Mohon tunggu...
Ali Arief
Ali Arief Mohon Tunggu... Seniman

Saya berasal dari Kota Medan...berkarya dan berkreativitas dibutuhkan kemauan dan keyakinan untuk tetap konsisten di jalur kejujuran dan kebenaran...tetap belajar memperbaiki diri...

Selanjutnya

Tutup

Cerpen Pilihan

Kenangan Berdagang Menu Berbuka di Bulan Ramadan

8 April 2021   08:18 Diperbarui: 8 April 2021   08:30 74 5 2 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Kenangan Berdagang Menu Berbuka di Bulan Ramadan
Sumber: Liputan6.com

Aku memulai berjualan makanan sebelum saat salat Ashar tiba. Bersama dengan ibu dan kakakku, kami membuka dagangan makanan untuk menu berbuka puasa di bulan Ramadan. Bulan Ramadan merupakan bulan penuh keberkahan bagi keluargaku. Ibu dan kakakku mempersiapkan menu berbuka puasa yang akan dijual sekitar pukul 12:15 wib. Dengan semangat yang tinggi, aku membersihkan lokasi berjualan dan menyusun menu makanan berbuka puasa yang telah terletak di atas meja. "Wah, sudah selesai ya menyusun dagangannya. 

Ibu dan kakakmu, apakah masih di rumah? Saya lihat dari tadi kamu merapikan sendiri tempat dagangan ini, padahal kakakmu biasanya sudah sampai. "Ucap seorang ibu yang juga pedagang makanan menu berbuka puasa di lokasi aku berjualan. "Oh, kakak dan ibu saya sedang mempersiapkan olahan menu berbuka, in syaa Allah sekitar 15 menit lagi akan tiba." Jawabku kepada ibu tersebut.

Azan pun berkumandang, aku segera bersiap-siap untuk menunaikan salat Ashar di masjid yang lokasinya tidak jauh dari tempatku berdagang. "Assalamualaikum Amri, kamu ingin menuju ke masjid ya, ayuk kita berangkat bersama." Aku pun membalas salam dari arah suara yang memanggilku. Ternyata suara yang memanggilku adalah Rustam, teman sekelas di SMA yang kebetulan melintas di depanku. Aku pun naik di atas boncengan motor yang dikendarainya. Sesampai di masjid, aku segera berwudhu lalu menunaikan salat fardhu Ashar secara berjamaah.

"Alhamdulillah, aku sudah selesai menunaikan salat fardhu Ashar dan sekarang harus segera membantu ibu dan kakakku untuk berdagang. Ya Allah, mudahkanlah rezeki kami untuk hari ini sehingga dagangan yang ada habis terjual, aamiin." Aku pun menuju arah tempat ibu dan kakakku mulai melayani pembeli. Satu per satu pembeli memesan makanan menu berbuka puasa.

 "Bu, saya pesan mie goreng, kue lapis, dan satu bungkus bubur sumsumnya. Jangan lupa ditambahkan gula merahnya, ya Bu." Ucap pembeli langganan yang sejak tadi mengantri. "Kalau saya pesan kue lapis 10 ribu, mie goreng empat bungkus, dan es campurnya satu bungkus." Pembeli yang lain tetap sabar menunggu antrian, sebelum menerima makanan yang  dipesan.

Aku merasa bersyukur, karena doaku terkabul. Makanan yang didagangkan seluruhnya habis terjual sebelum menjelang waktu berbuka puasa. Dengan perasaan senang dan bahagia, aku membersihkan serta merapikan kembali tempatku berjualan. Ibu dan kakakku menghitung penghasilan yang kami peroleh hari ini. "Alhamdulillah, semua modal dan untung yang kita dapatkan hari ini lebih baik dari hari sebelumnya. 

Kita harus tetap selalu bersyukur, hari ini kita diberikan rezeki yang sangat banyak dan para pembeli sepertinya sangat menikmati menu berbuka yang kita jual." Ucap ibu kepada aku juga kakakku. "Ya Bu, Atikah juga sangat senang karena tenaga dan semangat kita berusaha dapat terbayar dengan hasil yang sangat memuaskan. Semoga hingga akhir Ramadan nanti, usaha dagangan kita tetap terus berjalan lancar, aamiin." Kakakku pun segera membawa peralatan dagang yang telah dibersihkan.

Hari demi hari terus kami lalui di saat menjual menu berbuka puasa. Aku sangat bahagia, meskipun saat ini harus hidup bertiga di rumah yang sederhana bersama ibu dan kakakku. Sejak ayahku meninggal dunia setahun lalu, ibu dan kakakku berusaha bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dengan berjualan makanan di bawah emperan toko. 

Dan di bulan Ramadan saja sepertinya usaha dagang ibuku, terlihat lebih ramai pembelinya dibandingkan bulan yang lain. Aku juga menjadi lebih tegar menghadapi segala cobaan hidup, dan tetap berusaha untuk tidak patah semangat berusaha bersama ibu dan kakakku.

"Kamu belum tidur Amri, besok kamu harus sahur dan membantu ibu membersihkan tempat berdagang kita, Nak." Ibu mengelus-elus pundakku seraya mengingatkanku untuk segera beristirahat. "Sebentar lagi, Amri belum ngantuk Bu. Lagian besok juga hari libur, Amri ingin malam ini dapat memandang rembulan yang hampir hilang tertutup awan. Seandainya Bapak masih berada di hadapan kita, ibu tidak akan bekerja keras dan banting tulang untuk memenuhi kebutuhan hidup kita. Bapak tidak akan membiarkan ibu tidur hingga tengah malam." 

Ucapku kepada ibu. "Kamu harus tetap bersabar, Amri. Semua sudah ditakdirkan Allah kepada kita. Almarhum Bapak akan merasa bangga jika kamu tetap semangat dan selalu bersyukur akan semua yang Allah telah berikan kepada kita. Masih banyak lagi orang lain yang keadaan dan kehidupannya di bawah kita, akan tetapi mereka tetap bersyukur. Ya, kita harus senantiasa mensyukuri semua yang telah Allah berikan. Sekarang istirahatlah, besok kamu masih tetap harus membantu ibu dan kakakmu berdagang." Ibu mengingatkanku untuk segera beristirahat, lalu aku menuju kamar setelah mencuci kaki dan tanganku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN