Tekno Pilihan

Kota Magelang Menuju "Smart City"

14 November 2017   22:46 Diperbarui: 14 November 2017   23:00 548 0 0

Beberapa tahun terakhir ini kita banyak mendengar jargon tentang kota cerdas alias smart city. Banyak kota yang bermodalkan wifi gratisan di tempat-tempat umum berlomba-lomba mencanangkan program smart city. Apakah koneksi internet yang memadai itu sudah cukup untuk menyatakan diri sebagai smart city? 

Selama sampah masih menggunung di tempat pengumpulan sampah, kabel berseliweran mengganggu mata memandang langit yang biru, orang lebih banyak naik kendaraan pribadi dibanding kendaraan umum (apalagi kalau masih ada angkot demo gara-gara kehadiran transportasi online), macet, dan seabrek permasalahan lainnya ya jangan ngaku cerdas. Benahi dulu hal-hal yang mendasar, baru kita bicara tentang layanan publik berbasis internet. 

Saya tinggal di Magelang. Sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang sejuk dan nyaman. Berbicara tentang Magelang, perlu kita semua ketahui bahwa ada dua entitas administrasi di Magelang raya, yaitu Kota Magelang dan Kabupaten Magelang. Saya warga Kabupaten magelang, akan tetapi dalam hal ini saya ingin bicara tentang Kota Magelang. Rumah saya memang secara administrasi masuk di Kabupaten Magelang, tapi letaknya menempel di kota Magelang, dan sebagian besar aktivitas saya dilakukan di kota. Nuwun sewu, boleh lah ya saya bicara tentang kebijakan Kota Magelang. 

Saya dengar Kota Magelang ini telah masuk salah satu kota yang mencanangkan smart city. Saya lihat di beberapa tempat sudah terpasang tiang-tiang yang menyangga kabel fiber optic, Magelang menuju pelayanan publik online. Apakah itu cukup untuk menjadi modal menjadi smart city? Tidak cukup pintar jika tidak dibarengi usaha untuk memperbaiki layanan yang fundamental seperti pengelolaan sampah, transportasi, dan lain-lain. Dari sekian banyak lain-lain itu saya ingin menyoroti masalah pengelolaan sampah dan transportasi umum. 

Untungnya, sebagai kota dengan luas 18,12 km (https://id.m.wikipedia.org/wiki/Kota_Magelang), permasalahan yang dihadapi magelang tidak serumit permasalahan kota besar. Secara umum kota masih terlihat bersih dari sampah, tapi sampah masih menggunung di TPS yang masih dikelola secara konvensional. Macet belum banyak terlihat di jalanan. Namun demikian, jika populasi kendaraan tidak dikendalikan, bukan tidak mungkin Magelang akan terjebak macet karena banyaknya kendaraan pribadi. Jujur saya pribadi males banget rasanya naik angkot. Lambat! Ngetem! Nggak nyaman lah pokoknya. 

Oke kita bicara soal sampah dulu. Mumpung Kepala Dinas Lingkungan Hidupnya mantan wali kelas saya di SMA dulu nih. Salim kepada Pak Machbub :) 

Semoga nilai-nilai saya zaman SMA dulu tidak membuat beliau malas membaca ide-ide saya sekarang. Hihihi.. 

Walaupun nilai saya zaman SMA hancur tapi alhamdulillah saya bisa lulus SMA, bahkan bisa kuliah S2 di The University of Sydney lho Pak. Nah, pengalaman saya selama di Sydney itu yang membuat saya gatel pengen komentar tentang pengelolaan kota. Di Sydney, tidak terlihat ada tumpukan sampah di sudut-sudut kota. Tidak ada orang bingung harus buang limbah rumah tangganya di mana, karena semua sudah diatur dengan baik oleh pemerintahnya. Kenapa sih ada orang yang buang sampah sembarangan? Ya karena dia bingung harus buang di mana. Jadi tidak sepenuhnya dia yang salah, pemerintah daerah juga harus membangun sistem manajemen sampah yang baik agar masyarakata tidak bingung. Seperti apakah sistem manajemen sampah yang modern itu? 

Magelang ini kan kota kecil. Masyarakatnya baik-baik pula. Gampang lah untuk atur manajemen sampahnya. Setiap rumah diharuskan menyediakan 2 buah tempat sampah besar yang beroda dan tertutup. Tempat sampah ini berbeda warna dan kegunaan, satu untuk sampah organik dan satunya untuk sampah non organik (yang bisa didaur ulang). 

Tempat sampah baiknya disediakan oleh pemerintah kota supaya standar dan seragam. Masyarakat dapat membelinya di kelurahan. Bagi warga yang tidak mampu dapat diberikan subsidi atau cicilan jangka panjang agar tidak memberatkan. Buat jadwal pengambilan sampah yang berbeda bagi sampah  organik dan non organik. Jadwal bisa menyesuaikan dengan kapasitas mobil sampah dan beban sampah yang harus ditanggung.

 Misalnya untuk kelurahan A sampah organik diambil setiap hari B, sedangkan sampah non organik diambil setiap hari C. Pastikan semua warga kota paham akan hal ini. Pada hari yang ditentukan masyarakat harus membawa tempat sampahnya ke jalan yang dilewati oleh truk sampah di pagi hari. Sorenya harus dimasukkan lagi agar tidak mengganggu pemandangan. 

Sampah harus dipilah sesuai kategorinya, organik dan non organik, tidak boleh dilanggar. Aturan tentu saja tidak akan bisa tegak jika tidak ada sanksi. Aturlah hal ini di dalam perda. Bagi yang melanggar dapat dikenakan denda dalam jumlah yang lumayan agar menimbulkan efek jera. Misalnya ada orang yang salah jadwal organik-non organik, mencampur sampah organik dengan non organik, atau tidak meninggalkan tempat sampahanya di jalan di akhir hari, harus dikenakan denda biar jera.

Sulit memantaunya? Tidak. Kan smart city. Pemantauan ini dapat dilakukan dengan menggunakan aplikasi online sehingga dapat diinput dan dipantau oleh pihak-pihak yang berkepentingan, seperti warga, tukang sampah, lurah, ataupun dinas lingkungan hidup. Ajari masyarakat untuk memilah sampah. Jika sampah sudah terpilah dari awal dan tidak tercampur di proses selanjutnya, mudah bagi pemerintah untuk mengolahnya agar lebih ramah lingkungan. Sampah organik bisa diolah menjadi pupuk dan lain-lain. Sampah non organik bisa didaur ulang menjadi macam-macam. Nah, terdengar mudah bukan? Semoga prakteknya semudah kedengarannya. 

Mari kita tinggalkan sampah. Saatnya bicara tentang transportasi publik.

Transportasi publik di Magelang dilayani oleh angkutan kota. Sebut saja angkot untuk lebih mudahnya. Sudah cukup lama angkot di Magelang sepi penumpang. Masyarakat lebih memilih sepeda motor dan mobil yang lebih efektif dan efisien. Hal ini tidak boleh dibiarkan. Sebaik-baik sistem transportasi adalah transportasi masal yang dapat mengangkut banyak penumpang sehingga mengurangi polusi, lebih sustainable. Tapi bagaimana caranya mengatur angkot yang sedemikian banyak itu agar nyaman? 

Kuncinya ada di sistem kepemilikan angkot yang selama ini dimiliki oleh individu dan bekerja dengan sistem setoran. Persaingan antar sopir dalam mencari penumpang akan menimbulkan ketidaknyamanan. Agar sopir tidak bersaing ya harus diubah sistemnya. 

Semua pemilik angkot itu seharusnya digabungkan dalam satu konsorsium. Sopir jangan disuruh setor, tapi digaji. Kalau digaji, mereka tidak akan rebutan penumpang dan tidak akan ngetem ataupun kebut-kebutan. Pemilik kendaraan mendapatkan bagi hasil dari keuntungan. Keuntungan yang lainnya digunakan untuk perawatan kendaraan agar tetap nyaman. Bagaimana kalau merugi? Di situ peran pemerintah untuk memberi subsidi. Apakah subsidi ini buang-buang uang tanpa guna? Tidak. Pemerintah punya tanggung jawab untuk menjaga kelestarian lingkungan. 

Angkot berjalan berdasarkan jadwal sehingga jarak antar angkot tidak terlalu dekat ataupun jauh. Buatkan check point di beberapa tempat sebagai patokan jadwal. Gunakan RFID atau GPS untuk memantaunya. Bagaimana jika ada sopir yang melanggar? Beri sanksi supaya kapok. Lebih ciamik lagi kalau sistem pembayarannya dengan e-money. Tinggal tap, tidak bingung cari uang kecil atau kembalian. Kartu e-money bisa dijual di beberapa tempat strategis, seperti terminal dan minimarket. Kartu ini bisa ditop up dengan metode-metode yang sudah ada saat ini. 

Selain itu masalah rute juga harus diperhatikan. Perluas layanan angkot hingga ke daerah pemukiman agar masyarakat tidak malas naik angkot. Nah, rute ini juga harus dibuatkan sistem informasi. Jalur apa lewat mana. Terus kalau kita mau ke mana dari mana bisa naik jalur apa. Buatkan aplikasi mobile agar mudah diakses. Itulah gunanya teknologi. 

Nah, kalau sudah terwujud yang begini boleh lah menyebut diri sebagai kota cerdas. Masyarakat hidup lebih nyaman dengan fasilitas publik yang pintar. Saya bayangkan Magelang yang sejuk ini bisa menjadi kota semodern Sydney dan bisa jadi contoh bagi kota-kota lainnya. Bagaimana Pak Walikota? Semoga ide saya bisa menjadi pertimbangan dalam membangun Magelang tercinta ya, langkah nyata untuk mewujudkan Magelang sebagai smart city. 

#Menuju100SmartCity