Alfredo Pance Saragih
Alfredo Pance Saragih Pembelajar

"Seseorang yang memilih untuk diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan" Kunjungi blog pribadi saya: https://alfredopance.blogspot.co.id

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Pidato (Andai Saya) Prabowo

21 April 2019   15:52 Diperbarui: 21 April 2019   16:05 1190 14 5
Pidato (Andai Saya) Prabowo
Prabowo Subianto bersama Sandiaga Salahudin Uno menggelar deklarasi kemenangan (Foto:Liputan6)

Beberapa saat setelah penghitungan cepat (quick qount),kita bisa menyimpulkan gambaran hasil pemilihan, yakni kemenangan ada pada Capres 01 Jokowi-Amin.

Namun, anehnya kandidat lain (Prabowo) juga mengklaim dirinya sebagai pemenang dan menggelar 3 kali deklarasi kemenangan (menggunakan statistika dari kayangan) meraih 62% (katanya).

Memang dari berbagai pemilu, baik di Indonesia dan Luar Negeri, seringkali kandidat yang kalah tidak terima akan kekalahan.  Bahkan Turki yang baru saja (April 2019) menggelar pemilihan Walikota, juga kandidat yang kalah tidak terima akan hasil pemilu.  

Benar kata Mahfud MD bahwa dalam kontestasi pemilu, bahwa pihak yang kalah akan cenderung menyalahkan KPU, media, Lembaga Survei dll,  terutama yang menyajikan data tentang kekalahan mereka. Pahit memang. Karena sejarah akan selalu ditangan pemenang, bukan dipihak yang kalah.

Namun, coretan sederhana ini tidak mengulas tentang itu, bukan pula mengulas tentang hasrat mempertahankan jabatan yang kata Gus Dur bahwa tidak ada jabatan yang perlu diperjuangkan 'mati-matian', bahkan jabatan presiden sekalipun.  

Namun, beda halnya dengan Prabowo. Ia bahkan sanggup memanipulasi kesadarannya, sehingga ia tetap percaya diri mengklaim sebagai pemenang, sama persis seperti pemilihan presiden 2014 lalu.  

Pada malam 17 April 2019, dalam pernyataannya, dia menganggap dirinya sebagai presiden. "Saya akan dan sudah menjadi Presiden Republik Indonesia. Untuk video lengkapnya, saya kira kita semua bisa melihatnya di Youtube.

Nah, kita masuk ke poin utama. Dimana poinnya adalah tentang menerima kekalahan dan kemauan memperbaiki diri, serta mengakui kelebihan lawan dan menghormatinya.  

INI PIDATO (JIKA SAYA) PRABOWO

Asalamualaikum warahmatulahi wabarakatuh; syalom,salam sejahtera buat kita semua.

Terima kasih, terima kasih banyak atas kedatangan anda di malam yang indah ini.

Teman-teman sekalian, kita telah tiba di ujung perjalanan. Warga Indonesia telah berbicara, beberapa saat yang lalu, saya telah menelpon bapak Joko Widodo untuk memberikan ucapan selamat.

Mari. Kita selamati beliau karena telah terpilih sebagai presiden negeri tercintai ini untuk periode 2019-2024.

Dalam "pertarungan" yang panjang dan sulit ini, kesuksesan beliau mengundang rasa hormat saya pada kemampuan dan ketangguhannya.

Keberhasilannya telah memberi inspirasi dan harapan bagi 265  juta jiwa rakyat Indonesia yang pernah meyakini bahwa mereka kaum bangsa yang siap untuk menjadi :Macan Asia". Itulah yang membuat saya merasa sangat kagum dan memberikan penghargaan yang begitu tinggi atas pencapaian beliau.

Saya selalu percaya, bahwa Indonesia menawarkan kesempatan kepada semua orang untuk maju dan mengembangkan dirinya dan menjadi pemimpin bangsa.

Namun kami berdua menyadari, bahwa meskipun kami telah melalui jalan panjang dari ketidak adilan yang pernah terjadi dan sempat menodai reputasi negara kita, dan menghalangi sejumlah orang Indonesia untuk memperoleh berkah sepenuhnya sebagai warga Indonesia. Kenangan tentang hal itu masih sanggup melukai perasaan kita.

Saya dan Pak Jokowi telah memperdebatkan visi misi kami yang berbeda, dan ternyata beliau lebih mumpuni. Tentu saja masih banyak perbedaan yang tersisa.

Namun,  negara kita sedang mengalami masa-masa yang sulit. Dan saya berjanji kepada beliau malam ini, untuk melakukan apapun yang sanggup saya lakukan untuk membantu beliau memimpin kita melewati berbagai tantangan yang kita hadapi.

Saya himbau kepada seluruh orang Indonesia, terutama Partai Koalisi, ada gerinda, PAN, PKS, berkarya dan Demokrat,  Para relawan Prabowo-Sandi,  jajaran Badan Pemenangan Nasional (BPN), yang telah mendukung saya, untuk tidak Cuma memberinya ucapan selamat, tetapi juga menawarkan kepada presiden kita itu, niat baik dan upaya keras untuk bersama-sama menemukan solusi atas permasalahan bangsa kita saat ini.

Apapun perbedaan kita, kita adalah adalah Bangsa Indonesia. Kita satu dalam NKRI,  satu dalam ideologi Pancasila.  Jangan pernah meragukan ketulusan niat saya untuk benar-benar bekerjasama dengan beliau.

Saya juga menghimbau jikapun malam ini kita merasakan kekecewaan, namun di hari esok kita harus segera keluar dari kekecewaan itu, dan bekerjasama menggerakkan kembali roda kehidupan bangsa kita ini.

Kita telah berjuang sekuat mungkin, meskipun kita merasa kalah, kekalahan itu adalah milik saya sendiri, bukan kekalahan anda. Kalian semua adalah pemenang.

Dari lubuk hati yang terdalam, saya menghargai dan menghormati dukungan anda dan semua yang telah anda lakukan untuk saya. Kita semua tentu mengharapkan hasil pemilihan ini berbeda dari apa yang ada sekarang.

Perjuangan yang telah kita lalui selama begitu sulit, namun dukungan dan persahabatan anda tidak pernah kendur. Saya tidak mampu menggambarkan, betapa besarnya utang budi saya kepada Bapak-Ibu Sekalian.

Saya sungguh beruntung, dan tak pernah merasa lebih beruntung dari sekarang ini, berkat cinta dan dukungan yang telah kalian berikan kepada saya.

Saya tidak tahu, saya tidak tahu apa lagi yang bisa kita perbuat untuk mencoba memenangkan pemilu ini. Saya titipkan kepada yang lain untuk dijadikan sebagai pengalaman berharga.

Setiap calon pasti melakukan kesalahan. Dan saya yakin, sayapun pernah melakukannya sadar atau tidak. Namun saya tidak akan menghabiskan waktu di masa depan untuk menyesali apa yang telah terjadi.

Kampanye ini, dari dulu, sekarang, dan di masa yang akan datang, akan selalu menjadi kebanggaan terbesar dalam hidup saya, hati saya dipenuhi dengan rasa terima kasih atas kesempatan terlibat dalam pengalaman ini.

Dan saya juga bangga kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberi saya kesempatan untuk berdiskusi secara fair dalam debat terbuka, sebelum akhirnya memutuskan untuk memilih sahabat saya bapak Jokowi dan bapak Maaruf Amin  untuk memimpin kita 5 tahun ke depan.

Saya tidak akan menjadi orang Indonesia yang merasa layak untuk menyesali nasib yang memungkinkan saya memberikan pengabdian bagi negeri ini selama setengah abad?

Saat ini, saya pernah 4 kali menjadi calon untuk jabatan tertinggi di negeri tercinta ini. Dan malam ini, saya tetap abdi negeri ini. Hal itu cukup menjadi anugrah bagi siapapun dan saya berterima kasih kepada Warga dari Aceh hingga Papua untuk segalanya.

Malam ini, lebih dari malam-malam lainnya, tidak ada yang tersisa dalam hati saya, kecuali rasa cinta kepada negeri ini dan seluruh warganya, baik yang mendukung saya, maupun yang mendukung Jokowi-Amin.

Semoga rahmat Tuhan tercurah bagi pria yang pernah menjadi lawan saya namun akan segera menjadi Presiden saya. Dan saya undang seluruh Orang Indonesia, sebagaimana sering saya sampaikan dalam setiap kampanye saya, untuk tidak berputus asa terhadap kesulitan kita saat ini.

Namun tetap percaya, dan selalu percaya pada janji dan pada kemajuan bangsa Indonesia, karena semua hal masih mungkin terjadi.  Kita tetap bersama-sama menggalang kemajuan, menuju Indonesia yang Adil dan Makmur.

Terima kasih, Tuhan memberkati Kita semua, dan Tuhan memberkati bangsa kita, Indonesia. Terima kasih banyak untuk anda semua.

Kura-kura begitulah pidato saya, Andai misalkan saya Prabowo.

Catatan: Tulisan ini terinspirasi dari pidato John McCain, Kandidat Calon Presiden Amerika Serikat pada tahun 2008. McCain gagal mencapai perolehan suara terbanyak, dan dimenangkan oleh Barrack Husein Obama.  Pada malam seusai pemilu, McCain berpidato dan menerima kekalahannya.  Bahkan menyerukan pendukungnya untuk mendukung presiden terpilih.


Salam hangat,
ALFREDO PANCE SARAGIH.