Mohon tunggu...
Ali Efendi
Ali Efendi Mohon Tunggu... Pendidik

Pemerhati Sosbud dan Lingkungan - Lahir dan tinggal di Kampung Nelayan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Selamatkan Folklor dari Invasi Gadget

28 Mei 2019   14:25 Diperbarui: 29 Mei 2019   06:13 0 11 3 Mohon Tunggu...
Selamatkan Folklor dari Invasi Gadget
Dikenal juga dengan nama ular naga, biasanya dimainkan oleh anak perempuan dan anak laki-laki secara bersama-sama. (Foto: Kompas.com)

Pada 15 Januari 2015 telah dirilis sebuah film layar lebar dengan judul "Paper Planes" di Australia. Film yang mengangkat tema utama tentang permainan rakyat "Pesawat Kertas" disutradarai oleh Robert Connolly meraih penghargaan box office dengan menjual tiket sebanyak 9,61 juta AUD (Australian Dollar).

Film "Paper Planes" mengangkat tema yang cukup langkah, yaitu lomba menerbangkan pesawat kertas. Ternyata permainan pesawat kertas di Australia dapat dilombakan tingkat nasional dan internasional. Dalam film ini ditampilkan berbagai model pesawat kertas dilombakan yang diikuti oleh siswa di negara bagian di Australia.

Cerita dalam film ini terbilang biasa-biasa saja, tetapi syarat dengan pesan dan motivasi yang disampaikan. Bagaimana sebuah permainan rakyat yang masih terjaga dengan baik dan ditradisikan dalam lingkungan pendidikan? Bahkan pemerintah berpartisipasi dengan melegalkan permainan tersebut dengan mengadakan perlombaan tingkat lokal dan nasional.

Bagaimana dengan nasib permainan rakyat (folklore) di Indonesia? Tentu sangat kontras, apabila dibandingkan dengan cerita film Paper Planes. Di Indonesia hampir semua permainan rakyat (folklore) saat ini mengalami sekarat atau sebagian benar-benar telah punah atau mati.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Folklor adalah adat istiadat tradisional dan cerita rakyat yang diwariskan secara turun temurun, tetapi tidak dibukukan. Sedangkan menurut Jan Harold Brunvard, ahli folklor dari Amerika Serikat, membagi folklor ke dalam tiga kelompok besar berdasarkan tipologinya, yaitu: folklor lisan, folklor sebagian lisan, dan folklor bukan lisan (Alpine G. Wibatsuh, 2011).

Folklor sebagian lisan merupakan mermainan rakyat atau Permainan rakyat yang disebarkan melalui tradisi lisan dan banyak disebarkan tanpa bantuan orang dewasa. Contoh: congklak, teplak, galasin, bekel, main tali atau lompat tali, bentik, gobak slodor, petak umpet, egrang, gatrik, engklek, ular naga, balap karung, pesawat kertas, layang-layang, kelereng, dan sebagainya.

Permainan rakyat sekarang sudah tidak lagi dimainkan oleh anak-anak usia sekolah dasar atau usia remaja karena Permainan rakyat telah terdesak oleh permainan modern yang berbasis online. Globalisasi tidak hanya menghilangkan batas-batas sebuah negara, tetapi juga memakan korban budaya suatu bangsa yang telah menjadi identitas.

"Dalam hal ini peran pemerintah ditunggu karena berkaitan regulasi, Kementrian Pendidikan dan kebudayaan RI memainkan peran yang aktif untuk melegalkan dan memasukan materi dan standar isi dalam kurikulum yang berkaitan dengan Permainan rakyat yang berdimensi local genius."

Interaksi sosial di era globalisasi dan informasi tidak hanya berdampak posistif untuk perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, pendidikan, seni, dan budaya. Tetapi juga berdampak negatif bagi sendi-sendi kehidupan, seperti penyebaran budaya gaya hidup punk sebagai bentuk westernisasi yang melanda anak-anak usia remaja.

Zaman keemasan Permainan rakyat kertas telah berakhir menuju titik kepunahan dengan ditandai perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang saat ini telah masuk pada level insdustri 4.0. Anak usia remaja lebih familiar dengan permainan yang berbasis komputer atau gadget, seperti game dengan berbagai macam pilihan yang ditawarkan.

Memang harus diakui dalam satu sisi, permainan modern menjadikan anak lebih gaul dan mahir dalam urusan teknologi komputerisasi. Tetapi di sisi lain, permainan modern telah menjadikan anak seperti robot yang tunduk atas perintah tombol keybord pada komputer dan gadget.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN