Boeng  Edo
Boeng Edo Penulis lepas

Pengamat dan Penikmat

Selanjutnya

Tutup

Bahasa Pilihan

Absurditas Literasi Kita

6 Juni 2018   21:55 Diperbarui: 6 Juni 2018   22:22 262 2 1
Absurditas Literasi Kita
Novel Anna Karenina. Sumber Gambar: stupidbookworm.wordpress.com

Ketidakmampuan dalam memahami bahasa asing, sudah menjadi penyakit umum dalam masyarakat Indonesia. Barangkali masalah itu tidak hanya menimpa bangsa Indonesia, tapi juga menimpa pada bangsa-bangsa lain. Hanya minoritas saja yang mampu menguasai bahasa asing atau bahasa selain bahasa Ibu.

Berangkat dari kesadaran tersebut, banyak dari para penerjemah terdidik mencoba menerjemahkan karya-karya asing yang sulit dijamah oleh para kutu buku. Bukan hanya bagi para kutu buku, para akademisi pun juga sangat familiar dengan buku-buku berbahasa asing yang telah diterjemahkan. Mulai dari terjemahan bahasa Arab ke Indonesia, Inggris-Indonesia, Jerman-Indonesia, dan bahasa-bahasa lain di belahan dunia.

Uniknya, seringkali buku terjemahan tidak melulu secara langsung diterjemahkan dari teks aslinya. Terkadang buku terjemahan ditangan kita adalah terjemahan dari tangan ke tiga, artinya, buku itu diterjemahkan dari teks terjemahan. Ambil contoh seperti karya seorang sastrawan Rusia bernama Leo Tolstoy yang berjudul Anna Karenina. Teks asli dari novel tersebut adalah berbahasa Rusia, kemudian novel tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, lalu giliran Translator kita mengambil peran dengan mengeksekusi teks berbahasa Inggris tersebut, yang kemudian diterjemahkan lagi ke dalam bahasa Indonesia. 

Singkatnya adalah terjemahan yang diterjemahkan. Keculai apa yang dilakukan oleh KoesalahSoebagyo Toer-adik kandung dari Pramoedya Ananta Toer, beliau menerjemahkan novel tersebut secara langsung dari bahasa Rusia ke bahasa Indonesia, mengingat penguasaannya dalam bahasa Rusia yang tak diragukan lagi, dan memang belau pernah tinggal di Rusia cukup lama, sehingga sangat memahami bagaimana keadaan sosial-budaya disana.   .

Diakui atau tidak, para penerjamah mempunyai kontribusi yang sangat besar terhadap literasi kita. Ia menjadi jembatan yang memungkinkan tersampainya ilmu kepada para pembaca yang masih belum melek bahasa asing. Tak berlebihan bila kontribusi mereka dikaitkan dengan tugas Jibril yang menyampaikan pesan Tuhan kepada Muhammad. Para penerjemah menyampaikan pesan-pesan yang mustahil bisa dipahami kecuali dengan campurtangannya, oleh para kutu buku yang notabene masih buta akan bahasa asing .

Namun di sisi lain, ada juga sebagian diantara mereka yang begitu menjengkelkan. Bagaimana tidak, mereka menerjemahkan buku-buku berbahasa asing dengan jalan banting kamus. Artinya mereka memaksakan sebuah instalasi terhadap teks berbahasa asing. Bukankah hal itu mustahil dilakukan, atau lebih tepatnya tak pantas dilakukan, khususnya pada karya-karya imajinatif; Novel, cerpen, atau bahkan puisi. Tersebab dalam karya imajinatif, di dalamnya mengandung amanat yang harus disampaikan kepada pembaca, entah itu emosi, pesan moral, atau keutuhan di dalam suatu cerita.

Entah bagaimana para penerjemah yang seperti itu bekerja. Apakah yang mereka buru hanyalah soal kuantitas, yang memang secara pragmatis mungkin bisa menghasilkan banyak uang. Tapi apakah mereka tidak melihat bagaimana minat baca pada masyarakat kita yang sangat memprihatinkan, seperti yang dilansir dalam "Studi  Most Littered Nation In the World"  yang dilakukan oleh "Central Connecticut State Univesity" pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat membaca. Sangat miris bukan.

Mendengar berita seperti itu, apakah para penerjemah yang pragmatis masih sampai hati, menjadikan para pembaca seperti sebuah patung yang hanya bisa melototi teks-teks absurd tanpa mendapat apa-apa kecuali membuat kening berkerut. Bahkan dengan kefokusan tingkat tinggi sekalipun, membaca  buku seperti itu, yang pada hematku adalah buang-buang umur. Mengingat umur manusia yang relatif pendek kalau untuk melahap semua buku yang ada di planet ini.

Meski minat baca pada masyarakat kita masih sangat memprihatinkan, paling tidak buku-buku terjemahan dari bahasa asing tidak hanya sekadar asal jadi. Yang bukan hanya menyoalkan tentang banyaknya karya yang telah diterjemahkan, tapi juga memprioritaskan mutu dari apa yang telah diterjemahkan. Dengan harapan benar-benar dapat menjadi jembatan untuk mengikat makna bagi para pembaca yang masih minim pemahamannya akan bahasa asing.