Mohon tunggu...
Alfonsina M. Tapotubun
Alfonsina M. Tapotubun Mohon Tunggu... Dosen - Dosen FPIK Universitas Pattimura - Duta Kampus Merdeka

Menyukai dinamika... menghargai kerja cerdas

Selanjutnya

Tutup

Money Artikel Utama

Ekonomi Biru dari Laut

1 November 2023   19:52 Diperbarui: 2 November 2023   09:27 719
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi ekonomi biru.(UNSPLASH/HUGH WHYTE)

EKONOMI BIRU DARI LAUT BIRU 
Penulis: Alfonsina Marthina Tapotubun
Fakultas Perikanan dan Ilmu Kalutan Universitas Pattimura

Konsep Blue Economy atau ekonomi biru pertama kali diperkenalkan oleh Prof. Gunter Pauli (Direktur Blue Economy Holding KK), dalam bukunya The Blue Economy, 10 Years, 100 Innovations, 100 Million Jobs, dengan misi utama menggeser masyarakat dari kelangkaan menuju kelimpahan berkelanjutan dengan apa yang dimiliki "with what we have".

Paradigma ekonomi biru menggambarkan konsep ekonomi yang berhubungan dengan pemanfaatan, perlindungan dan regenerasi lingkungan laut (marine enviroment). 

Hal ini penting mengingat 70 persen permukaan bumi terdiri dari laut. Bank Dunia mendefenisikan blue economy sebagi pengelolaan sumberdaya maritim secara berkelanjutan untuk penyediaan pekerjaan, pertumbuhan ekonomi dan peningkatan taraf hidup masyarakat dengan tetap menjaga kesehatan ekosistem laut (Kompasiana 26/10/2023).

Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) menegaskan bahwa penggunaan konsep ekonomi biru akan membantu pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan nomor 14 yaitu ekosistem lautan.

Saat ini pemerintah khususnya Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mencanangkan ekonomi biru sebagai model bisnis untuk pengembangan kelautan dan perikanan di Indonesia.

Konsep ekonomi biru merupakan langkah bijak dalam mengelola wilayah laut yang luas untuk kemaslahatan masyarakat nelayan dan pesisir yang mendiami berbagai pulau besar dan kecil di Indonesia.

Hal ini sekaligus memperlihatkan posisi Indonesia sebagai poros maritim dunia yang berkomitmen memberdayakan potensi maritim untuk mengurangi ketimpangan ekonomi masyarakat Indonesia.

Laporan Food Agricultural Organization (FAO) mencatat hasil tangkapan laut Indonesia pada 2020 mencapai 6,43 juta ton dan merupakan satu-satunya negara dengan hasil tangkapan lebih besar setelah Cina, yaitu 11,77 juta ton (databox.katadata.co.id).

Ini memperlihatkan kekayaan laut Indonesia yang tinggi walaupun masih didominasi oleh alat penangkapan ikan yang sederhana dan belum diimbangi dengan kapal penangkapan modern.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Money Selengkapnya
Lihat Money Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun