Mohon tunggu...
Alex Japalatu
Alex Japalatu Mohon Tunggu... Penulis - Jurnalis

Suka kopi, musik, film dan jalan-jalan. Senang menulis tentang kebiasaan sehari-hari warga di berbagai pelosok Indonesia yang didatangi.

Selanjutnya

Tutup

Diary Pilihan

Kebaikan Ada di Mana-mana

30 November 2022   10:46 Diperbarui: 30 November 2022   10:54 128
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Seorang anak laki-laki memegangi tangan kakaknya karena takut ketika air laut sedang surut  di Pantai Walakeri, Sumba Timur, NTT (Foto:Lex) 

Tahun 1996 saya pernah "nyasar" ke Pulau Sumbawa. Hanya penasaran saja ikut jalan darat dari Yogyakarta, berganti-ganti bus. Rencana awal mau ikut bus malam sampai Flores. Atau setidaknya sampai di penyeberangan Selat Sape.

Masih dalam rencana, kalau ada Kapal Ferry ke Waikelo di Sumba, saya akan naik dari Sape. Kalau tidak ada, saya mau terus ke Labuhan Bajo, dan belum tahu mau menyeberang dari Pelabuhan mana untuk mencapai Sumba? Jangan berpikir bahwa saya punya uang banyak. Uang di kantong saya hanya tersisa 40 ribu rupiah.

Berganti-ganti bus dari Yogya ke Surabaya ke Banyuwangi hingga Bali.  Dan dari Bali saya naik bus Safari Dharma Raya tujuan Bima. Waktu itu ada armada PO Safari yang melayani rute Jakarta- Bima. Sebab dari Bali saya naik yang berangkat dari Jakarta.

Dari Bali kami menyeberang beberapa kali dengan ferry. Padang Bai, Lembar, lalu terus ke Bima. Duduk di samping saya adalah seorang remaja. Kami sama-sama naik dari Bali. Namanya Bavin. Usianya lebih muda dua tahun dari saya. Ia baru 18 tahun. Tetapi ia sudah merantau ke Bali sejak usia 13 tahun. Ia berjualan koran. Kami jadi akrab karena perjalanan yang lama, sehari-semalam.

Keraguan mulai melanda saya pas turun makan di terminal di Mataram. Apakah saya akan lanjut ke Flores atau tidak? Bagaimana pun baru sekali itu saya jalan sendirian. Tanpa teman yang dikenal. Saya ngobrol dengan Bavin. Ternyata rumahnya di dekat Bandara Sultan Muhammad Salahuddin, Bima. Menurut dia bisa naik bus saja ke sana. Hanya berjarak 30 menit. Akhirnya dinihari itu saya ikut turun di rumahnya sembari berdoa dalam hati, "Semoga teman ini orang baik."

Rumahnya berada di pinggir jalan besar itu. Tas saya disimpan. Dia mengajak saya ketemu ayahnya yang sedang menjaga tambak bandeng. Kami berjalan kaki sekitar lima menit. Saya ingat, waktu itu bulan puasa. Dalam kondisi sangat lapar pada dinihari itu, saya ikut berbuka puasa. Nasi hangat dan bandeng bakar. Itu makanan paling nikmat yang pernah saya rasakan.

Peta Provinsi NTB (Sumber:peta-hd.com) 
Peta Provinsi NTB (Sumber:peta-hd.com) 

Esok pagi Bavin mengantar saya ke bandara. Kami naik bus mini. Bersama kakak perempuannya. Sayang sekali pesawat Merpati tidak terbang ke Tambolaka hari Senin itu. Penerbangan berikutnya baru ada pada hari Kamis. Saya mulai khawatir. Di mana harus tinggal untuk tiga hari tersisa menanti pesawat? Bavin minta kami pulang saja ke rumahnya. Menunggu sampai Kamis. Saya agak tidak enak hati. Saya merasa akan merepotkan saja.

Tiba-tiba di depan saya seperti ada sosok yang pernah saya kenal. Saya memeras ingatan saya. Di Sumba, ya di Sumba saya pernah bertemu orang ini. Saya kumpulkan keberanian. Saya yakin dia seorang pastor.

" Bapa, pastor?" tanya saya.

" Betul."

"Pernah di Sumba?"

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Diary Selengkapnya
Lihat Diary Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun