Mohon tunggu...
alfitra akbar
alfitra akbar Mohon Tunggu... Mahasiswa

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia

Selanjutnya

Tutup

Pemerintahan

Perbandingan Aksi Demonstrasi di Indonesia dan Hong Kong

15 Oktober 2019   06:28 Diperbarui: 15 Oktober 2019   07:46 0 0 0 Mohon Tunggu...

Alfitra Akbar (NPM1906333370)

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Indonesia.

Setelah hampir sekian lama kita tidak melihat gelombang demo secara massive yang datang dari mahasiswa pada akhir bulan September kemarin kita dikejutkan dengan sejumlah aksi yang datang dari mahasiswa Indonesia,menariknya aksi ini digelar hampir secara serentak di berbagai kota di Indonesia dan tuntutan dari aksi-aksi tersebut relatif sama dalam hal tuntutan mereka solid dalam menyatakan sikap menolak RUU KUHP,UU KPK,RUU Pertanahan,RUU Permasyarakatan dan RUU PK-S aksi yang digelar dalam beberapa hari ini mendapat sorotan yang tajam dari masyarakat dan media baik lokal maupun internasional banyak yang membandingkan dengan aksi-aksi di Negara lain seperti di Hong kong.

Secara garis besar aksi di Indonesia dan Hong Kong memiliki beberapa kesamaan dalam hal tuntutan yaitu menolak ditetapkanya Rancangan Undang-Undang (RUU) bedanya para demonstran di Hongkong lebih spesifik menolak satu RUU yaitu RUU Ekstradisi atau lebih lengkapnya disebut The Fugitive Offenders and Mutual Legal Assistance in Criminal Matters Legislation (Amendment)Bill 2019.

RUU Ekstradisi sendiri memang telah lama dibahas di dalam parlemen Hongkong salah satu poin yang menuai protes dari demonstran adalah RUU Ekstradisi ini memungkinkan para kriminal yang tertangkap di Hongkong dikirim dan diadili di China.Hal ini menimbulkan protes dari masyarakat Hongkong karna mengkhawatirkan pengadilan di China berjalan tidak adil dan sebagai negara bekas jajahan Inggris masyarakat Hongkong merasa mereka tidak mau didikte lagi oleh China atau membiarkan pengaruh China terhadap Hong Kong lebih kuat walaupun sebenarnya serta pada tahun 1997 Inggris telah menyerahkan Hong Kong ke China disamping itu kebijakan ini juga akan menggangu keharmonisan hubungan internasional antara Hong Kong dan beberapa negara yang berkonfrontasi langsung dengan China.

Sementara di Indonesia demonstran menyatakan sikap menolak berbagai RUU seperti RUU KUHP,RUU KPK,RUU Pertanahan,RUU Permasyarakatan dan RUU KPK.Banyaknya RUU yang ditolak ini merupakan hasil akumulasi dari kinerja parlemen Indonesia di akhir masa jabatan yang seolah mengejar target untuk mengesahkan beberapa RUU yang dianggap belum matang dan banyak pasal karet yang ada di dalam RUU tersebut,dua RUU yang menjadi sorotan utama dalam aksi demonstrasi ini adalah RUU KPK dan RUU KUHP dua RUU ini dianggap yang paling kontroversial,secara garis besar RUU KPK berpotensi melemahkan institusi KPK itu sendiri dalam rangka menjalankan tugas memberantas korupsi sementara RUU KUHP dianggap banyak pasal karet yang perlu dikaji ulang antara lain pasal yang mengatur hubungan privat antar manusia seperti kumpul kebo,kebebasan pers dan lain-lain.

Dari penjelasan diatas setelah kita bandingkan kita telah melihat persamaan pertama dari aksi yang digelar di Indonesia dan Hong Kong yaitu dalam tuntutan keduanya sama-sama menolak Rancangan Undang-Undang (RUU) yang dikeluarkan oleh pemerintah masing-masing negara tersebut lalu persamaan kedua antara kejadian yang terjadi antar kedua negara adalah untuk sementara gelombang aksi yang mereka lancarkan menuai hasil,di Indonesia akhirnya  ketua dan pimpinan DPR-RI telah sepakat menunda pembahasan berbagai macam RUU diatas yang dianggap kontroversial namun ada satu RUU yaitu RUU KPK yang sudah terlanjur disahkan oleh DPR-RI kini bola panas tentang RUU tersebut berada pada Presiden apakah akan mengeluarkan perppu atau tidak.Sementara di Hong Kong tepatnya pada tanggal 15 Juni pemimpin Hong Kong Carrie Lam memutuskan menunda RUU Ekstradisi ditengah gelombang demonstrasi yang semakin membesar.

Ketiga jika kita lihat persamaan antar aksi yang terjadi di Indonesia dan Hong Kong dari segi jumlah gelombang aksi tersebut merupakan aksi dalam jumlah terbanyak dalam kurun waktu puluhan tahun terakhir seperti yang kita ketahui dalam kasus Indonesia aksi tebesar yang dilakukan mahasiswa adalah pada tahun 1998 ketika mahasiswa berhasil meruntuhkan orde baru yang telah berkuasa selama 32 tahun sementara di Hongkong aksi menyerupai ini secara besar-besaran pernah terjadi pada tahun 1997 saat peristiwa penyerahan Hong Kong ke China kemudian dari segi karakteristik peserta aksi demonstrasi juga terjadi kemiripan antara Indonesia dan Hong Kong aksi di Indonesia diawali dengan aksi elemen-elemen mahasiswa yang tergabung dalam beberapa organisasi eksekutif kemahasiswaan (BEM) kemudian menjalar ke mahasiswa-mahasiswa lainya di universitas tersebut sampai akhirnya merambat hingga gabungan mahasiswa dari beberapa wilayah hingga menjalar ke kota-kota lainya secara serentak gabungan mahasiswa dari bermacam universitas tersebut memusatkan aksi nya di satu titik seperti mahasiswa Jabodetabek-Bandung di gedung DPR-MPR dan mahasiswa Daerah Istimewa Yogyakarta di Gejayan Kabupaten Sleman uniknya jika dibanding sebelumnya pada aksi kali ini terdapat fenomena baru yaitu munculnya peserta aksi dari kalangan pelajar yaitu anak-anak STM yang turut mewarnai aksi.

Situasi yang terjadi di Hong Kong pun relatif sama mahasiswa dan pelajar memegang peranan sentral dalam jalanya aksi protes seperti dilansir kantor berita Reuters mahasiswa berkumpul di salah satu universitas terbesar di Hong Kong secara bergiliran mereka memulai orasi yang berisi protes kepada pemerintah dan membentangkan poster-poster dari panggung yang bertuliskan "Student in unity boycott our city" seiring berjalanya waktu mereka mengancam akan memboikot perkuliahan jika tuntutan tidak dipenuhi oleh pemerintah tuntutan pun bertambah jika sebelumnya hanya menolak UU Ekstradisi yang kontroversial kini mereka juga meminta pemerintah melakukan penyelidikan atas kepolisian setempat atas dugaan pelanggaran dalam menangani aksi massa.

Jika kita bandingkan dari segi perbedaan terlihat ada beberapa perbedaan yang terlihat antar dua aksi demonstrasi antara Indonesia dan Hongkong pertama aksi di Indonesia dari segi karakteristik peserta aksi hanya diikuti oleh kalangan mahasiswa dan pelajar sementara aksi di Hongkong walaupun mahasiswa memgang peranan sentral seperti dalam aksi "Student in Unity Boycott Our City" aksi ini juga melibatkan hampir seluruh elemen-elemen masyarakat lain seperti para pekerja hal ini terlihat dari aksi ratusan pengacara di Hong Kong yang melakukan aksi-aksi protes di jalan raya Hong Kong.

Kedua aksi di Hong Kong berjalan secara berkelanjutan jika kita amati aksi di Hong Kong dimulai pada Maret 2019 pada saat itu jumlah demonstran baru ratusan demo Maret 2019 ini tepat satu bulan setelah Biro Keamanan Hong Kong menyerahkan draf dokumen yang berisi usulan perubahan undang-undang ekstradisi terhitung sampai bulan Oktober ini telah berlangsung beberapa kali aksi demo yang berlangsung rutin di tiap bulan.Sementara aksi di Indonesia mencapai puncak nya pada tanggal 23 dan 24 September aksi ini juga serentak di berbagai tempat namun praktis setelah DPR-RI menunda pembahasan RUU belum ada aksi lagi yang digelar secara massive.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2