Mohon tunggu...
Naufal Alfarras
Naufal Alfarras Mohon Tunggu... Freelancer - leiden is lijden

Blogger. Jurnalis. Penulis. Pesilat. Upaya dalam menghadapi dinamika global di era digitalisasi serta membawa perubahan melalui tulisan. Jika kau bukan anak raja, juga bukan anak ulama besar, maka menulislah. "Dinamika Global dalam Menghadapi Era Digitalisasi" Ig: @naufallfarras

Selanjutnya

Tutup

Politik Pilihan

Suara Kami Mahasiswa Papua dan Pandemi di Tanah Rantau

18 Mei 2020   13:35 Diperbarui: 18 Mei 2020   13:33 236
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi Warga Papua Selama Pandemi (Sumber: republika.co.id)

Sejak 2 Maret 2020, bangsa Indonesia harus menghadapi Pandemi Covid-19 yang berdampak terhadap berbagai sektor kehidupan. Mulai dari kesehatan, ekonomi, keamanan, hingga pendidikan.

Penyebaran Covid-19 yang hampir di seluruh wilayah Indonesia menjadikan pemerintah mengambil kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB). Penerapan kebijakan tersebut menjadikan adanya perubahan pada tatanan dasar kehidupan masyarakat Indonesia dalam sehari-harinya.

Masyarakat Indonesia saat ini harus terbiasa menjalankan aktivitasnya secara online. Kegiatan rapat, proses pembelajaran, aktivitas jual beli, bahkan aktivitas keagamaan juga harus dilaksanakan secara jarak jauh melalui internet.

Pemberlakuan PSBB juga berdampak terhadap adanya pembatasan terhadap operasional trasportasi yang ada, baik itu jalur udara, darat, maupun laut. Pembatasan operasional transportasi yang dilakukan pemerintah tersebut bertujuan murni untuk mencegah penyebaran Covid-19 ke daerah-daerah.

Namun, hal tersebut juga berdampak terhadap para mahasiswa yang tengah merantau di kota lainnya. Para mahasiswa ini terpaksa tidak bisa pulang ke daerahnya masing-masing karena tidak adanya sarana transportasi.

Pemerintah melalui Kemendikbud sudah menerapkan program belajar jarak jauh bagi seluruh jenjang pendidikan. Banyak mahasiswa yang masih bertahan di tempat kosnya karena tidak adanya biaya untuk kembali ke kampung halamannya, selain itu juga disebabkan keterbatasan sarana transportasi yang ada.

Solidaritas Bagi Rekan Mahasiswa Papua

Bagi rekan-rekan mahasiswa yang berasal dari Provinsi Papua maupun Papua Barat, biaya penerbangan dari Jakarta ke Papua saja minimal harus mengeluarkan uang sedikitnya 5 juta rupiah. Biaya ini tentu bukan nominal yang sedikit bagi seorang mahasiswa.

Penulis menilai bahwa selama ini pemerintah berupaya untuk memberikan jaminan kesehatan, ekonomi, serta keamanan bagi seluruh masyarakat. Upaya pemerintah tersebut tercermin dari upaya penyaluran bantuan langsung terhadap masyarakat kurang mampu.

Akan tetapi, upaya pemerintah tersebut tentu masih saja jauh dari kata sempurna. Data kependudukan yang senantiasa berubah dari tahun ke tahun menjadikan sebagian masyarakat belum menerima bantuan yang disalurkan oleh pemerintah.

Terlebih terhadap para mahasiswa perantauan yang seringkali tidak tercatat secara administrasi. Bagi mahasiswa yang berasal dari kota-kota besar di tanah air, mereka mungkin memiliki banyak teman yang berasal dari daerah yang sama.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Politik Selengkapnya
Lihat Politik Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun