pihak ‘them’ inilah yang jadi target propaganda untuk digiring untuk ikut menjadi ‘us.’ Di sisi lain, pihak ‘them’ yang tidak mendukung hal-hal tadi yang kemudian disamakan dengan teroris, pembantai, ekstrimis, pengecut, dan lain sebagainya. Pihak ini, jelas tak bakalan ditampilkan di CNN. Alasannya, inilah ‘musuh’ dari propaganda ini. Anehnya entah sengaja atau ‘keteledoran’ propaganda CNN –atau jangan-jangan ini adalah teknik baru propaganda yang dipakai CNN—meski mengajak umat Islam untuk bergabung dengan ‘us’ di sisi lain, CNN tetap saja menyebarkan kebencian terhadap umat Islam atau agama Islam. Di berita running text, tertulis banyak berita yang sebetulnya bisa membuat Umat Islam tersinggung. Contohnya, CNN selalu mengatakan bahwa ini tidak ada kaitannya dengan agama, akan tetapi di salah satu teks tertulis ‘attacker shouted ‘god is great’ in Arabic as they opened fire’ (silakan diterjemahkan sendiri). Selain itu, CNN selalu menyebutkan bahwa, para kartunis itu pernah membuat kartun yang melecehkan Nabi Muhammad. Ini yang saya sebut propaganda muka dua tadi, mengajak umat Islam bergabung dengan ‘us’ tapi di sisi yang lain, tetap saja melecehkan Islam juga! Teknik-teknik propaganda seperti card stacking, black-white fallacy, name calling, scapegoating dan lain-lain yang digunakan CNN, rasanya kok mendadak tidak berguna jika mereka masih saja menempatkan para pembuat kartun yang melecehkan Nabi Muhammad itu sebagai pahlawan yang harus dikenang karena ‘memperjuangkan kebebasan berekspresi!’ Sebagai mantan jurnalis (di beberapa media gurem, hehe..) dan sekarang mengajarkan jurnalisme dengan terbata-bata di kampus, saya tidak akan menentang apa yang disebut dengan ‘kebebasan berekspresi’ itu. Merekalah –para dedengkot jurnalisme barat, termasuk CNN—yang mengajarkannya. Tapi apa mereka lupa, bahwa suhu jurnalisme, Bill Kovach dan Tom Rosenstiel, mengajarkan pula bahwa, batas kebebasan dalam jurnalisme itu adalah ketika tidak mengganggu kebebasan orang lain. Lah, sementara yang dilakukan oleh Stephane Carbonnier dkk itu jelas-jelas melanggar ‘kebebasan’ umat Islam. Bukan hanya melanggar, tapi juga menginjak-injaknya. Apa lantas mereka pantas diberi gelar pahlawan ‘kebebasan berekspresi? Apa itu yang akan kita contoh sebagai bentuk ekspresi kebebasan? Harap dicatat, saya tak pernah mendukung aksi seperti serangan itu (Ntar saya dianggap mendukung aksi terorisme lagi, kan berabe, hehe…). Tapi standar ganda alias muka dua soal ‘kebebasan berekspresi’ versi mereka itu sungguh menggelikan! Jadi, dalam hal ini, meski kebebasan pers dan berekspresi di Indonesia masih dianggap amburadul, toh, para jurnalis kita (juga para seniman, dan kartunis), masih jauh lebih tahu sampai mana ‘kebebasan berekspresi’ itu. Jurnalis kita, tidak pernah ‘segila’ itu berekspresi, sampai menyinggung keyakinan dan agama orang lain. Mudah-mudahan akan terus begini…. Ah sudahlah… saya takut Kompasianers yang membaca tulisan saya itu jadi pusing dengan penjelasan saya. Apa boleh buat, menulis analisis propaganda itu memang ruwet, berat. Apalagi ditulis sambil terus menggaruk-garuk badan…. Jogja, 08-09/01/15

KONTEN MENARIK LAINNYA
x