Mohon tunggu...
Aldila Paramita
Aldila Paramita Mohon Tunggu... Penyuluh Kehutanan Taman National Gunung Merapi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan

Pegawai negeri sipil dan ibu rumah tangga

Selanjutnya

Tutup

Wisata Pilihan

Dampak Covid-19 terhadap Wisata Alam Kawasan Konservasi

30 Juli 2020   07:12 Diperbarui: 30 Juli 2020   07:27 139 4 1 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Dampak Covid-19 terhadap Wisata Alam Kawasan Konservasi
travel.tempo.co

Rasanya Tahun 2020 merupakan tahun yang sangat luar biasa di mana sampai dengan detik ini kita masih diberikan tantangan untuk memerangi suatu permasalahan dengan virus yang sangat hebat yaitu corona.

Dampak yang dirasa sangat terasa diantaranya adalah dampak ekonomi. Ekonomi yang ada menurun dikarenakan salah satunya banyaknya tempat-tempat wisata yang ditutup termasuk beberapa Kawasan konservasi

Kawasan konservasi yang mempunyai objek wisata alam (OWA) terkena imbas untuk ditutup sebagaimana arahan Menteri Lingkungan Hidup Kehutanan (LHK) dalam Surat Edaran Nomor SE.1/MENLHK/SETJEN/SET.1/3/2020 tentang Pencegahan Penyebaran Corona Virus Disease 2019 di Kementerian LHK. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi dalam pencegahan atas virus corona agar tidak menyebar luas.

Kawasan Konservasi yang ada di Indonesia mempunyai areal yang berpotensi dikunjungi baik wisatawan mancanegara maupun wisatawan lokal mengingat terdapat 54 Taman Nasional (TN), 134 Taman Wisata Alam, 34 Tahura, dan 80 Suaka Margasatwa yang berdasarkan Data KLHK bahwa pengunjung yang ada Tahun 2019 yaitu sebanyak 7.878.106 orang.

Pengembangan wisata kawasan konservasi mempunyai daya tarik sendiri terlihat dari keanekaragaman hayati (flora dan fauna), keindahan alam, adat dan budaya yang dimiliki masing-masing masyarakat yang ada di sekitarnya.

Namun pengembangan wisata kawasan konservasi ini terkena dampak pandemi covid-19 yang memberikan ruang beberapa kawasan wisata alam ditutup sementara. 

Dampak langsung wisata alam yaitu pendapatan masyarakat selaku pelaku usaha penyediaan jasa wisata alam dan juga pendapatan negara bukan pajak menjadi turun (PNBP). 

Penurunan pengunjung menjadi sebesar 11,75% di bulan Januari s.d Februari 2020. Beberapa kawasan konservasi yang ditutup untuk kunjungan wisata, baik domestik maupun mancanegara seperti TN Bromo Tengger Semeru, TN Gunung Merapi, dan TN lainnya.

Penurunan pengunjung juga dirasakan oleh TN Gunung Merapi yang mempunyai 7 (tujuh) objek wisata alam dan yang paling terkenal yaitu OWA Nirmolo dan Muncar. Pandemi covid-19 ini mengakibatkan turunannya pengunjung lebih dari 50% antara bulan Februari s.d Maret 2020. Penurunan pengunjung OWA juga akan berimbas pada penurunan PNBP.

Penurunan PNBP akibat covid-19 di salah satu taman nasional sangat terasa yang capaian PNBP bisa mencapai 2 milyar namun karena dampak menurun hingga 700 juta, penurunan yang ada hingga 65%. 

Namun setelah surat edaran untuk penutupan wisata alam diedarkan sehingga tidak ada pemasukan PNBP dan juga sangat berdampak kepada pendapatan masyarakat. "Pendapatan sangat menurun akibat dampak covid-19 bahkan kami mengalihkan mata pencaharian kami menjadi petani" pernyataan Eko selaku penggiat wisata di Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).

Dampak sangat terasa juga dialami para pegiata wisata lainnya namun hal ini tetap dilaksanakan dan diperlukan dukungan semua pihak untuk memutus tali rantai covid-19. Mengingat, salah satu cara penyebaran virus corona yang mudah dan gampang tersebar dan destinasi wisata merupakan tempat yang rentan dan beresiko tinggi.

Terkadang masih ada saja pengunjung yang akan datang untuk melakukan wisata namun masyarakat memberikan sosialisasi kepada pengunjung yang akan melakukan wisata. 

"Kami keberatan jika ada pengunjung yang datang karena wisata alam di TNGM ditutup sejak adanya pandemi covid-19," ujar widi penggiat konservasi di desa penyangga kawasan TNGM.

Berkaitan dengan hal tersebut, saat ini pemerintah sedang bersiap untuk "new normal", arahan ini mengikuti anjuran Presiden RI Joko Widodo yang menyatakan bahwa "kehidupan kita sudah pasti berubah untuk mengatasi risiko wabah ini, itu keniscayaan. 

Itulah yang oleh banyak orang disebut sebagai new normal atau tatanan kehidupan baru" (dalam pernyataan resmi di Istana Merdeka) sehingga imbas yang ada akan bertahap untuk membuka areal-areal untuk pemulihan ekonomi, salah satunya tempat wisata.

Tempat wisata yang berada di kawasan konservasi, sedikit demi sedikit akan dibuka dengan mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung kawasan. Hal ini melihat berapa banyak wisatawan yang mampu ditampung oleh tempat wisata dengan jarak serta SOP/peraturan yang diberikan agar pengunjung dapat berwisata. 

Namun areal wisata yang akan dibuka disesuaikan dengan kondisi daerah serta akan dilakukan secara bertahap. Pertimbangan akan dibukanya kembali wisata harus diperhitungkan secara bijak. Mengingat, banyak nya hal-hal teknis yang perlu dipersiapkan sehingga wisata dapat memberikan dampak positif baik untuk ekonomi, alam dan manusia.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x