Mohon tunggu...
Alifa Maulidya
Alifa Maulidya Mohon Tunggu... Konsultan - Alifa Maulidya

Mahasiswi UIN Walisongo Semarang

Selanjutnya

Tutup

Ilmu Sosbud

Pendidikan dan Karakter sebagai Seni Bersosial di Dunia Nyata Maupun Maya

18 November 2021   18:41 Diperbarui: 18 November 2021   18:46 117
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilmu Sosbud dan Agama. Sumber ilustrasi: PEXELS

Sebagai salah satu desa di kabupaten Blora, Jawa Tengah, Gotputuk menghadirkan pemandangan apik dengan hamparan sawah dan petani sebagai mata pencaharian utama bagi sebagian besar warganya. Jumlah kepala keluarga yang terhitung banyak juga menyebarkan anak-anak yang tersebar di penjuru desa mulai dari balita hingga remaja. 

Dengan jumlah yang melampaui 50 anak, penyebaran informasi dapat berkembang dengan cepat dan berbagai cara termasuk teknologi yang semakin berkembang. Fakta tersebut mendasari Pak Anang---begitu panggilan akrabnya---mendirikan sebuah taman belajar bahasa asing, yaitu Bahasa Inggris untuk mengembangkan kemampuan bahasa anak-anak di desa Gotputuk.

Sasaran beliau adalah siswa Sekolah Dasar dan belakangan menyusul siswa Sekolah Menengah Pertama dan Menengah Atas yang ikut bergabung. Menurutnya, sebagai seseorang yang tidak menguasai Bahasa sejak dini, sudah seharusnya menyediakan wadah dan kesempatan bagi mereka yang ingin dan mau belajar. Terobosan tersebut merupakan hal yang sangat luar biasa untuk generasi saat ini mengingat kebanyakan anak lebih banyak fokus menghadap gawai dibanding dengan membaca buku.

Amazingly, antusias anak-anak terhadap ide taman belajar tersebut sangat tinggi dengan jumlah siswa yang mencapai angka 50, yang mana hampir menggandeng seluruh anak di desa Gotputuk. Dengan menitipkan informasi ke salah satu anak saja, taman belajar langsung tersebar ke seluruh desa. 

Sistem belajar yang diterapkan juga tidak hanya fokus materi, tetapi mempertimbangkan mood siswa, sehingga para tentor berusaha menyeimbangkan antara belajar dan bermain dengan goal materi tetap tersampaikan tanpa siswa merasa bosan. Pemulihan kegiatan setelah pandemi bagaikan mengulang kembali sejak awal terutama dalam proses pembelajaran siswa, sehingga butuh beberapa waktu untuk mengaktifkan mood belajar siswa secara serius.

Selain Pak Anang, terdapat juga taman belajar yang berperan sebagai pendukung di saat anak-anak Sekolah Dasar mengalami kesulitan dalam proses belajarnya di sekolah yang terbatas saat ini, yaitu pendampingan belajar dengan Pak Yanto sebagai pemilik sekaligus pendamping belajar. Sama seperti Pak Anang, anak-anak yang bergabung di dalamnya memiliki semangat tinggi meski kegiatan harian yang bisa dikatakan padat. Sistem belajarnya terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan grade dengan materi yang berbeda-beda.

Ada hal mendasar dalam kedua taman belajar tersebut, yaitu mereka memiliki antusiasme tinggi anak-anak yang cenderung mau menerima pembelajaran dan ilmu baru tanpa merasa malu meski latar belakang lingkungan tempat tinggal yang tidak semaju kota-kota besar. Namun, antusiasme itulah yang akan membawa kemajuan untuk Gotputuk melalui pola pikir generasi muda yang terus berkembang menyesuaikan serta menguasai dunia di era yang semakin tidak dapat diprediksi. Untuk memulainya, orang-orang seperti Pak Anang serta Pak Yanto menjadi pintu utama membuka kesempatan luas yang menjadi sarana para generasi muda memulai mimpi mereka.

Tentu dengan catatan segala sesuatu tidak dimulai dengan paksaan, apalagi untuk tujuan lain yang negatif seperti doktrinasi hingga radikalisme yang sangat berbahaya dan halus penyebarannya. Sebaliknya, taman belajar haruslah selalu menanamkan pendidikan yang sangat dibutuhkan untuk beradaptasi dengan dunia luar, salah satunya yaitu pendidikan karakter. 

Sebagai lingkungan pendidikan utama, keluarga memanglah memegang peran paling penting dalam pembentukan karakter anak, tetapi tidak cukup juga jika tidak diajarkan sekaligus diterapkan di lingkungan luar melalui pendidikan formal maupun nonformal.

Dari sanalah tantangan bagi para pendidik untuk selalu menjaga keselarasan antar siswa agar bisa saling menghargai terlepas dari latar belakang masing-masing. Terutama ketika pengajaran yang disampaikan hanya berupa pengertian tanpa menerapkan pola pikir yang continuous bagi siswa ke depannya. 

Nyatanya, di era saat ini, menanamkan pola pikir yang berkelanjutan merupakan hal yang sulit terlebih lagi jika tidak dimulai sejak anak-anak, sehingga ketika beranjak dewasa mereka cenderung bebal dan tidak memerhatikan hal semacam itu.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Ilmu Sosbud Selengkapnya
Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun